BETWEEN US (PART 2)
Keesokan harinya, teror kembali datang
menghampiri Cadie. Kali ini, tepat di dalam loker Cadie, terdapat sebuah
bingkai foto dirinya dengan kaca yang sengaja di retak dan sebuah cutter di
sebelahnya.
Tidak hanya itu saja, ada sebuah CD yang
bertuliskan “nice memory” dengan warna tulisan merah gelap.
“Oh, tidak,” gumam Cadie dengan suara
yang bergemetar.
Diselimuti rasa penasaran, Cadie segera
membuka laptop di kelas dan membongkar isi CD itu. Beruntung saat itu jam
istirahat dan kelas masih sepi.
Isi video tersebut adalah sebuah ruangan
gelap yang berlangsung selama 30 detik, kemudian dilanjutkan dengan lampu yang
hidup mati dengan buku yang berjatuhan. Kemudian, di menit pertama muncul
seorang laki-laki dengan jaket hitam yang menutupi seluruh wajahnya dan
mendekatkan wajahnya yang tertutup ke arah kamera. Bip! Kamera langsung mati
dan muncul beberapa kalimat: “Apa kau ketakutan? Tunggu terorku selanjutnya.
Kuharap kau menikmatinya, Cadie Fransesca^^”
Kalimat yang sama muncul namun kali ini
disertai dengan nama asli Cadie.
Cadie kembali ketakutan dan mengeluarkan
CD-nya. Sekarang, Cadie menjadi seorang yang sangat ketakutan.
“Siapa laki-laki itu? Lokasi tadi juga
adalah perpustakaan sekolah. Apa laki-laki itu berada di sana sekarang?” Cadie
menyimpan laptopnya dan berlari menuju perpustakaan. Otaknya diselimuti rasa
penasaran.
Seperti yang ia duga, perpustakaan
sangat sepi karena para siswa berlarian ke arah kantin. Walau jantung Cadie
berdebar kencang, ia tetap mencari orang itu. Siapa tau ia mendapat informasi.
“Ooh, Cadie. Sudah lama kamu tidak ke
sini,” sapa Miss Rena, penjaga perpustakaan.
“I.. iya, Miss. Ehm, Cadie boleh nanya
sesuatu?”
“Mau nanya apa, Cadie?”
“Apa ada seorang laki-laki yang membuat
video di sini?” tanya Cadie yang membuat suasana menjadi serius.
“Oh, kemarin ada! Dia mengenakan jaket
hitam dan sempat menyapa saya. Tapi, saya tidak tahu namanya karena baru
pertama kali saya lihat dia,” jawab Miss Rena panjang lebar.
Cadie tersentak kaget. “Apa Miss tahu
ciri-ciri wajahnya?”
“Kalau itu saya tidak tahu karena ia
mengenakan masker. Mungkin dia flu,” jawab beliau.
Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundak
Cadie. Cadie kaget dan menoleh ke belakang. Rupanya itu Varel.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Varel.
“Hanya ingin mencari informasi saja,”
jawab Cadie kemudian berpamitan pada Miss Rena dan mengajak Varel keluar.
Mereka berjalan menuju taman sekolah
yang letaknya di belakang gedung sekolah. Tapi, ada sesuatu yang janggal pada
Varel dan itu dirasakan oleh Cadie.
Uhuk! Uhuk! Varel terbatuk dan kemudian
sempat terjatuh. Cadie membopong Varel untuk dibawa ke UKS, tapi Varel
menolaknya.
“Ayolah, kamu juga pernah seperti ini
saat kita kelas 1 SMP. Kau selalu saja menolak,” Cadie tetap memaksa.
“Tidakk.. aku mohon, jangan bawa aku ke
UKS atau pun rumah sakit, please, uhuk! Uhuk!” Batuk Varel makin parah dan ia
mulai memegangi dadanya sambile merintih kesakitan.
“Tuh, kan! Ayo kita ke UKS!” paksa Cadie
memegang erat kedua tangan Varel.
“Sudah kubilang aku tidak mau!” bentak
Varel kemudian menghempaskan kedua tangan Cadie. Saat itu juga, angin berhembus
kencang dan Varel kabur entah kemana.
“Varel!” seru Cadie sambil mencari sosok
Varel.
Kejadian ini sering Cadie alami. Varel
begitu aneh. Dia tidak ingin dibawa ke UKS ketika dia sakit, angin berhembus
kencang ketika ia marah, dan pernah sekali, Cadie melihat Varel melayangkan
sebuah buku dengan tangan kosongnya. Namun Cadie menganggap itu hanya
halusinasinya.
Dua hari setelah itu, Varel tidak pernah
kelihatan dan teror sepeti berhenti menghampiri Cadie. Cadie merasa senang
sekaligus sedih karena tidak bisa melihat Varel.
Sabtu sore, dimana saat itu Cadie pulang
telat karena harus menghadiri rapat OSIS yang begitu panjang. Saat ia
menghampiri lokernya, alangkah terkejut nya Cadie saat melihat sebuah boneka
dengan tampilan seram dan sebuah cutter lagi di sebelahnya. Ternyata teror
belum berakhir.
Tidak ketinggalan, ada sebuah surat yang
isinya: “Sekarang? Apa kau menyerah? Apa kau penasaran dengan sosokku yang
sesungguhnya? Ku harap kau menikmatinya^^”
Kalimat yang agak membuat Cadie sedikit
lega. Ya, tidak ada tulisan “tunggu terorku selanjutnya.”
