TENTANG PERPISAHAN
Salam subuh Ryan di rakaat terakhirnya. Setelah berdzikir
Ryan berjalan menuju pintu keluar mushala. Udara menghembuskan dinginnya
menabrak dada. Tarikan nafasnya menarik masuk hawa sejuk ke dalam paru-parunya.
Setelah melepas sandal di anak tangga ke dua, tangan kanan
merogoh kunci rumah di kantong baju kokoh sebelah kanan. “Kreekk krek..” suara
kunci masuk kedalam lubang dan berputar ke kanan. Suara erekan pintu rumah
terbuka memecah keheningan di subuh itu. Setelah duduk di sofa dan mulai
melafadzkan Al-Fatehah sembari membuka halaman-halaman Al Quran. Lembaran demi
lembaran terhenti pada surat Al-Kahfi.
Hari sudah mulai menderang, matahari mulai naik menampakan
gradasi cahaya indahNya. Bacaan Al-Kahfi nya rampung bersama melayangnya
kalimat sadakallahul’adzim di udara pagi itu. Tangan kanannya meraih hanphone
yang ada di meja di depannya. Jempol kirinya menggeser pola kunci tombol pada
Lcd smartphone. Terpampang pada layar, pesan We Chat “Ada yang ketiduran nih..”
pesan dari Dinda yang kemudian langsung dibalas ketikan oleh Ryan. “Nggak kok,
lagi sempetin baca Quran tadi nih.. hehe” balas Ryan dalam applikasi sosmed
buatan China itu. “Aku on the way nih..” tambahnya sebelum ada balasan dari
Adinda. “Ok” balas Dinda kemudian, padat dan singkat. Setelah membaluti
tubuhnya dengan jaket kulit coklat Ryan meraih helm, “krrkk..” kerikan gerigi
tali helm yang menjepit rahang Ryan. Setelah memanaskan mesin motor, Ryan
berangkat menuju rumah sang Adinda.
“pip pip..” suara klakson motor mengalihkan pandangan Dinda
dari hanphone yang digenggamnya ke sumber suara. Posisinya masih duduk
bersandar menghalang pada pintu masuk rumah. “Ready?” Tanya Ryan sambil
menunjukkan jok bagian belakang motor dengan jempol kanan ke bagian belakang.
Dinda segera bergegas berdiri dan menaikkan tali tas di bahu kirinya. Kedua
pasangan itu kemudian mengitari pagi dengan obrolan ringan hangat penuh harmoni
di pagi hari yang dingin itu. Keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu, pantai.
Suara desiran ombak menyambut kedatangan sejoli Ryan dan
Dinda.
“Kamu tau nggak? Suara yang paling aku suka?” cercah Ryan
pada Dinda di sela-sela suara ombak menghamburi pasir pantai. “Apah..?” Tanya
Dinda. “Suara ombak, suara jendela terbuka dipagi hari, dan..” Ryan menahan
kalimatnya sambil melirik Dinda yang duduk di sampingnya. “Suara tawamu ketika
mencoba menertawai berbagai hal.. apapun itu.” sambung Ryan. “Dinda hanya
tersenyum sambil menatap ke depan ke arah lautan luas yang terpampang di
depannya. Tak lama gadis itu berdiri sambil menyeka-nyeka pasir yang menempel
di celana bagian belakangnya. “Ayuuk, mandi..” ajak Dinda kepada Ryan yang
masih duduk di sebelah kirinya. Desiran ombak membasahi kaki mungil Dinda,
perlahan naik ke betis dan membasahi seluruh tubunya, niat Dinda untuk
membasahi tubuhnya dengan air laut di akhir pekan tertunaikan. Ryan melepaskan
sendal jepitnya di atas pasir pantai itu. Perlahan menuju samudera yang disana
telah menunggu putri pujaan hatinya. Canda tawa, obrolan ringan, dan kasih
sayang beradu bersama percikan air laut yang larut bersama harmoni di pagi
hari.
Terjulur kedua tangan dari arah belakang leher Ryan,
mengalir di telinganya suara bahwa “Bawa aku ke sisi yang paling dalam..” bisik
Dinda. Pangeran itu menggendong permaisurinya ke sisi yang kakinya tak lagi
menyentuh pasir dan karang dasar lautan. “Di sini kita sudah cukup berada pada
sisi yang dalam..” bisik Ryan pada gadis yang bersandar yang memeluknya dari
belakang. Tanpa ada suara Dinda seolah hanya meresapi keintiman dari keduanya
yang terombang-ambing oleh ombak lautan.
“Ini sudah cukup, makin jauh kita akan tenggelam..” canda
Ryan.
Setelah berenang menuju bibir pantai hingga kaki kembali
menyentuh pasir. Dinda bergegas berenang ke daratan meninggalkan Ryan yang
masih enggan naik dari gelayutan ombak. “Ayoo. Sudah cukup, kamu sudah cukup
kedinginan tadi pas gendong aku..” teriak Dinda dari bibir pantai, tangan
kirinya memegang sendal. Ryan menyusul sambil mengibas-ngibaskan sisa air laut
di rambutnya.
Keharmonisan pagi hari itu berakhir dengan naiknya matahari
yang menghadirkan kemilau cahaya sinarnya di atas samudera.
Beriringan dengan renggangnya komunikasi, hingga hadirkan
jarak yang berujung pada perpisahan. -Perpisahan yang prematur.
Kini kenangan itu masih terus membekas pada setiap pagi
Ryan. Perpisahannya dengan Dinda masih sulit dinafikan olehnya. Ia tak ingin
membodohi dan membohingi dirinya bahwa melupakan itu sama mudahnya dengan
mencintai.
Bahkan jika Ryan bisa kembali membawa Dinda ke tengah
lautan, dia akan membawanya ke sisi yang paling sulit dijangkau oleh siapapun.
Bahkan jika Dinda harus tenggelam? Ryan akan biarkan Dinda tenggelam dalam
genggaman.
Bahwa hanya ada satu cinta yang mampu menyelamatkannya,
cinta dan penyesalan Ryan.
Dari dalam samudera terdalam yang bernama Rindu, Ryan masih
tak ingin keluar, Ryan masih ingin berenang di atas permukaan samudera yang
meski terkadang pilu, entah kelak Ryan akan kembali terbawa pada arus yang
bernama Kenangan, ataukah takdir ini memang harus pecah kepada karang yang
berukirkan: Perpisahan.


0 komentar:
Post a Comment