DISAPPEAR
KALAU boleh jujur, aku menyesal sudah
memberontak nasihat nenek. Padahal, aku tahu konsekuensi yang akan didapat
pasti besar dan berdampak buruk untukku. Begitulah, tingkah laku seorang gadis
berumur lima belas tahun kebanyakan; memberontak.
Pertama-tama, dampak yang paling kentara
untukku adalah: menghilang di dunia antah berantah. Yang kedua, aku tidak tahu
di mana pintu untuk kembali ke dunia manusia. Ketiga: aku tersesat.
“sial!” aku menendang bongkahan batu
yang dengan ajaibnya bisa terlempar begitu jauh. Tapi, untuk saat ini mari
jangan membahas hal itu dulu, karena aku kedatangan masalah baru, yaitu:
matahari kembali ke singgasananya di ufuk barat dan aku masih linglung mencari
arah pulang. Hawa dingin terasa menusuk ke dalam tulangku, gigiku bergemeletuk
menahan dingin.
Jadi, dampak buruk yang keempat adalah:
aku bisa mati karena terkena hipotermia.
“diam!” Tiba-tiba ada yang menarik
tangganku sehingga aku terjungkal ke belakang. Baru saja aku ingin melayangkan
protes, orang itu sudah membekap mulutku.
Dia mendesis lirih, “diam atau kita
mati!”
“tap—”
“diam saja!” bentaknya tertahan.
Dia lalu terkekeh pelan, “kau ingin
tetap hidup, ‘kan?”
“kau tidak melihat pangeran?!” Teriak
seseorang dengan lantang. Setelah suara itu, suara tertusuk langsung masuk ke
telingaku.
Jangan bilang…
Orang itu mengagguk pelan. Isyarat
mutlak yang harus kutaati jika aku masih ingin tetap hidup. Oh, sekarang aku paham maksudnya. Tak lama, suara geraman penuh kekesalan
menggema di tengah keheningan malam yang berubah mencekam. Lalu, suara kaki
yang berlari menjauh menjadi hal terakhir yang membuat menahan napas.
“akhirnya..” helaku sembari mengelus
dada.
“hei, namamu siapa?” baiklah, aku baru
ingat kalau masih ada orang lain.
Aku terdiam.
“apakah sopan mengabaikan pertanyaan
orang lain?”
“Lyra.”
“Lyra? namamu buruk.” Komentarnya
sembari terkekeh kecil.
Wajahku merah padam, “apa yang kau
bilang?!”
“aku Leo, salam kenal!”
Alku terperangah.
“ah ya, kau ikut denganku ya?”
“unt—”
“kau akan dapat imbalannya, tenang
saja!” serunya.
Aku mengerenyitkan dahi, “memangnya aku
harus melakukan apa?”
“menjadi tunanganku.”


0 komentar:
Post a Comment