GARA GARA KETIDAKSELESAIAN CERPEN (PART 1)
“Huh…” aku menghela nafas berat. “Pikiranku buntu.” Buntu! Buntu sama sekali! Baru saja dua hari yang lalu aku menciptakan cerpen horror ini, dan sekarang aku tidak bisa mengakhirinya. Padahal sedikit lagi cerpen ini akan tamat dan akan kupublikasikan ke majalah favoritku. Menyebalkan. Aku menutup laptopku dan langsung terlelap di balik selimut, membayangkan apa yang akan terjadi Senin besok. Yeah, Senin menyebalkan. Selamat tinggal hari Minggu yang mengasyikan…
“Cukup mimpinya, Audy. Saatnya bangun.” Aku terbangun keesokan paginya dengan suara kakakku yang tiba-tiba muncul sambil mengelus rambut pendekku. “Apaan sih, kak, lagi mimpi indah malah dibangunin.” Gerutuku sambil menggeliat. “Hehe, sudah jam setengah enam soalnya.” Kata kakakku manis. Aku memejamkan mataku dan ambruk lagi di atas bantal. “Kalau hari ini kamu mampu menginjak lapangan sekolah sebelum jam 6.45, kakak belikan album Mind of Mine di i-Tunes.” Goda kakakku. Seperti disihir, mataku berbinar-binar dan dengan tergesa-gesa menuju kamar mandi. Hehe, dari dulu aku ngefans sama Jen alias Zayn, bahkan sewaktu dia masih jadi anggota 1D… “Kakak tidak pernah berbohong lho saat berjanji.” Tambah kakakku lagi. Wah, makin semangat sekolah jadinya! Tepat jam enam, aku siap dengan seragamku. Sedetik kemudian, Victor memanggilku dari depan rumah. Aku segera berpamitan pada Dad, Mom, kak Jillian, dan Tim, anjingku, lalu bergegas menghampiri Victor.
“Hai, Vic, my bro!” kami berpelukan singkat dan berjalan bersama menuju halte, lalu naik bus ke sekolah. Jonathan Victor ini sahabat SMPku. Banyak anak yang mengira kami pacaran, tapi tidak! Kuulangi, kami bersahabat. Sampai di bus, kami langsung duduk di barisan depan. “Jadi, bagaimana keberhasilan cerpenmu?” Tanya Victor tiba-tiba. “Um, ya, lumayan. Tapi tidak sukses. Pikiranku buntu saat akan menulis kelanjutan adegan di mana Skyla dikerumuni arwah-arwah di kamarnya. Menurutmu bagaimana?” tanyaku balik. “Wah, jangan tanya aku. Nilai cerpenku 70.” Victor mengaku. Aku hanya terkikik sebentar lalu langsung membeku. Udara dingin menyelimutiku, padahal AC bus sedang rusak. “Hei, kenapa kau?” Tanya Victor. Aku tidak bisa menjawabnya. “Menurutmu ada siapa di bus ini selain kita dan sopirnya?” tanyaku. Victor berdiri dan melihat keadaan sekeliling. “Tidak ada penumpang lain.” Jawabnya. Ingin memastikan jawaban Victor, aku pun melihat sekeliling, lalu aku kaget setengah mati saat melihat seorang nenek-nenek tua di kursi belakangku yang wajahnya tidak ramah. Nenek itu pun terlihat tidak biasa. Dia transparan dan anehnya lagi nenek itu segera melayang menembus kaca bus dan ke luar begitu saja. Dia baru saja melayang di hadapanku!!! “Hey, kenapa sih kau ini?” Tanya Victor lagi. Aku segera merapat padanya. “Aku berhalusinasi. Itu saja.” Hanya itu yang bisa keluar dari bibirku. Kami melanjutkan perjalanan ke sekolah tanpa bicara lagi.
Saat sudah melewati pelajaran yang melelahkan, akhirnya jam istirahat tiba. Seperti biasa, aku dan Victor makan bersama di kantin dan, seperti biasa pula, aku mendengar bisik-bisik seperti “Hei, kurasa hubungan Audy-Victor membaik ya.”, “Mereka seperti lem, tidak pernah mau berpisah.”, “Mereka pacaran, kan?”. Seperti biasanya, kami menghiraukan anak-anak itu. Saat akan memasuki kantin, hawa dingin kembali datang padaku. Kali ini tidak seperti biasa, aku melihat seorang pria separuh baya transparan sedang melayang-layang mengitari kantin. Tidak hanya arwah pria itu, aku juga melihat arwah gadis muda yang seperti sedang mencari-cari seseorang di kantin. Tunggu, bukankah itu gadis yang digosipkan hilang saat Outing Class 2 tahun lalu? Ya ampun, kenapa keadaan makin memburuk saja?! Karena takut yang hebatnya, aku refleks memeluk lengan Victor dan terus-terusan menatap lantai. Meskipun bisik-bisik anak-anak di sekelilingku makin terdengar, aku berusaha mengabaikan mereka. Victor cepat-cepat menarikku ke salah satu meja dan memaksaku duduk.
