GARA GARA KETIDAKSELESAIAN CERPEN (PART 2)

Posted By Cerpen universal on Monday, May 11, 2020 | May 11, 2020

GARA GARA KETIDAKSELESAIAN CERPEN (PART 2)

Di mana aku? Surga atau Neraka?

Aku merasakan kecupan manis di keningku. Mungkinkah itu kecupan nenek yang sudah meninggal liburan kemarin? Mungkinkah aku berada di samping Tuhan, atau tepatnya di Surga? Aku membuka mata, berharap akan melihat pemandangan terindah. Ternyata tidak seperti yang kuharapkan. Ada tirai hijau di samping kanan-kiriku, dan orang dengan baju putih berjalan kesana kemari. Di hadapanku, ibu sedang duduk di atas tempat tidur yang kutiduri. “Bu? Inikah Surga?” dengan bodohnya aku bertanya. “Oh, kau sudah bangun.” Katanya sambil mengelus rambutku. “Kita di UGD.” Kata ibu singkat. Audy, bodohnya dirimu. Tentu saja ini rumah sakit, dengan dokter-dokter di depan mataku. Kau ini seperti anak kecil saja, padahal kenyataannya, aku sudah 13 tahun. Tadi, aku menangis di pelukan ibu, lalu sebelumnya… sebelumnya, Oh ya! Hantu-hantu itu! Kemana mereka? Bukannya mengharap mereka datang lagi, tapi, kuharap mereka sudah tiada. “Kenapa ibu membawaku kesini?” tanyaku. “Habis, tadi kau menangis seheboh itu, dan ibu pikir kau pingsan. Badanmu juga agak panas, dan detak jantungmu cepat sekali tadi. Kau membuat ibu panik, tahu!” jelas ibu sambil mencubit pipiku.

Tak lama kemudian, seorang suster menghampiri sambil membawakan cangkir kecil. “Diminum ya teh hangatnya. Semoga membaik.” Katanya dengan senyum, lalu berlalu. “Ibu mau ke kantin. Mau nitip apa?” Tanya ibu. “Apa saja.” Jawabku. “Oke. Ibu tinggal sebentar ya.” Kata ibu, lalu ia menghilang dari pandangan.

“Teriakanku makin kencang. “IBUUUUUU! SIAPA SAJA, TOLOONG!!” jeritku. Salah satu hantu memasuki tubuhku. AAAH, mungkinkah ini akhir dari segalanya? Saat berfikir yang tidak-tidak, ibu dengan santai masuk kamarku. Dengan mudahnya, ibu menembus makhluk-makhluk itu dan duduk di tempat tidur. “Mimpi buruk, sayang?” tanyanya kalem. “IBUUU!!!”” Memori mengenai kejadian tadi terngiang di kepalaku. Aku juga masih bertanya tanya; apa hanya aku yang bisa melihat hantu? Huh. Tapi, tunggu. Skyla juga bisa melihatnya. Skyla, tokoh di dalam ceritaku! Ya, aku dan Skyla mengalami kejadian yang serupa. Pertanda apakah ini? Setelah menghabiskan beberapa menit untuk berpikir keras, aku menemukan jawabannya. Itu dia! Skyla adalah diriku dan aku adalah Skyla! Makhluk-makhluk menyeramkan itu datang kepadaku karena ketidakselesaian ceritaku. Aku membiarkan ceritanya menggantung dan menunggu ending yang sempurna. Karena hantu-hantu itu kubiarkan menghantui Skyla, akhirnya hantu itu datang padaku juga. Mungkin mereka ingin ending yang bahagia, seperti mengembalikan mereka ke tempat asal mereka dan berjanji tidak akan ada yang ditakuti atau takut satu sama lain. Ha! Itu jawabannya! Itu adalah akhir dari ceritaku yang belum kutamatkan! Audy, kau jenius!

Tak lama kemudian, ibu datang dengan sekantung makanan ringan. “Ibu! Waktu yang tepat. Ayo, bu, kita pulang sekarang juga. Aku mau pulang sekarang juga.” Aku bersikeras. “Lho, kamu kan belum diperiksa dokter.” Kata ibu heran. “Tidak perlu. Aku sehat. I’m totally fine. Aku butuh ke rumah sekarang. Jika tidak, mungkin aku malah jadi tambah sakit.” Ucapku. Ibu tetap memandangku heran. “Aku jelaskan nanti. Please? Ibuku, yang paling cantik sedunia, yang baik, yang pintar, tolong antarkan aku ke rumah.” Aku memuji ibu. Hei, pujianku berhasil! Ibu bersiap-siap dan mengambil kunci mobilnya. Aku disuruhnya ke mobil duluan karena ibu ada urusan dengan suster atau apalah itu.

