CINTA PERTAMA RIRI
Malam ini Riri tidak bisa tidur karena memikirkan seseorang.
Entah. Sejak kejadian tadi siang, Riri mendadak berubah. Di kelas Riri, ada
seorang lelaki bernama Jo alias Jono. Tepatnya di parkiran sekolah Riri tidak
sengaja berpapasan dengan Jono. Seketika ia merasakan sesuatu yang aneh saat
laki-laki tampan itu tersenyum, senyum yang pertama kali dilihatnya. Riri
sebelumnya tidak pernah melihat Jono tersenyum padanya meskipun sudah dua tahun
mereka satu kelas. Bahkan tidak pernah mengobrol kecuali ada tugas bersama.
Awalnya Riri biasa saja namun akhir-akhir ini ia selalu terbayang akan senyum
yang indah itu.
“Aku harus gimana La?,”
“Ya kamu deketin lah,”
“Kamu yakin?,”
“Udah coba aja dulu,”
Ela adalah teman dekat Riri. Pertemanan mereka sudah
selayaknya persaudaraan.
Riri tidak pernah merasakan hal ini terhadap siapapun tapi
kali ini ia benar dibuat jatuh hati oleh sosok Jono. Jono termasuk orang yang
menyukai kesederhanaan meski dia punya orangtua kaya, dia tidak pernah
menunjukkan keangkuhan. Jono sangat suka membantu orang lain. Seperti yang
dilakukannya di siang ini. Di bawah terik matahari Jono berusaha memperbaiki
motor Riri yang mogok di tengah jalan.
Sejam berlalu akhirnya berhasil.
“Emmm, makasih ya Jo. Untung ada kamu,” kata Riri dengan
wajah memerah karena tidak menyangka Jo ada di sampingnya.
“Iya sama-sama. Ri, aku buru-buru nih. Aku duluan ya,”
“Oh iya hati-hati Jo,” kata Riri sembari melambaikan tangan
yang di balas Jo dengan sedikit senyuman.
Di perjalanan pulang Riri tidak henti-hentinya tersenyum
sendiri. Serasa kebahagiaan menyelimuti hatinya saat ini.
Kian hari kian bertambah kegilaan Riri pada Jo. Di pagi yang
berawan hitam ini. Riri berjalan santai melewati koridor menuju kelasnya.
Pelan-pelan Riri membuka pintu kelas yang terlihat hanya sebuah kesunyian. Riri
melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Huuff pantas aku
yang terlalu pagi” gumamnya sembari duduk di bangku paling depan. Hati Riri
tidak sabar untuk bertemu Jo, pujaan hatinya. Sambil menunggu teman yang lain
datang Riri mengutak-atik ponselnya.
“Ela, kamu dimana aku udah sampai,” sebuah pesan terkirim.
“Iya ini lagi di jalan,” balas Ela.
Sebuah langkah kaki berjalan memasuki kelas. Riri harap itu
adalah Ela ternyata bukan.
“Hei, Ri. Tumben sepagi ini udah datang,”
“Eh Pe, iya soalnya takut kalau nanti hujan,”
Pandi Wijaya adalah ketua kelas. Dia baik, pintar dan tidak
kalah tampan dari Jo. Pandi sering disapa pw(pewe) oleh teman-teman di sekolah.
Dentingan waktu terus bergulir. Baru saja jam pelajaran
telah usai. Tadi pagi hanya mendung dan siang ini terasa dingin oleh guyuran
hujan. Anak-anak lain nekat menerobos hujan deras untuk pulang. Riri berdiri
sendirian berharap hujan akan reda.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang pundak Riri.
“Hei, Ri. Belum pulang?,”
“Iya nih Pe,”
“Kamu gak bawa jas hujan?,”
Riri hanya menggelengkan kepalanya. Riri tampak gelisah
karena sedari tadi hujan belum juga berhenti malah bertambah deras. Pewe
melepas jas hujan yang melekat di tubuhnya.
