MUSUH TERINDAH
Hai musuhku, bagaimana kabarmu saat ini. Nampaknya aku
melihat senyum yang lain di wajahmu. Senyum yang selama empat tahun belum
pernah aku lihat. Senyum yang selama empat tahun yang aku impi-impikan.
Bagaimana tidak, selama itu pula kau menyikapiku sebagai teman, musuh atau
rekan kerja, itupun aku tidak tau. Tapi saat aku sadar bahwa senyum itu bukan
untuk aku, mau bilang apa.
Hai musuh ku. Aku akui dari awal kita berjumpa aku mulai
punya rasa yang spesial dan itu rasa dimana aku belum pernah ngerasain seumur
hidupku. Seiring berjalannya waktu rasa itu semakin menjadi-jadi. Saat aku
mengamatimu dari kejauhan, caramu bercanda, prinsip hidupmu, lekuk tubuhmu, dan
cara kamu berpakaian. Aku yakin bahwa itu semua nafsu belaka.
Hai musuh ku. Aku nggak tau apa yang harus aku lakuin karena
saat kita bercanda, bertengkar dan saat kita menjadi teman kerja. Aku merasa
kamu nggak nyaman dengan respon ku tehadap kamu. Mungkin karena kamu tipe yang
berprinsip teguh dan sangat religius sedangkan aku orang yang selalu mengedepankan
nafsu dari pada hati dan aku akui aku memang nggak sesensitif cowok lain.
Hingga akhirnya datanglah dia untuk menjadi rekan kerja
kita. Dia yang lebih dari aku, dia selalu membuat kamu tersenyum dan dia yang
sedikit banyak merubah fakta-fakta yang ada pada diri kamu. Dulu aku akui saat
kamu dekat sama cowok lain rasa cemburu itu sesekali menghampiri, walau tak
sedikit pun membuat aku sakit hati. Tapi dia, dia yang membuatmu berubah 180
derajat. Dia yang bisa memenangkan hatimu. Dia pula yang akhirnya membuat ku
patah hati. Dan karena dia aku bertengkar denganmu hingga aku melihat air mata
di pipimu. Oh tuhan betapa kagetnya aku hingga dada ini sesak untuk bernafas
karena melihatmu bersedih seraya meneteskan air mata. Sejak saat itu aku mulai
sadar, bahwa ini bukan sekedar nafsu atau cinta belaka, tapi ini adalah keadaan
hati yang dipenuhi cinta dan kasih sayang yang begitu besar terhadapmu. Hingga
hari-hariku terasa gelap. Aku sering melamun, menangis dan teriak sendiri. Ya
tuhaaan maaf....kan hambamu ini yang telah melupakanmu hanya karena kalah oleh
nafsu syetan.
Hai musuh ku, andai kamu tau, tak sedetik pun aku melupakanmu
baik dalam bangun atau tidur ku. Dan andai kamu tau bahwa kau....lah satu-satunya
gadis yang selalu ada dalam do’aku selepas sholat fardu dan sholat malam ku agar
kau selalu bahagia di dunia dan akhirat. Aku ingat saat aku ingin mencium
bibirmu kamu menolak dengan alasan “Jangan, bibir ini hanya untuk suamiku
kelak” Seraya menundukkan kepalamu. Ohhh Tuhaaan inilah gadis yang aku cari.
Karena aku yakin dengan prinsip dan kereligiusannya, dia mampu menjadi ibu yang
baik dan mendidik anak-anak ku menuju jalan yang diridhoi Tuhan.
Seiring bejalannya waktu kamu kian dekat dengannya dan
sebaliknya semakin jauh dengan ku. Hingga sedikit pun aku tak pernah benar di
matamu walaupun aku sudah berusaha sekuat tenaga dan fikiran untuk memperbaiki
hubungan ini, entah kamu sadar itu atau nggak. Tapi aku yakin ini jalan yang
terbaik dari Tuhan untuk aku dan kamu. Aku ikhlas karena prioritas dalam
hidup ku adalah bahagia....mu bukan sebaliknya.
Hingga pada suatu hari, ada satu kejadian dimana membuat aku
tersentak kedua kalinya bukan karena melihat air mata di pipimu lagi melainkan
kau dengan padanya mengangkat dagumu tinggi-tinggi seraya bercumbu mesra dengan
dia tanpa menghiraukan prinsip-prinsip yang sering kau ucapkan kepada ku bukan
itu saja dengan padanya juga kau mengumbar kemesraan selama 12 jam per hari di
tempat kerja tanpa sedikit pun menghiraukan perasaan ku. Yaaaa Tuhaaaan betapa
hancurnya hati ini kau cambuk hati ku hingga hancur tak tersisa. Atau mungkin
ini peringatan dari Tuhan karena aku tanpa sadar telah menjauh darinya. Ampuni
aku yaaa Tuhaaan ampuni hamba...mu yang terlalu banyak dosa.
Selepas kejadian itu aku terus memohon kepada Tuhan agar
menunjukkan jalan yang diridhoinya. Dan akhirnya aku sadar bahwa kejadian itu
adalah sebuah jawaban bahwa kau secara tidak langsung memaksa ku melepaskan mu
dari setiap do’a ku dan bisa aku pastikan kau bukan calon ibu dari anak-anak ku.
Kau hanyalah kenangan pahit yang harus ku kubur dalam-dalam walaupun faktanya
sulit bagiku untuk ngejalaninya. Tapi aku optimis karena aku masih punya Tuhan.
Tuhan yang memberi ku perasaan itu dan Tuhan pula yang sanggup mengambilnya. Aku
pasrah kepada....mu. Amiiin ya rob.


0 komentar:
Post a Comment