GREY IN BREGAGH ROAD
Grey terus berlari sekuat tenaga menyusuri deretan pohoh-pohon tua yang mengepung di sisi kiri dan kanan bagai hendak menerkam. Grey tak tahu tengah berada di mana, yang ia tahu sesuatu mengancamnya. Grey terus berlari dengan napas memburu, panik. Grey tak mau menoleh ke belakang karena dirinya tahu bahwa yang mengejarnya adalah sosok yang sangat mengerikan.
Hingga tibalah Grey di deretan pohon terakhir yang akarnya sedikit menyembul. Grey tersandung, tubuhnya tersungkur. Grey mencoba bangkit, namun tak bisa meski seluruh tenaga telah dikeluarkan. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari dahi Grey. Dia ingin berteriak tapi percuma tak ada suara yang berhasil ke luar. Sesuatu yang mengejarnya terus mendekat. Badannya bergetar hebat. Grey akhirnya pasrah apapun yang akan terjadi padanya.
“AAaahhh!!!”
Grey terbangun dari mimpi buruk. Terduduk dengan keringat dingin mengucur membasahi tubuhnya. Napasnya terengah-engah. Jantungnya berdegup keras. Tenggorokannya terasa kering. Grey meraih gelas berisi air putih yang sengaja ia siapkan sebelum tidur lalu meminumnya. Berharap dengan meminum air ini tak hanya dapat menghilangkan rasa dahaganya sekaligus juga dapat menenangkan pikirannya. Grey melirik ke samping. Jam meja kamarnya menunjukkan pukul tiga pagi. Untuk beberapa detik Grey menata kembali napasnya. Setelah merasa sedikit tenang. Grey mencoba merebahkan tubuhnya di ranjang. Sebenarnya dia masih terlalu takut untuk kembali tidur. Takut jika mimpi itu datang lagi. Dan benar saja mimpi itu datang lagi.
Grey mencoba mengatur lensa kameranya. Cuaca yang mendukung sangat pas untuk menyalurkan hobi fotografinya. Selain itu Grey berharap ia dapat melupakan mimpi buruknya semalam yang sudah tiga kali berhasil menghantui tidurnya. Grey tak mau ambil pusing untuk sibuk menerjemahkan arti mimpi tersebut, meski Grey tahu jika mimpi buruk yang sama datang tiga kali berturut-turut itu menandakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Percaya atau tidak, yang jelas begitulah kata Neneknya.
Apalagi hari ini Grey berada di tempat yang paling indah yang pernah dia temukan di dunia. Terletak di sebuah desa kecil benama Armoy, Irlandia Utara. Tepatnya di Bregagh Road. Jalan di sini memiliki pemandangan yang artistik dan mempesona. Sepanjang jalan terlihat banyaknya pohon-pohon Beech yang diperkirakan berusia 300 tahun. Jalinan ranting pepohonan meliuk membentuk seperti atap rumah. Cahaya matahari mengintip dari sela-sela pertautan ranting, seakan menjadi payung raksasa yang siap melindungi makhluk di bawahnya. Tampaknya Grey tak tahan jika hanya mengagumi tempat ini saja. Kameranya mulai membidik setiap sudut pepohonan. Indah sekali. Sesekali Grey memeriksa ulang hasil jepretannya dibarengi senyum Grey yang tersungging penuh kepuasan.
Tak terasa sore datang menyapa. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tak enak. Pohon-pohon seakan bermata dan menatap Grey. Sebuah tatapan yang tidak menyenangkan. Angin berhembus menampar ranting-ranting pohon mengabarkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Tiba-tiba dari kejauhan terbang berkelebat dengan cepat sesosok tubuh menyeberangi jalan. Tubuh itu melayang menyerupai siluet hitam. Grey terkejut. Namun Grey bersikap seolah tak peduli. Mungkin hanya halusinasinya saja. Grey akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel tempatnya menginap. Tiba-tiba terdengar samar-samar seseorang memanggil dirinya.
“Grey… Grey….”
Suara yang memanggilnya terdengar serak. Grey menghentikan langkahnya. Bulu kuduk Grey berdiri. Napasnya mulai tak teratur. Grey tak menyadari sesuatu telah berdiri di belakangnya. Sebenarnya Grey tak cukup punya keberanian. Namun rasa penasarannya lebih besar ketimbang tasa takutnya. Grey segera melihat ke belakang. Tak ada apa-apa. Grey lega.