“Nih pake aja, kayaknya hujan gak reda-reda. Lagian semua
orang di sekolah juga udah pada pulang,”
“Tapi, Pe…,”
“Udah. Aku gampang gak usah khawatir,”
Sebenarnya Riri tidak ingin merepotkan tapi Pewe terus saja
memaksa. Riri pun memakai jas hujan itu. Sementara Pewe harus kehujanan dan
basah kuyup. Riri merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Kemudian
terlelap dengan mimpinya. Baru saja ia memasuki ruang mimpinya ia harus
terbangun karena gedoran pintu kamarnya yang mengusik kupingnya.
“Ada apa sih ma?,”
“Itu ada temanmu datang,”
“Siapa ma? Ela?,”
“Udah sana lihat sendiri,”
Dengan mata masih mengantuk Riri menuju ruang tamu.
Langkahnya tiba-tiba saja terhenti. Matanya terbelalak tidak percaya.
“Ini beneran Jo kan,”
“Iya kenapa Ri? kok kaget gitu?,”
“Oh eh iya gak, gak apa apa” Riri dibuat gelagapan
Kedatangan Jo ke rumah Riri memang mengundang berbagai
pertanyaan di hati Riri.
“Aku kesini mau ngasih buku kamu yang ketinggalan di kelas,”
“Oh iya aku kira buku ini hilang. Makasih ya Jo. Untung ada
kamu,” kata Riri sembari tersenyum.
Yang lagi-lagi Jo ikut tersenyum.
Riri dibuat tidak karuan.
Hatinya bagaikan bunga yang sedang bermekaran. Setelah Jo pergi. Riri melanjutkan tidur siangnya yang
tertunda.
Hari berganti hari. Langit tetap biru. Hati Riri masih tetap
pada Jo. Namun Riri tidak melihat ketertarikan Jo pada dirinya. Semua seperti
biasa saja. Karena kegilaannya pada Jo. Riri nekat mengajak Jo bertemu di taman
dekat rumahnya.
“Maaf Ri, aku buat kamu nunggu,”
“Oh iya gapapa aku juga baru datang,”
“Ada apa nih tumben Riri ngajak ketemu disini?,”
Riri menarik napas pelan
“Jo, aku… aku… aku…, aku sebenarnya suka sama kamu Jo, lebih
dari sekedar teman,” Riri sangat gugup sampai tidak ingin menatap mata Jo, sementara Jo terdiam.
Selang beberapa detik Jo akhirnya
mengeluarkan suaranya.
“Ri, bukannya aku mau buat kamu kecewa tapi…,”
“Tapi apa Jo?,”
“Aku udah punya cewek namanya Sena,”
“Apaaa?? Tidaaaaaaaaaakkkk!!!,”
Riri terbangun dari mimpi buruknya. Ia menepuk pipinya yang
terasa sakit. “Cuma mimpi” kata Riri bernafas lega.
Keesokan harinya Riri dan Ela sengaja membuntuti kemana Jo
akan pergi sepulang sekolah. Riri ingin memastikan bahwa mimpinya itu bukanlah
kenyataan. Hasilnya pun mengecewakan dan benar Jo menjemput kekasihnya, Sena.
Sena adalah anak sekolah lain. Pantas saja Jo selalu buru-buru pulang.
Cinta pertama Riri harus menelan kekecewaan.
“La, Jono jahat banget sih,” kata Riri terisak di pelukan
Ela.
“Udah Ri gak usah sedih. Jono gak jahat kamu nya yang suka
sama orang yang gak tepat. Lagian masih ada Pewe,”
Riri menatap Ela.
“Maksudnya apa?,”
“Ya gini nih kalau gak peka. Pewe itu suka sama kamu tapi
dia gak mau bilang soalnya kamu sih sibuk merhatiin Jono,”
“Serius?,”
“Iya dua rius malah. Gak sama Jono jadi sama Pewe nih,”
ledek Ela
Riri memang harus kecewa dan membiarkan cinta pertama


0 komentar:
Post a Comment