Sesampainya di rumah, aku berlari ke kamar dan membuka laptopku. Dalam hati aku berharap hantu-hantu itu tidak menggangguku. Aku membuka ceritaku dan mengetik ending. “Kini, tidak ada lagi hantu dan arwah yang berani menakuti Skyla lagi. Skyla yang jarang berdoa berubah menjadi Skyla yang rutin berdoa. Bahkan, hantu-hantu itu meminta maaf dan berjanji akan menolong Skyla pada waktu yang tepat. TAMAT.” Akhirnya! Tamat juga ceritaku! Aku tahu, cerita ini bukan cerita yang amat sangat menarik seperti cerita karangan penulis pro. At least, cerita ini tamat sekarang. Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku segera mengirimkan karyaku ke majalah. Setelah selesai dengan urusan cerita ini, aku menghela nafas dan terhenyak di kasurku tercinta. Ehm, di ceritaku, Skyla yang jarang berdoa berubah menjadi rajin dan rutin berdoa. Benar, aku pun jarang berdoa. Jadi, untuk benar-benar mengembalikan hantu-hantu itu, haruskah aku rajin berdoa? Tidak ada larangan untuk berdoa, jadi aku segera mengambil peralatan dan berdoa khusyuk sekali.

Setelah selesai memohon ampun dan bersyukur terhadap Tuhan, aku bertekad bulat untuk tidur dan mengistirahatkan pikiranku sejenak. Namun, ada sesuatu yang aneh di kamar. Mataku melotot, mulutku hendak berteriak sekencang mungkin, tapi kukurungkan niatku. Para hantu berkumpul tepat di hadapanku dan anehnya hantu-hantu itu tersenyum! What a miracle! Hantu itu tidak melayang, mereka berdiri dan berbaris rapi selayaknya manusia. “Hai.” Kataku canggung. Tiba-tiba, sesuatu membuat wajahku basah terkena air mata. Hatiku meleleh melihat arwah nenekku tersenyum dan maju ke depan hantu lain. Aku ingin memeluknya, namun, toh aku hanya bisa memeluk udara dingin. “Oma, a-ade ka-kangen, Oma. Hiks, Oma kenapa pe-pe-pergi?” tanyaku sambil terisak. Aku terduduk di lantai. “Karena memang sudah waktunya, sayang. Oma kangen sama ade, juga sama ibumu, ayahmu, dan kakak. Maafin Oma ya sama temen-temen Oma disana.” Jawabnya dengan suara terlembut yang pernah kudengar. Aku benar-benar terkejut dengan jawaban nenek. Kulirik hantu-hantu di belakang oma. Mereka sama sekali tidak menyeramkan. Wajah mereka terlihat ramah dan penuh senyum! “Itu kawan Oma dari Surga?” tanyaku polos. Nenekku mengangguk sambil tersenyum. “Ke-kenapa Oma kemari? Kenapa Oma nakutin ade?” tanyaku. Akhirnya akan kudapat jawabannya. Jawaban dari segala hal aneh selama ini. “Maaf, ade. Kami datang untuk memberi pelajaran untuk ade. Oma belum sempat ngasih ade pelajaran waktu Oma hidup. Oma sibuk sendiri sama urusan Oma. Maaf ya? Oma paling nggak suka kalau ada orang yang suka menunda-nunda sesuatu. Apalagi cerita keren punya ade itu. Oma tau, cerita ade pasti memberi kesuksesan besar.” Mataku berbinar-binar mendengarnya. “Kami ingin membuat ade sukses. Kami sayang sama ade Oma. Lihat, kawan-kawan Oma ini sebenarnya generasi keluarga kita dulu dan dulu sekali. Mereka semua adalah keluarga ade.” Jelas Oma sambil mengusap kepalaku. Tentu saja, aku tidak merasakan apa-apa. “Waktunya pergi. Oma yakin ade bisa sukses besar di masa depan. Jaga diri baik-baik ya. Oma sayang ade!” kata Oma. Beliau melayang tinggi, sampai menembus langit-langit kamarku. “Aku sayang Oma juga.” Bisikku sambil menatap langit-langit kosong. Hantu lain menghampiriku. Ternyata beliau adalah ayahanda Omaku. Beliau meminta maaf dan mengharapkan kebahagiaan selamanya. Setelah itu beliau menghilang ke atas langit-langit.