Sosok itu kembali muncul ketika Grey menoleh kembali ke depan. Grey tercekat. Keduanya beradu muka. Grey melotot, hendak mundur tapi kakinya terasa kaku tak mampu digerakkan seperti tertahan oleh sesuatu. Di hadapannya berdiri seorang perempuan yang kulit mukanya penuh retakan-retakan bekas sayatan, masih mengeluarkan nanah segar bercampur darah. Urat nadinya menyembul mengerikan. Matanya hitam gelap lantang menatap Grey. Sosok itu menyeringai seolah ingin tersenyum tapi tiba-tiba saja darah kental ke luar dari mulutnya hingga mengalir ke dagunya. Grey terkesiap antara jijik, mual, dan takut lebur menjadi satu. Sontak Grey berlari dengan mencurahkan seluruh tenaganya yang tersisa namun ia tersungkur. Untung saja Grey bisa bangkit lagi. Sesekali Grey menoleh ke belakang. Sosok perempuan itu terus menatapnya lantang. Kali ini Grey dibiarkan selamat.
—
Segelas cappuccino hangat di pagi yang berawan ini mungkin sedikit bisa menenangkan hati dan pikiran Grey yang gelisah. Sebuah tanda tanya besar mengendap di benak Grey.
“Kenapa hanya aku yang diganggu?” hati Grey bergejolak.
Ya, pertanyaan sederhana namun butuh kerumitan untuk menjawabnya. Bagaimana tidak, kejadian kemarin juga mengingatkan Grey akan mimpi yang akhir-akhir ini selalu hadir dalam tidurnya. Apa ada kaitannya? Untuk dapat jawabannya Grey banyak bertanya pada penduduk sekitar tentang rahasia tempat itu.
Deretan pohon rindang di Bregagh Road adalah pohon Beech yang dahulu ditanam oleh keluarga Stuart sekitar abad ke-18 dengan tujuan untuk menciptakan gerbang yang indah menuju rumah bangsawan itu. Pohon yang tumbuh memang membuat jalan semakin indah akan tetapi dalam musim yang berbeda suasana bisa berubah mistis dan mencekam. Tak ayal penduduk setempat menamainya dengan The Dark Hedges. Di tempat itu juga terdapat sebuah legenda kemunculan sesosok hantu wanita bernama Grey Lady. Beberapa orang mengatakan hantu itu adalah seorang pembantu keluarga Stuart yang mati secara misterius.
“Tapi itu hanya mitos belaka. Sampai saat ini cerita itu belum terbukti kebenarannya..” Begitulah kata-kata yang dikeluarkan semua orang seusai menceritakan keangkeran tempat itu.
“Bagi mereka hanya mitos. Tapi kenapa mitos itu terbukti padaku?” keluh Grey.
Hatinya bertambah gelisah. Terlebih Grey harus mengambil kalung pemberian Ibunya yang sangat berharga, yang mungkin terjatuh saat Grey berlari menghindar dari sosok mengerikan itu. Masih terbayang oleh Grey matanya yang hitam dan sayatan-sayatan mengerikan di wajah perempuan itu. Tapi mau bagaimana lagi, suka tak suka Grey harus kembali ke Bregagh Road. Grey menghela napas pajang. Lalu menyeruput cappuccino yang sudah dingin. Seseorang memperhatikan Grey dari kejauhan.
Rinai hujan menyapa sore ini. Payung hitam melindungi Grey dari rintik airnya. Angin berhembus dingin menusuk tulang. Grey meneliti lebih detail setiap lengkung pohon Beech yang saat ini tampak sedikit bersahabat dengannya. Kali ini Grey bisa tenang karena sore ini dirinya tak sendiri. Paling tidak jika sosok mengerikan itu muncul lagi dia tahu akan ada orang yang menolongnya. Keindahan Bregagh Road tengah dilukis oleh seorang perempuan yang khusuk memainkan kuas meliuk-liuk di atas kanvas putih, pohon Beech melindunginya dari hujan. Perempuan itu tersenyum puas saat liukan pohon Beech berhasil dilukisnya dengan sempurna. Senyum itu sama ketika aku berhasil membidik Bregagh Road dengan sempurna. Grey tak mengenali siapa perempuan itu. “Mungkin dia turis sama sepertiku,” pikir Grey.
