PERTARUNGAN HIDUP
Malam hari di tengah hutan. Yakimaru mengalami kesakitan dengan
pendengarannya. Dororo berusaha menenangkan Yakimaru yang kacau. Lalu Dororo
menutup telinga Yakimaru dengan sebuah kain.
"Semoga ini bisa mengurang sakit pendengaran kamu" kata
Dororo.
Yakimaru hanya diam saja dan merasa baikan dengan pendengarannya.
Terdengar suara yang nyaring sekali memekakkan telinga dateng ke arah Dororo
dan Yakimaru. Seekor makluk terbang besar langsung menyerang Dororo dan
Yakimaru.
"Siluman...burung," teriak Dororo yang ketakutan.
Yakimaru mencabut pedangnya dan bertarung dengan siluman burung
yang besarnya lebih dari ukuran manusia. Yakimaru mencoba menyerang siluman burung
dengan pedangnya dan ternyata terpental oleh hempasan sayap yang menciptakan
angin. Apalagi siluman burung mengeluarkan gelombang suara yang memekakkan
telinga sampai-sampai Yakimaru kesakitan sampai meringkuk di tanah.
Dororo ingin menolong Yakimaru yang dianggap kakaknya tapi tidak
ada kemampuan. Siluman burung terus menyerang ke arah Yakimaru. Dateng dengan
hebat menyudutkan si siluman burung dengan serangan kakek yang buta pada mata
kirinya bernama Tobe. Siluman burung langsung menyerang kembali dengan cepat.
Kakek Tobe menggunakan teknik pedang pembunuhnya dan memotong-motong siluman
burung menjadi beberapa bagian.
Siluman burung mengucurkan darah dan akhirnya jatuh ke tanah
dengan terpotong-potong. Kakek Tobe menyarungkan pedangnya kembali. Dororo
langsung menolong Yakimaru, lalu kakek Tobe mendekati mereka berdua.
"Kalian berdua tidak apa-apa?" tanya kakek Tobe.
"Tidak apa-apa Kek!" jawab Dororo.
"Gimana dengan Yakimaru?" tanya kakek Tobe.
"Kakak Yakimaru mengalami kesakitan terus menerus pada
telinganya," penjelasan dari Dororo.
"Kalau begitu jaga dia dan lebih banyak istirahat,"
saran kakek Tobe.
"Iya," saut Dororo.
Dororo menjaga Yakimaru yang kesakitan dan membereskan pedang yang
di pakai untuk bertarung. Kakek Tobe yang buta menjaga Dororo dan Yakimaru
dengan baik. Waktu pun berganti pagi. Kakek Tobe mencari makanan. Yakimaru
terbangun dari tidurnya dan berjalan menuju suatau tempat. Dororo mencoba
mengikuti Yakimaru.
Sampai di aliran sungai ada seorang gadis cantik yang sedang bermain
di tengah aliran sungai. Yakimaru bergerak dan mencoba mendekati gadis
tersebut. Sang gadis tidak terkejut dengan tindak tanduk dari Yakimaru yang
mendekatinya malah senang. Dororo pun melihatnya dari jauh.
"Kamu mau apa?" tanya sang gadis.
Yakimaru hanya diam saja.
"Maaf..kakak teman saya tidak bisa bicara," penjelasan
Dororo.
"Oh begitu," saut sang gadis.
Sang gadis keluar dari aliran sungai menuju pulang ke rumah.
Yakimaru mengikuti sang gadis. Akhirnya Dororo dan Yakimaru berkenalan dengan
sang gadis dan akhirnya mereka tahu nama gadis itu adalah Yosine. Dengan
kebaikan dari Yosine di ajaklah Dororo dan Yakimaru ke rumahnya yang tidak
begitu jauh dari tempat berada mereka. Sampai di rumah ternyata Dororo terkejut
dengan anak-anak yang di rawat oleh Yosine sampai ada yang cacat tangan dan
kakinya.
Dororo mulai berteman baik dengan anak asuh Yosine begitu dengan
Yakimaru. Tetap saja Yakimaru mengalami kesakitan pada telinganya dan terbaring
di lantai rumah. Semua orang mengkhatirkan keadaan dari Yakimaru. Di jaga
dengan baik Yakimaru oleh semuanya. Tapi saat tengah malam Yakimaru keluar dari
rumah Yosine dengan terburu-buru. Sedangkan Dororo tidak khawatir sama sekali
dengan keadaan Yakimaru lain ceritanya dengan anak-anak yang di asuh oleh Yosine.
