MUSUH TERINDAH

Posted By Cerpen universal on Friday, January 24, 2020 | January 24, 2020

MUSUH TERINDAH

Hai musuhku, bagaimana kabarmu saat ini. Nampaknya aku melihat senyum yang lain di wajahmu. Senyum yang selama empat tahun belum pernah aku lihat. Senyum yang selama empat tahun yang aku impi-impikan. Bagaimana tidak, selama itu pula kau menyikapiku sebagai teman, musuh atau rekan kerja, itupun aku tidak tau. Tapi saat aku sadar bahwa senyum itu bukan untuk aku, mau bilang apa.

Hai musuh ku. Aku akui dari awal kita berjumpa aku mulai punya rasa yang spesial dan itu rasa dimana aku belum pernah ngerasain seumur hidupku. Seiring berjalannya waktu rasa itu semakin menjadi-jadi. Saat aku mengamatimu dari kejauhan, caramu bercanda, prinsip hidupmu, lekuk tubuhmu, dan cara kamu berpakaian. Aku yakin bahwa itu semua nafsu belaka.

Hai musuh ku. Aku nggak tau apa yang harus aku lakuin karena saat kita bercanda, bertengkar dan saat kita menjadi teman kerja. Aku merasa kamu nggak nyaman dengan respon ku tehadap kamu. Mungkin karena kamu tipe yang berprinsip teguh dan sangat religius sedangkan aku orang yang selalu mengedepankan nafsu dari pada hati dan aku akui aku memang nggak sesensitif cowok lain.

Hingga akhirnya datanglah dia untuk menjadi rekan kerja kita. Dia yang lebih dari aku, dia selalu membuat kamu tersenyum dan dia yang sedikit banyak merubah fakta-fakta yang ada pada diri kamu. Dulu aku akui saat kamu dekat sama cowok lain rasa cemburu itu sesekali menghampiri, walau tak sedikit pun membuat aku sakit hati. Tapi dia, dia yang membuatmu berubah 180 derajat. Dia yang bisa memenangkan hatimu. Dia pula yang akhirnya membuat ku patah hati. Dan karena dia aku bertengkar denganmu hingga aku melihat air mata di pipimu. Oh tuhan betapa kagetnya aku hingga dada ini sesak untuk bernafas karena melihatmu bersedih seraya meneteskan air mata. Sejak saat itu aku mulai sadar, bahwa ini bukan sekedar nafsu atau cinta belaka, tapi ini adalah keadaan hati yang dipenuhi cinta dan kasih sayang yang begitu besar terhadapmu. Hingga hari-hariku terasa gelap. Aku sering melamun, menangis dan teriak sendiri. Ya tuhaaan maaf....kan hambamu ini yang telah melupakanmu hanya karena kalah oleh nafsu syetan.

Hai musuh ku, andai kamu tau, tak sedetik pun aku melupakanmu baik dalam bangun atau tidur ku. Dan andai kamu tau bahwa kau....lah satu-satunya gadis yang selalu ada dalam do’aku selepas sholat fardu dan sholat malam ku agar kau selalu bahagia di dunia dan akhirat. Aku ingat saat aku ingin mencium bibirmu kamu menolak dengan alasan “Jangan, bibir ini hanya untuk suamiku kelak” Seraya menundukkan kepalamu. Ohhh Tuhaaan inilah gadis yang aku cari. Karena aku yakin dengan prinsip dan kereligiusannya, dia mampu menjadi ibu yang baik dan mendidik anak-anak ku menuju jalan yang diridhoi Tuhan.

Seiring bejalannya waktu kamu kian dekat dengannya dan sebaliknya semakin jauh dengan ku. Hingga sedikit pun aku tak pernah benar di matamu walaupun aku sudah berusaha sekuat tenaga dan fikiran untuk memperbaiki hubungan ini, entah kamu sadar itu atau nggak. Tapi aku yakin ini jalan yang terbaik dari Tuhan untuk aku dan kamu. Aku ikhlas karena prioritas dalam hidup ku adalah bahagia....mu bukan sebaliknya.

Hingga pada suatu hari, ada satu kejadian dimana membuat aku tersentak kedua kalinya bukan karena melihat air mata di pipimu lagi melainkan kau dengan padanya mengangkat dagumu tinggi-tinggi seraya bercumbu mesra dengan dia tanpa menghiraukan prinsip-prinsip yang sering kau ucapkan kepada ku bukan itu saja dengan padanya juga kau mengumbar kemesraan selama 12 jam per hari di tempat kerja tanpa sedikit pun menghiraukan perasaan ku. Yaaaa Tuhaaaan betapa hancurnya hati ini kau cambuk hati ku hingga hancur tak tersisa. Atau mungkin ini peringatan dari Tuhan karena aku tanpa sadar telah menjauh darinya. Ampuni aku yaaa Tuhaaan ampuni hamba...mu yang terlalu banyak dosa.

Selepas kejadian itu aku terus memohon kepada Tuhan agar menunjukkan jalan yang diridhoinya. Dan akhirnya aku sadar bahwa kejadian itu adalah sebuah jawaban bahwa kau secara tidak langsung memaksa ku melepaskan mu dari setiap do’a ku dan bisa aku pastikan kau bukan calon ibu dari anak-anak ku. Kau hanyalah kenangan pahit yang harus ku kubur dalam-dalam walaupun faktanya sulit bagiku untuk ngejalaninya. Tapi aku optimis karena aku masih punya Tuhan. Tuhan yang memberi ku perasaan itu dan Tuhan pula yang sanggup mengambilnya. Aku pasrah kepada....mu. Amiiin ya rob.

Blog, Updated at: January 24, 2020

0 komentar:

Post a Comment