DISAPPEAR

Posted By Cerpen universal on Friday, July 9, 2021 | July 09, 2021

DISAPPEAR

KALAU boleh jujur, aku menyesal sudah memberontak nasihat nenek. Padahal, aku tahu konsekuensi yang akan didapat pasti besar dan berdampak buruk untukku. Begitulah, tingkah laku seorang gadis berumur lima belas tahun kebanyakan; memberontak.

Pertama-tama, dampak yang paling kentara untukku adalah: menghilang di dunia antah berantah. Yang kedua, aku tidak tahu di mana pintu untuk kembali ke dunia manusia. Ketiga: aku tersesat.

“sial!” aku menendang bongkahan batu yang dengan ajaibnya bisa terlempar begitu jauh. Tapi, untuk saat ini mari jangan membahas hal itu dulu, karena aku kedatangan masalah baru, yaitu: matahari kembali ke singgasananya di ufuk barat dan aku masih linglung mencari arah pulang. Hawa dingin terasa menusuk ke dalam tulangku, gigiku bergemeletuk menahan dingin.

Jadi, dampak buruk yang keempat adalah: aku bisa mati karena terkena hipotermia.

“diam!” Tiba-tiba ada yang menarik tangganku sehingga aku terjungkal ke belakang. Baru saja aku ingin melayangkan protes, orang itu sudah membekap mulutku.

Dia mendesis lirih, “diam atau kita mati!”

“tap—”

“diam saja!” bentaknya tertahan.

Dia lalu terkekeh pelan, “kau ingin tetap hidup, ‘kan?”

“kau tidak melihat pangeran?!” Teriak seseorang dengan lantang. Setelah suara itu, suara tertusuk langsung masuk ke telingaku.

Jangan bilang…

Orang itu mengagguk pelan. Isyarat mutlak yang harus kutaati jika aku masih ingin tetap hidup. Oh, sekarang aku paham maksudnya. Tak lama, suara geraman penuh kekesalan menggema di tengah keheningan malam yang berubah mencekam. Lalu, suara kaki yang berlari menjauh menjadi hal terakhir yang membuat menahan napas.

“akhirnya..” helaku sembari mengelus dada.

“hei, namamu siapa?” baiklah, aku baru ingat kalau masih ada orang lain.

Aku terdiam.

“apakah sopan mengabaikan pertanyaan orang lain?”

“Lyra.”

“Lyra? namamu buruk.” Komentarnya sembari terkekeh kecil.

Wajahku merah padam, “apa yang kau bilang?!”

“aku Leo, salam kenal!”

Alku terperangah.

“ah ya, kau ikut denganku ya?”

“unt—”

“kau akan dapat imbalannya, tenang saja!” serunya.

Aku mengerenyitkan dahi, “memangnya aku harus melakukan apa?”

“menjadi tunanganku.”
Blog, Updated at: July 09, 2021

0 komentar:

Post a Comment