Begitu juga dengan arwah lain. Mereka mengantre untuk berpamitan dan minta maaf kepadaku. Oh, sungguh baik! Akhirnya, arwah terakhir datang kepadaku. Hei, ia terlihat muda. Tunggu! Bukankah ia sepupuku, kak Don? “Hai! Ingat aku kan? Aku Don. Hei, jangan kaget dulu. Aku tidak mati, yah… tepatnya belum. Ingat kan kecelakaan yang menimpaku bulan lalu? Aku koma, Audy. Sungguh, aku kangen padamu. Maaf atas perbuatanku. Maaf sebesar-besarnya. Untuk menebusnya, coba ucapkan satu keinginan terbesarmu. Semoga saja bisa kupenuhi.” Kata arwah kak Don. “Kakak… kakak tidak perlu menebusnya.” Jawabku lirih. “Maafkan aku, Audy. Kumohon, sebelum aku tiada, izinkan aku membahagiakanmu.” Katanya sambil menyentuh pundakku. “Aku tidak mau mainan dan benda-benda lainnya. Kini, keinginan terbesarku adalah kehidupanmu.” Kak Don terdiam. “Aku tidak tahu kalau itu di luar kuasamu atau tidak, tapi kehidupanmu sangat berarti bagiku.” Lanjutku. Aku menatap kedua mata kak Don dengan serius. “Permintaanmu sungguh mulia, Audy. Karena ini menjadi janjiku untuk memenuhi keinginanmu, baiklah. Tapi sebelumnya, maaf jika tidak bisa kupenuhi. Sekarang aku pergi dulu ya. Love you!” katanya, lalu ia melayang tinggi dan menghilang. Ya Tuhan, aku sangat bersyukur atas kejadian barusan! Aku ambruk di tempat tidurku dan bermimpi sedang bermain-main bersama Kak Don semua orang yang sangat kusayangi. Memang bukan mimpi yang menarik, tapi itu sangat berarti bagiku.

Beberapa hari kemudian, aku dan keluargaku mengunjungi kak Don di rumah sakit, entah ia sudah sadar atau belum. Oh ya, soal hantu-hantu tempo hari lalu, aku merahasiakannya. Lagipula, aku tidak benar-benar mengganggap mereka nyata. Mungkin hanya khayalanku karena terlalu merindukan oma dan kak Don. Setibanya di kamar kak Don di rumah sakit, aku kaget karena banyak sekali suster dan keluarga kakak sepupuku itu berkerumun di sekelilingnya. Aku mendekati tempat tidur kak Don dan… aku tidak memercayai mataku! Kak Don baru saja menatapku balik! Ia hidup! Puji Tuhan! Aku hanya bisa menangis bahagia. Tiba-tiba, tante Cika menepuk pundakku dan mengajakku ke luar dari kerumunan. Dia adalah ibu Kak Don. Mukanya basah terkena air mata. “Tante seneng banget, Audy. Tuhan memang maha kuasa ya?”, lalu kami duduk di sofa kamar. “Aku turut bahagia, tante.” Kataku sambil mengusap air mata. “Tahu tidak, semalam Don sempat mengigau lho. Kau pasti tidak percaya hal ini!” kata tante Cika antusias. Aku pun penasaran dibuatnya “Oh ya? Memang Don bilang apa dalam tidurnya?” tanyaku. “Dia berkata sesuatu tentang roh leluhur kita, para hantu, kamarmu, dan kau! “Aku mau hidup. Aku mau Audy bahagia.” Kira-kira itulah yang diucapkannya.” Jelas tanteku. Para hantu, roh leluhur, dan kamarku? Jadi roh kak Don benar-benar ada di kamarku hari itu? Belum sempat aku memikirkan yang lain, Om Fajar, ayah kak Don memanggilku. Katanya, Don ingin menemuiku. Akhirnya kak Don masih bisa bernafas lagi!

“Seperti janjiku, aku akan memenuhi keinginanmu, yaitu kehidupanku!” ucap kak Don sambil tersenyum simpul. Butuh beberapa saat untuk mencerna omongannya. “Kapan aku mengatakan keinginanku, kak?” tanyaku ingin tahu. “Tentu saja di kamarmu. Aku disana bersama Oma dan para roh leluhur lainnya. Masa kau lupa?” katanya. “Jadi itu benar rohmu yang memasuki kamarku? Juga roh oma? Aku tidak percaya!” kataku. Kak Don menarik nafas. “Kau boleh saja tidak percaya, tapi sungguh, aku benar-benar hadir di kamarmu waktu itu. Aku ingat betul permintaanmu.” Katanya. “Well, o…oke. Bagaimanapun, aku senang kakak masih bisa bernafas lagi.” Kataku singkat. Para tamu yang hadir melongo saat mendengar percakapan kami. Hehehe, biarlah. Sejak saat itu, kak Don selalu sehat dan bugar. Aku juga sempat berbincang dengan Victor dan akhirnya kami berteman lagi! Aku pun berhasil menerbitkan karyaku (yang isinya mirip dengan kisahku) ke majalah! Aku mendapat komentar-komentar positif dari pembaca ceritaku. Seperti kata oma, ceritaku memang benar-benar membawa kesuksesan besar! Ah, satu hal lagi, oma sering mengunjungiku tiap malam untuk berbincang denganku. Apakah ini hanya khayalanku? Aku tidak peduli.

TAMAT
Blog, Updated at: May 11, 2020

0 komentar:

Post a Comment