“Kenapa kau bertingkah aneh sekali hari ini? Ada apa sih?” tanyanya. Dari nadanya, aku mengerti bahwa dia malu ditonton dan diledek banyak orang. “Ma…maaf, Victor. Sudah kubilang kan, aku berhalusinasi. Kali ini hanya bertambah.” Aku berusaha menekankan intonasi jujur padanya, walau sulit. “Kalau begitu, jangan memeluk lenganku seperti itu. Malu tau!” bentaknya. “Victor, maafkan aku.” Ucapku. “Tuh, ada Polly. Makan saja bersamanya. Aku mau sendiri saja.” Katanya sambil berlalu. “Victor, kumohon temani aku! Victor!” panggilku, tapi usahaku sia-sia belaka. Sungguh, Victor berbeda hari ini. Dia biasanya lebut dan murah hati, tidak kasar seperti tadi. Dia pernah marah sih, tapi kali ini, dia benar-benar menyakiti hatiku. Kupilih untuk menjauhi kantin, karena arwah pria dan gadis itu semakin menakuti saja. Apa hanya aku yang bisa melihat mereka?
Saat bel pulang sudah berdering, aku meminta Victor untuk pulang bersama dan tahukah reaksinya? “Aku tidak mau kamu memelukku tiba-tiba lagi di bus. Kau kan tahu jam segini di bus ramai. Malunya bukan main tau. Pulang saja sendiri, Audy. Aku ada janji bersama Gemma. Dia baru saja mengajakku kencan dan tahukah reaksiku? Aku setuju. Bye.” Katanya sambil berlalu. Susah payah aku menahan tangis saat perjalanan pulang di bus. Bukan sekadar sakit, tapi sangat sakit rasanya. Namun, kali ini muncul arwah nenekku di hadapanku. Wajahnya cemberut, padahal biasanya beliau murah senyum. Hantu nenekku memakai baju compang-camping dan tentu saja, dia transparan dan melayang. Dia menyeramkan! Ingin rasanya aku memeluk Victor sekarang. Tapi sahabatku satu-satunya sudah tiada lagi. Arwah nenekku yang seram malah mengingatkanku padanya. Beliau baru saja meninggal saat liburan kemarin. Aku tidak tahan lagi. Air mataku langsung berjatuhan deras. Biar saja orang-orang menertawaiku, mereka tidak tahu bahwa hatiku hancur berkeping-keping. Ternyata aku tidak berhalusinasi. Tapi, mungkinkah aku memiliki indra keenam? Otakku serasa mau pecah!
“Hey, Audy! Kakak sudah download album Mind of Mine!” kata kakakku keras saat aku menginjakkan kaki di lantai rumah. Aku terhuyung menuju kamar dan langsung ambruk di atas tempat tidurku, dengan tas masih bergelantungan di punggung, sepatu, dan seragam. “Mau dengar lagunya? Enak, lho.” Kakakku masih berusaha membuatku berbicara. Tapi, kejadian tadi membuatku seakan kehilangan suaraku. “Ya sudah, kalau nggak mau. Kakak keluar saja.” Sadar bahwa mulutku terkunci, kakakku meninggalkan kamar. Aku berusaha menjernihkan pikiranku dari kejadian-kejadian tadi. Lupakan, Audy! LUPAKAN! Namun gagal. Aku masih ketakutan. Aku takut arwah-arwah itu akan muncul sendirinya di depanku, detik ini juga! Itu mungkin terjadi kan, setelah peristiwa tadi. Aku melanjutkan kegiatanku dengan mataku buka-tutup setiap saat. Aku tahu itu aneh, kakakku tidak henti-hentinya bertanya apa yang terjadi padaku.
