PERI NILA
Bola energi berwarna emas terbang di langit malam seperti
kunang-kunang. Saat itu Awin sedang berjalan dan melihat bola energi. Sontak
Awin mengejarnya dengan cepat bola energi sampai ke sebuah rumah tua.
Dengan perlahan-lahan Awin masuk ke dalam rumah tua. Bola energi masuk ke dalam
sebuah kotak. Awin langsung menutup kotak kecil tersebut.
"Saya bisa kaya dengan makluk di dalamnya," celoteh
Awin.
Awin pun membawa kotak kecil di bawa keluar dari rumah tua. Tapi
tiba-tiba ada seorang Bapak-Bapak memergokin Awin keluar dari rumah.
"Kamu...maling...ya?" tanya Bapak-Bapak penjaga rumah.
"Sial...........kayanya kena...batu saya karena ulah saya
yang sedikit nakal," gerutu Awin.
Awin diam di tempat. Bapak-Bapak penjaga rumah mendekati Awin.
Lalu Awin berpikir pendek.
"Ah...bodok...ah.......yang penting saya kabur," gerutu
Awin.
Awin berlari dengan sekuat tenaga.
"Wah....bener...maling," teriak Bapak-Bapak penjaga rumah.
Sontak Bapak-Bapak penjaga rumah mengejar Awin. Lalu Awin membelok
di satu gang kecil dan masuk ke dalam rumah yang rimbun dengan pepohonan.
" kayanya saya aman di sini," celoteh Awin dengan suara
kecil.
Bapak-Bapak penjaga rumah mencari Awin kesana-kesini. Tapi hal
hasil tidak menemukan Awin.
"Sembunyi ke mana anak itu...," gerutu Bapak-Bapak
penjaga rumah.
Bapak-Bapak penjaga rumah langsung pergi ke jalan yang lain. Awin
duduk diam sampai ketiduran. Hari pun berganti pagi Awin bangun.
"Loh...saya..ketiduran toh di sini sampai pagi," kata
Awin.
Awin bergerak keluar dari taman dan menuju jalan utama. Terlihat
orang sekitar sibuk dengan aktivitasnya. Awin dengan santai membawa kotak yang
berisi bola energi sampai rumah. Selang berapa saat sampai di kontrakannya.
Lalu Awin melihat Ibu pemilik kontrakan sudah setembai di depan pintu rumah
kontrakan Awin.
"Saya..lupa hari ini..........waktu untuk bayaran....uang
kontrakan. Tapi saya....belum punya uang. Lebih baik kabur ah. Hidup di kota
Jakarta kalau gak ada sanak famili...ya gelandangan deh," kata Awin.
Awin pun berbalik arah menuju sebuah tempat yang sepi yang
cukup jauh dari tempat kontrakannya. Selang berapa lama Awin melihat sebuah
gubuk kecil. Dengan perlahan-lahan Awin menuju gubuk kecil di lahan yang
tertutup. Tak di sangka dan di duga. Awin melihat ada orang di dalam gubuk.
Awin dengan hati-hati mengintip dari balik gubuk.
"Haaaaaaa......mesummmmmmmmmmmmmmmm," kata terkejut
Awin.
Awin lupa dan langsung menutup mulut dengan tangan kanan.
"Siapa yang berteriak..itu...?" kata pria.
"Kacau...warga....," kata wanita.
Awin tetap diam di samping gubuk. Pria dan wanita keluar dari
gubuk, lalu pergi dengan cepat meninggalkan tempat tersebut. Awin mendengarkan
langkah mereka pergi. Makin lama makin menjauh pria dan wanita dari gubuk. Awin
bangun dari persembunyiannya dan melihat pria dan wanita terlihat kacau.
"Bener-bener dunia sudah...rusak. Orang nikah gampang.
Eh...malah main yang haram.....lebih banyak di lakukan orang berpikir pendek.
Orang gila lebih banyak di dunia ini," gerutu Awin.
Awin langsung duduk di sebuah kursi tua. Lalu membuka kotak berisi
bola energi. Tiba-tiba terlihat seekor makluk berwarna emas. Awin mencoba untuk
memegang makhuk tersebut. Ternyata sang makluk terbangun dan mencoba untuk
terbang. Dengan cepat Awin menangkapnya dengan tangan kanannya.
"Mau...lari kemana?," kata Awin.
"Lepaskan...saya...," kata makluk berwarna emas.
"Haaaaa.., kamu bisa bicara....?," tanya Awin.
"Ia...saya..bisa bicara....cepat lepaskan saya. Nanti saya
kabulkan permintaan kamu," kata makluk berwarna emas.
"Beneran.......," kata Awin.
"Iya...," saut makluk berwarna emas.
Awin membuka tangan kanannya. Makluk berwarna emas langsung
duduk diam di tangan Awin.
"Cepat sebutkan permintaan kamu...., tapi
cuma...satu.....saja. Karena saya banyak-banyak saya akan di hukum oleh para
Dewa," kata makluk berwarna emas.
"Tunggu...dulu...Dewa...apa saya gak salah
denger.......?," tanya Awin.
"Ia...Dewa....Saya ini peri. Wujudnya aja kaya kumbang berwarna
emas," kata makluk berwarna emas.
"Kalau...begitu...nama kamu siapa?," tanya Awin.
"Peri.....Nila," katanya dengan tegas.
"Nila..toh. Nama saya Awin," katanya dengan lembut
sekali.
"Ya..udah....Awin salam..kenal...cepat.......satu permintaan
saja," kata Nila.
"Apa...ya.............? oh...ini saja uang 1 Milyar aja
deh," kata Awin.
"Hanya 1 Milyar aja. Sama dengan kontes dangdut yang lagi di
perebutkan. Ah..urusan mudah buat kaum seperti...saya mengabulkannya,"
kata Nila.
Dengan kemampuan sihir Nila memunculkan uang 1 Milyar di dalam
koper di atas kursi. Awin pun terkejut dengan kemampuan Nila.
"Sekarang kamu buka koper itu!," perintah Nila.
"Baik," saut Awin.
Awin pun membuka koper dengan pelan-pelan. Telihat uang 1 Milyar.
"Waaw...kerennnn," kata Awin.
"Saya sudah mengabulkan permintaan kamu..jadi saya
pergi dulu," kata Nila.
"Ya......sampai jumpa lagi Nila," kata Awin.
"Males...bertemu dengan kamu lagi.....," gerutu Nila
sambil terbang ke langit berubah menjadi bola energi.
Awin pun menutup kopernya.
"Sekarang...saya..mau ngapain dengan uang ini ya. Begini saja
saya nikahin aja Zaskia.......teman kontrakan saya sekalian bayar kontrakan
sama Ibu pemilik kontrakan supaya urusan beres. Setelah itu buat usaha kedai
makanan," kata Awin.
Awin bergegas dari gubuk di lahan yang tertutup. Selang
berapa saat sampai di kontrakan. Awin segera menyelesaikan urusannya dengan Ibu
pemilik kontrakan. Lalu melamar Zaskia. Selang satu minggu Awin dan Zaskia
mengadakan pesta pernikahan dan seminggu berikutnya usaha kedai makan Awin di
mulai.


0 komentar:
Post a Comment