JAGA MALAM
Malam begitu larut sekali. Saki melihat bulan yang bersinar terang
sekali. Saki berjalan menyusurin jalan di komplek perumahan. Terlihat
tidak jauh di persimpangan suara yang gaduh. Saki mendatengin tempat tersebut.
Terlihat oleh mata Saki tiga orang yang sedang mengobrol di pinggir jalan di
toko Pak Andi. Lalu Saki menghampirinya.
"Selamat malam," sapa Saki dengan rendah diri.
Ke tiga orang yang sedang ngobrol sambil minum-minum langsung
menoleh ke arah Saki.
"Oh...Pak hansip.....ada angin apa bapak ke sini?" tanya
Pak Andi pemilik toko.
"Ya...seperti biasanya...keliling komplek supaya aman,"
saut Mira.
"Ya...ada apa Pak ke sini?" tanya Tono yang sedikit
nyolot.
Saki ingin menjawabnya, tapi melihat wajah ke tiga orang tersebut membuat
perasaan Saki aneh. Lama ke lamaan akhirnya Saki menjawab dengan penuh
kelembutan "Saya...sedang patroli. Hanya terdengar suara gaduh. Takutnya
menggangu orang-orang sekitar lagi istirahat. Apalagi sudah tengah
malam!."
Mereka bertiga bertingkah aneh sekali. Saki melihat ke ganjilan di
dalam diri mereka bertiga. Dengan seksama Saki melihat sekeliling. Ada sebuah
botol bir yang di sembunyikan di bawah meja.
"Ehhhh..pantes mabok," kata hati Saki.
Salah satu menghampiri Saki dengan keadaan sempoyongan.
"Maaf.....Pak..kalau kami menggangu sekitar. Tapi cuma malam
ini saja. Karena kami semua lagi merayakan ulang tahun Tono. Dan sekalian
mengucapkan selamat karena Tono menyatakan cintanya sama Mira," kata
Pak Andi dengan bau mulut yang timbul dari minuman yang di minum.
Saki sedikit mual menciumnya. Karena menjaga nilai kesopanan di
tahannya.
"Oh..begitu keterangan Pak Andi. Kali ini saya maafkan. Kalau
begitu saya permisi," kata Saki.
"Ya....terima kasih...Pak hansip yang baik hati," kata
Pak Andi yang bergerak untuk duduk.
"Terima kasih......atas pengertiannya.....," saut Tono
dan Mira.
"Iya...sama-sama. Kalau gitu saya permisi dulu," kata
Saki dengan rendah diri.
"Ya......," saut Tono.
"Hati-hati di jalan," saut Mira.
"Ya......Pak..selamat bekerja," saut Pak Andi.
Saki pun melangkah meninggalkan mereka bertiga. Baru 7 langkah
mereka bertiga sudah mengunjing Saki yang bukan-bukan. Saki yang mendengarkan
omongan orang yang mabuk langsung menundukkan kepala.
"Niat..baik di bayar dengan keburukan. Salah apa saya hari
ini?. Karma buruk kok mengenai saya. Astaga.....gara-gara mukul kucing.
Pastinya itu...ya..udahlah saya tobat tidak mau menganiaya binatang lagi walau
sebenarnya tidak sengaja," celotehan Saki sambil berjalan.
Saki terus berjalan mengitari kompelek perumahan agar aman. Waktu
menunjukkan jam 3 pagi. Saki langsung kembali ke pos. Terlihat temannya yang
berjaga di pos molor. Saki menepuk pundak Rangga untuk membangunkan dari
tidurnya. Sontak Rangga bangun dari tidurnya.
"Oh..kamu....Saki...," kata Rangga.
"Saya sudah keliling komplek sekarang gantian!,"
perintah Saki.
"Baik....Bos.....," saut Rangga.
Saki langsung duduk sambil menikmati kopi panas yang baru ia buat.
Rangga pun keluar dari pos. Baru 7 langkah lagi. Rangga pun ngoceh"Enak-enak
tidur di bangunin. Dasar pelit."
Saki yang mendengarnya sedikit terkejut. Rangga jojong jalan
meninggalkan pos.
"Kaya gak punya otak. Omongan gak di rem," celoteh Saki.
Lingkungan sekitar makin dingin sekali. Saki mulai
kedinginan.
"Kok aneh..sekali..saya sudah minum kopi panas...masih terasa
dingin...," celoteh Saki.
Saki keluar dari pos untuk melihat keadaan sekitar. Lalu terlihat
seekor kodok melompat menujunya. Tapi tiba-tiba menjadi besar. Saki mulai
merasa takut sekali. Kodok berubah menjadi monster yang menyeramkan. Sontak
Saki berteriak " Setannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn."
Tanpa pikir panjang Saki berlari dengan cepat sekali. Lalu bertemu
dengan Rangga di jalan sedang patroli. Dan mulai menceritakan kejadian. Tapi
Rangga tidak percaya dengan ocehan Saki yang ngelantur. Tapi Saki terus
menyakinkan. Tapi tiba-tiba Rangga berubah menjadi berwujud yang menyeramkan.
Saki makin ketakutan sekali. Sontak Saki berteriak
"Setannnnnnnnnnnnnnnnnn."
Rangga memanggil Saki dengan lantang. Tetapi tetap Saki lari
dengan terbirit-birit. Rangga pun jadi bingung dan mengabaikan Saki. Tapi
ketika Rangga mulai melangkah 7 langkah untuk berpatroli melihat seekor kucing
mendatengin Rangga. Kucing tersebut berubah menjadi besar dan menyeramkan.
Rangga semakin ketakutan. Sontak Rangga berteriak
"Monster......................................................."
Rangga berlari kocar-kacir tanpa tentu arah karena ketakutan.


0 komentar:
Post a Comment