Namun keberuntungan berpihak kepadaku. Tidak ada hal-hal aneh sampai bulan dan bintang menghiasi langit malam. Pikiranku lebih rileks sekarang. Yes. “Audy, bagaimana ceritamu?” Tanya kakakku tiba-tiba saat makan malam bersama. “Cerita? Oh ya cerita itu! Sudah hampir jadi kok.” Jawabku sambil terus mengunyah. “Kenapa tidak dilanjutkan?” tanyanya lagi. “Pikiranku buntu.” Jawabku tanpa menatap kakak. “Sampai kapan?” tanyanya lagi. Oh, sungguh pertanyaan yang lucu bukan? “Entahlah. Lucu sekali pertanyaan kakak.” Jawabku. “Bagaimana jika pikiranmu buntu selamanya? Kasihan itu ceritamu, dibiarkan begitu saja, padahal sudah hampir tamat. Tidak baik menunda-nunda.” Nasehat kakakku. “Hmm, iya, iya terserah deh.” Jawabku pasrah. Tumben-tumbennya dia bertanya mengenai ceritaku. Apa urusannya? “Lebih baik kau selesaikan sekarang. Paksa otakmu bekerja.” Sambung ibu. Ayahku hanya mengangguk-angguk sambil asyik menikmati pecel lele di hadapannya. “Ya, ya.” Jawabku. Aku menyelesaikan makan malamku, menyikat gigi, mengambil HP, dan berbaring di tempat tidur. Eh tunggu. Bagaimana dengan ceritaku? Di dalam cerita buatanku, Skyla sedang dikerumuni arwah-arwah jahat di ruang kelas karena kelalaiannya dan… ah sudahlah! Kuselesaikan kapan-kapan saja. Setelah puas main HP, aku tertidur pulas. Bahkan terlalu pulas.
Aku sedang bersama Victor dan teman-temanku yang lain di taman dekat sekolah. Kami tertawa seakan-akan hidup kami tidak pernah terbebani. Lalu, satu per satu arwah, hantu, dan makhluk halus mengerubungi kami. Jumlah mereka tidak terhitung banyaknya. Ada arwah keluargaku dan teman-teman yang sudah tiada, hantu-hantu berwajah seram, dan banyak lagi! Hantu-hantu itu membuka-tutup mulut mengerikan mereka, seakan-akan hendak memakan kami! Teman-temanku pingsan seketika, meninggalkan aku menggigil sendirian. Tidak ada orangtua yang menemani di taman ini. Aku berteriak memanggil bantuan, tapi tidak kutemukan orang berlalu lalang. Hantu-hantu itu semakin mendekatiku. Langit menjadi kelambu dan rintik hujan mulai turun. Aku berteriak sekeras mungkin, namun sia-sia. Hantu-hantu itu mendekat dan satu per satu mereka memasuki tubuhku. Aku memaksa tubuhku berlari, namun tubuhku lumpuh seketika. Aku berteriak lagi, dan lagi dan lagi…
“AAAAAARGH!!!” aku terbangun di atas kasur empukku, tidak lagi berada di taman. Hei, kemana hantu-hantu itu? Oh ya, itu kan mimpi. Tapi, benarkah itu mimpi? Saat ini, detik ini, hantu yang lebih menyeramkan sedang duduk di pangkuanku. “AAAAAAAAAAHH!!!” Wajahnya benar-benar tak karuan, juga sangat jelek. Matanya menyorotkan kesan akan membunuhku tiba-tiba, hidungnya bengkok, dan mulutnya memamerkan gigi tajamnya yang kekuning-kuningan. Tubuhnya berada di atas pangkuanku dan tentu saja dia transparan. Aku tidak mengenalnya, juga hantu-hantu lain yang mulai berdatangan ke dalam kamarku. Hantu di depanku adalah yang terseram di antara yang lainnya. Aku membeku. Aku segera menarik selimut dan berlindung di bawahnya. Tapi, ada wajah hantu seram lain di bawah selimut, bersamaku! Aku langsung ke luar dari bawah selimut dan menemukan pemandangan teraneh, terseram, dan yang paling menakutkan di hidupku. Hantu, arwah, iblis, setan, dan semacamnya, berkumpul di kamarku. Mata menakutkan mereka semuanya menatap bengis ke arahku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. “IBUUUU! KAKAAAAK!! AYAAAH! TOLOONG!” teriakku sambil memukul-mukul para makhluk itu dengan bantal. Tentu saja itu tidak berguna, karena mereka bisa menembus apa saja, dan mereka hanyalah udara dengan bentuk aneh. Bodohnya aku. Mereka mulai mendekatiku. Teriakanku makin kencang. “IBUUUUU! SIAPA SAJA, TOLOONG!!” jeritku. Salah satu hantu memasuki tubuhku. AAAH, mungkinkah ini akhir dari segalanya? Saat berfikir yang tidak-tidak, ibu dengan santai masuk kamarku. Dengan mudahnya, ibu menembus makhluk-makhluk itu dan duduk di tempat tidur. “Mimpi buruk, sayang?” tanyanya kalem. “IBUUU!!!” aku langsung memeluk ibuku. Paling tidak, jika aku mati, aku akan mati di dalam pelukan ibu. Aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi denganku. Hantu itu berada di dalamku. Hal positif apa yang mungkin terjadi pada hidupku lagi? Aku memejamkan mata.


0 komentar:
Post a Comment