Grey mulai mencari kalungnya. Kalung berharga pemberian Ibunya sebelum beliau meninggal. Kalung itu berbandul perak bertuliskan namanya. Grey menaruh harapan besar jika kalung itu masih bisa ditemukan. Karena lewat kalung itu dirinya bisa selalu dekat dengan mendiang Ibunya. Grey merunduk mengamati jalanan sekitar Bregagh Road, fokus mencari-cari. Lama juga ia mencari hingga saat matahari membenamkan sinarnya. Grey meneliti setiap celah pohon-pohon Beech, tak ada. Grey hampir putus asa. Telapak tangannya mengusap wajahnya menghapus kegundahan. Sebenarnya Grey tak mau berlama-lama di sini. Selain suasana semakin gelap, Grey merasa ada yang tengah mengawasinya.
“Kamu mencari ini?” sang pelukis perempuan buka suara sambil memperlihatkan kalung berbantul nama, “Grey..”
Grey berbalik dan melangkahkan kakinya mendekati perempuan itu. Grey memperhatikan kalung di tangan perempuan itu dengan seksama.
“Iya benar kalung itu punya saya,” ucap Grey saat benar-benar yakin bahwa itu adalah kalung miliknya. “Kamu dapat kalung itu dimana?” lanjut Grey.
“Kalung kamu saya temukan di sini. Nama kamu Grey?” kata perempuan itu.
“Iya,” jawab Grey canggung. “Boleh saya minta kembali kalungnya?” tanya Grey selanjutnya.
“Aku dengan senang hati mengembalikkan kalungmu, jika kamu bersedia menemaniku melukis,” pinta perempuan itu.
Grey tampak ragu. Apa tidak berbahaya jika menuruti permintaan orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Tapi kalung kesayangannya saat ini berada di tangan orang yang tidak dikenalnya itu. Grey menghela napas panjang, mau tak mau akhirnya Grey duduk di samping perempuan itu untuk melihatnya melukis. Namun semakin Grey perhatikan lukisan karya perempuan itu, Grey merasa ada sesuatu yang janggal. Di dalam lukisannya yang indah, di antara deretan pohon Beech yang tersusun rapi ada sesosok perempuan berbaju hitam tengah menantang di tengah jalan Bregagh Road. Tiba-tiba bulu kuduk Grey merinding. Pikiran Grey mulai kalut. Hatinya berkecamuk.
“Ii… ini… siapa?” tanya Grey seraya menunjuk lukisan yang dimaksud dengan rasa gugup bercampur ketakutan.
“Kamu tidak tahu ini siapa?” perempuan itu balik bertanya.
Grey menggeleng. Angin tiba-tiba berhembus kencang membawa kabar buruk, menampar ranting dan dedaunan yang berubah kacau. Menimbulkan suara mistis dengan dendangan maut. Lampu jalan tak lagi terang sempurna. Hidup mati hidup mati. Berkedip tak berhenti. Grey panik. Napasnya memburu sesak. Grey lalu menoleh ke arah perempuan di sampingnya.
“Grey….” ucap perempuan itu serak.
Perlahan perempuan itu memutar kepalanya. Wajahnya telah berubah. Wajah itu kini dipenuhi retakan bekas sayatan-sayatan bernanah mengeluarkan belatung-belatung kecil yang menjijikkan. Matanya hitam menantang. Grey beringsut mundur menjauhi perempuan itu.
“Kenapa kamu hanya menggangguku? Apa karena aku dan kamu adalah Grey?” Grey berteriak lantang. Sosok itu menyeringai jahat. Perempuan itu lalu mengejar Grey. Ini sama seperti di mimpinya.
Grey terus berlari sekuat tenaga menyusuri deretan pohoh-pohon tua yang mengepung di sisi kiri dan kanan bagai hendak menerkam. Kali ini Grey tahu tengah berada di mana, dan sesuatu mengancamnya. Grey terus berlari dengan napas memburu, panik. Grey tak mau menoleh ke belakang karena dirinya tahu bahwa yang mengejarnya adalah sosok yang sangat mengerikan. Hingga tibalah Grey di deretan pohon terakhir yang akarnya sedikit menyembul. Grey tersandung, tubuhnya tersungkur. Grey mencoba bangkit, namun tak bisa meski seluruh tenaga telah dikeluarkan. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari dahi Grey. Dia ingin berteriak tapi percuma tak ada suara yang berhasil ke luar. Sesuatu yang mengejarnya terus mendekat. Badannya bergetar hebat. Grey akhirnya pasrah apapun yang akan terjadi padanya.
“AAaahhh!!!”
The End

0 komentar:
Post a Comment