Ternyata Yosine pergi juga. Dororo yang mengikuti juga Yosine
pergi. Sampai di sebuah tempat yang cukup aman ada 2 orang laki-laki yang
bermalam di hutan lalu Yosine langsung menawarkan dirinya sebagai barang
dagangan. 2 lelaki tersebut menerima tawaran Yosine mulai mereka
bersenang-senang di tengah hutan. Dororo menemukan Yosine dengan 2 orang yang
mengerubutinya.
"Astaga....jangan-jangan," celoteh Dororo.
Dororo segera mendekati 2 lelaki yang mulai menikmati tubuh
Yosine. Sedang di sisi lain. Yakimaru dengan kakek Tobe bergerak menuju hutan
dan menemukan sebuah lubang yang cukup besar. Yakimaru dan kakek Tobe menarik
pedangnya untuk bertarung dengan siluman undur-undur. Keluarlah siluman
undur-undur dari tanah dan akhirnya pijakan pada Yakimaru dan kakek Tobe
longsor dengan segera langsung menyerang dengan pedang mereka ke arah siluman
undur-undur. Karena kulit luarnya siluman undur-undur sangat kuat susah untuk
di tebas oleh pedang. Yakimaru mencari celah bagian yang lunak untuk di
hunuskan pedangnya. Ternyata kaki kanan Yakimaru terkena gigitan siluman
undur-undur dan langsung pedang di tancapkan pada bagian yang lunak pada
siluman undur-undur. Kakek Tobe mencoba menolong Yakimaru ternyata terlambat
kaki Yakimaru putus.
Berteriak sekuatnya Yakimaru karena menahan sakit yang di
deritanya karena kakinya hilang. Siluman undur-undur keluar lagi. Segera kakek
Tobe menyerangnya dengan tebasan yang mematikan pada bagian yang dapat di
tembus oleh pedang begitu juga Yakimaru. Siluman undur-undur mati. Kakek Tobe
membopong Yakimaru dari lubang di buat siluman undur-undur.
Tiba-tiba Yakimaru mengalami fenomena yang aneh pada dirinya
seketika kakinya yang terputus kembali semula. Kakek Tobe pun terkejut sekali
dengan menyentuh kakinya Yakimaru yang bagus kembali.
"Ini keajaiban setelah membunuh siluman undur-undur itu. Dewa
menolong Yakimaru," kata kakek Tobe.
Sedangkan Dororo mencoba menolong Yosine dengan cara mengambil
sebuah kayu dan di pukullah pada 2 orang yang mulai menggagahi Yosine. Seketika
2 orang laki-laki pingsan begitu saja.
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Dororo.
"Saya tidak butuh bantuan kamu," kata Yosine membuang
mukanya.
"Jangan sok begitu kakak. Saya tahu tujuan kakak berbuat ini
menjual diri demi uang dan untuk bisa menghidupkan anak-anak asuh kakak.
Apalagi negeri...ini mengalami tekanan ekonomi yang cukup pelik. Rakyatnya
mengalami ketidak berdayaan karena kemiskinan. Wajar saja tidak ada kerjaan
yang pantes. Lebih baik menjual diri kan," kata Dororo yang berusaha
memahami Yosine.
Yosine menunduk malu dengan pekerjaannya. Lalu mengambil uang yang
ada pada 2 orang lelaki di balik pakaiannya dan pergi begitu saja meninggalkan
Dororo.
"Dasar wanita..selalu saja berpikir pendek dalam menjalankan
hidup. Nafsu alasan saja demi menjalankan hidup menutupi kebenaran yang
sebenarnya ketidak berdayaan dirinya dalam menjalankan hidup. Pada hal alam
memberikan banyak makan," celoteh Dororo.
Dororo pun mengikuti Yosine dari kejauhan dengan menjaga jarak.
Sampai di rumah Yosine berdiam diri di kamarnya seperti biasanya. Sedangkan
anak-anak asuhnya menyiapkan makan untuk semuanya termasuk untuk Dororo.


0 komentar:
Post a Comment