DEMIKIAN CINTA
Malam yang cukup tenang di kediaman Erwin. Sedang asik duduk
sambil mengetik tugas sekolah di komputer tuanya. Terdengar langkah kaki dan
mengetuk pintu kamar.
"Erwin....boleh...aku masuk," kata Risa dengan lembut.
"Silakan," jawab Erwin.
Risa masuk kamar Erwin. Terlihat pandangan mata Risa kamar cowok
yang berantakan banget. Erwin pun selesai juga mengetiknya.
"Ada apa....Risa...main ke rumah saya?" tanya Erwin.
"Anu-anu....," kata Risa gerogi.
"Ngomong aja!" kata Erwin.
"Iya," jawab Risa.
Risa pun mendekati Erwin. Malah Risa jadi kacau banget di hadapan
Erwin apalagi saat Erwin beranjak dari duduknya di kursi dan saling
berpandangan dengan Risa. Sontak muka Risa memerah.
"Ada....apa Risa?" tanya Erwin.
"Aku...ingin memberikan surat ini pada mu!" kata Risa.
Erwin mengambil surat yang di berikan Risa.
"Kalau begitu....aku permisi dulu," kata Risa.
"Iya," jawab Erwin.
Risa keluar dari kamar Erwin dengan detak jantung berdebar kencang
lagi. Sekalian Risa pamit pulang sama Ibu Erwin.
Erwin mencoba membuka surat yang di berikan oleh Risa. Di
keluarkan surat dari amplonya. Dengan seksama Erwin membaca surat dari Risa.
Isi surat Risa :
"Selama ini saya menyukai kamu....Erwin dari awal pertemuan
saat pertama kali masuk sekolah SMA. Rasa ini...selalu gak karuan saat bersama
kamu....Erwin. Jadi aku ingin menyatakan sesuatu dari dalam hati aku.
Aku cinta kamu....Erwin"
Erwin membaca surat itu tidak terkejut banget. Malahan surat di
taruh meja beserta amplopnya.
"Ah....jaman sekarang cewek duluan yang menyatakan cinta.
Aku...aja masih belum memikirkan....sejauh itu....untuk menyatakan cinta,"
celoteh Erwin.
Erwin pun malah menghidupkan Ps 4nya dan segera memainkan game
sepak bola.
"Asik....main game dari...pada ngurusin perasaan cewek,"
gerutu Erwin.
Erwin memilih tim kesukaannya sepak bola dan segera
memainkan dengan penuh kegembiraan dan melupakan tentang ungkapan perasaan Risa
lewat surat cinta.
Risa sampai di rumahnya segera masuk kamarnya dan berusaha
menghilangkan rasa dak dik duk di jantungnya yang gak karuan.
"Rasanya....aku...malu banget deh...udah berani menyatakan
cinta duluan," ocehan Risa sambil melihat dirinya di kaca.
Risa memutus main ke rumah Mentari....tetangganya di samping
rumahnya sekaligus teman satu sekolah. Risa bercerita tentang masalah
pribadinya berkenaan dengan cinta bersama Mentari di pinggir kolam renang.
Dengan baik Mentari menanggapi ocehan dari Risa yang panjang lebar
berkenaan surat cinta ke Erwin.
"Cinta...cinta...cinta...membuat dilema bagi siapa saja yang
merasakan dari rasa cinta yang bergelora di dada," kata Mentari.
"Ya....begitu..lah," saut Risa.
Risa terus bercurhat ke Mentari sampai perasaannya puas banget gak
ada beban di hati dan pikiran sampai malam hari.
***
Esok harinya di sekolah Risa bertemu dengan Erwin di sekolah.
Seperti biasa rasa dak dik duk masih berdetak keras sekali di dada Risa.
Mentari sebagai sahabat baik menemani Risa saat pertemuan di sekolah yang
kadang di sengaja atau tidak sengaja.
Erwin tetap biasa menanggapi Risa seperti biasa. Malahan Erwin
lebih sibuk bergaul dengan teman-teman cowok dari pada teman cewek. Risa jadi
bingung dengan sikap Erwin.
Risa pun curhat lagi dengan Mentari saat teman-teman tidak ada di
ruang kelas. Seperti biasa Mentari menanggapi curhatan dari Risa.
"Cinta....cinta...cinta....bikin bimbang aja gara perasaan
yang gak menentu," kata Mentari.
"Ya....begitu lah," saut Risa.
"Saran...aku...sih. Ada 2 cara," kata Mentari.
"Apa...itu?" Risa memotong omongan Mentari.
"Yang pertama lupakan cinta...kamu...sama Erwin karena
mengganggu aktivitas kamu....Risa setiap hari. Yang....kedua....sabarin aja
jalan sekarang...sampai....itu Erwin membalas cinta...kamu dengan pernyataan I
LOVE YOU...RISA," kata Mentari.
Risa pun berpikir sejenak mengenai sarannya Mentari. Risa pun
telah mempertimbangkan masak-masak mengenai urusan cintanya yang gantung gak
ada jawaban.
"Aku...memilih yang pertama," kata Risa.
"Yang pertama lebih baik. Baru deh
aku.....menemukan...sahabat aku yang bebas dan tidak terjebak oleh keadaan
karena urusan cinta. Masalahnya....kita ini...masih anak sekolah 1 SMA belum
waktunya ngurusin pacaran. Masih banyak yang harus kita kejar...untuk
menggapai masa depan gemilang," kata Mentari.
Risa dan Mentari berpelukkan tanda keakraban antara teman baik.
Curat pun selesai dengan perasaan pol di dada Risa. Bell pun berbunyi tanda
masuk kelas melanjutkan pelajaran. Mentari keluar dari kelas Risa menuju ruang
kelasnya.
Dengan tenang mengikuti proses belajar mengajar sampai selesai.
Baru deh pulang ke rumah Risa dengan keadaan diri yang tidak memiliki beban apa
pun berkenaan tentang perasaannya dengan Erwin. Risa pun menjalankan
aktivitasnya biasa-biasa aja bersama Mentari. Saat bertemu dengan Erwin pun
jadi biasa-biasa aja tak ada beban perasaan apa pun karena Risa sudah melupakan
cintanya sejenak.
Erwin pun menanggapi Risa seperti biasa kaya gak pernah terjadi
pengungkapan perasaannya Risa lewat surat cinta.


0 komentar:
Post a Comment