Puk!
Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Cadie.
“Varel?” Kini posisi Cadie menghadap ke
arah Varel.
“Iya, ini aku. Sebelumnya, aku minta
maaf karena membentakku saat itu,” tutur Varel dengan suara yang agak serak.
“Kau tahu? Aku merindukanmu,” ucao Cadie
riang kemudian memeluk Varel. Varel tersentak kaget dan membalas pelukan Cadie.
“Mungkin ini akan menjadi pelukan
pertama dan terakhirku, di antara kita,” gumam Varel dalam hati.
Cadie melepas pelukannya dan mengajak
Varel pulang bersama. Tapi saat Cadie menarik tangan Varel, Varel tidak
bergerak sedikit pun.
“Varel?” Cadie mengguncang sedikit tubuh
Varel.
Perlahan-lahan tatapan Varel mengarah ke
Cadie. Wajahnya pucat, mata elangnya menatap Cadie dengan lembut, dan perlahan
tangan kanan Varel mengusap kepala Cadie.
Jantung Cadie mendadak berdebar kencang.
Sebelumnya, Varel tidak pernah bersikap seperti itu padanya.
Dalam hatinya, ia sangat menyukai Varel.
Tapi ia tidak berani untuk mengungkapkannya.
“Apa kau menyukaiku?” tanya Varel yang
sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Cadie.
“Hee? A..apa? Aku? Me..nyukaimu?” Cadie
spontan kaget mendengar pertanyaan itu.
Tiba-tiba saja suasana mendadak hening.
Di sore itu, di detik itu, Cadie merasa jantungnya berdebar dengan sangat
kencang. Cadie menundukan kepalanya dari Varel yang lebih tinggi darinya.
“Kau tahu? Aku menyukaimu Cadie,” jawab
Varel. Cadie mengangkat kepalanya dan saat itu juga Varel jatuh pingsan.
“Varel!”
Beberapa saat kemudian, Varel tersadar,
kondisinya tidak baik dam wajahnya semakin pucat dari sebelumnya.
“Cadie…,” lirih Varel pelan.
“Varel. Kau baik-baik saja? Apa yang
kamu rasakan sekarang?” tanya Cadie bertubi-tubi dengan wajah cemas.
“Cadie, maafin aku ya!”
“Maaf? Maaf untuk apa?” tanya Cadie
tidak mengerti.
“Akulah yang menerormu selama ini,”
jawab Varel yang membuat Cadie kaget.
“Dengar, aku menerormu bukan sembarangan
meneror. Aku… merasa kesepian sejak kecil. Karena… aku memiliki kemampuan yang
aneh. Entah mengapa, aku bisa menembus dinding dan melayangkan sesuatu dengan
tangan kosong. Terlebih lagi, ketika aku marah angin berhembus kencang,” terang
Varel yang melayangkan pandangannya ke langit-langit ruangan.
Cadie yang duduk di sebelahnya terlihat
serius mendengarkan. Ia seperti tidak peduli terhadap teror yang dilakukan
Varel kepadanya.
“Dan karena kemampuan itu, aku jadi
mudah sakit. Aku beralasan tidak ingin ke UKS mau pun rumah sakit, karena aku
tidak mau identitasku terbongkar saat pemeriksaan. Aku.. benar-benar merasa
terjatuh dan merasa seperti orang asing di dunia ini.” Varel mengalihkan
pandangannya ke arah Cadie.
“Saat itu aku sadar, penyakitku tambah
parah dan semakin sering aku menggunakan kemampuanku, aku semakin frustasi dan
pingsan. Aku sadar bahwa sebentar lagi aku akan mati, haha,” tutur Varel yang
disertai cengiran khasnya.
Cadie terdiam dan masih menatap Varel
dari atas sampai bawah. Tenaganya mulai melemah. Terbesit rasa khawatir di
dalamnya.
“Aku menerormu karena aku ingin mati
bersamamu. Aku bodoh, kan?”
Deg!
Jawaban Varel yang itu mampu membuat
Cadie membuka mulutnya.
“Varel! Kenapa kamu berbicara seolah
ingin cepat mati? Tidak ada yang tahu kapan seseorang mati dan aku…,” Cadie
mulai menangis “tidak ingin kehilangan kau.”
Varel tersenyum lebar dan memegang erat
jari-jemari Cadie. “Aku juga tidak ingin meninggalkanmu. Dan satu hal lagi,
bisakah kau tetap di sini? Menemaniku?” pinta Varel.
“Aku akan menemanimu,” jawab Cadie.
Varel mengusap rambut Cadie dan menyeka
air matanya.
“Aku mencintaimu, Cadie.”
Walau kaget, tapi Cadie senang mendengar
kalimat itu. Cadie terdiam.
“Katakan sesuatu, dong! Kamu tidak bisa
memaafkanku, ya?” Varel memasang wajah cemberut.
Seketika saja, Cadie tertawa. “Aku
maafin kamu, kok! Dan… Aku juga mencintaimu, Varel.”
Mereka berdua tertawa dan merasakan
sebuah momen yang sangat berarti. Di antara mereka, ada teror dan cinta.
Namun, Cadie merasakan bahwa Varel
terlalu lama tidur setelah Mereka bercanda bersama. Ia memanggil dokter dan
kesedihan kembali menyelimuti Cadie. Varel sudah tiada dan itu membuat Cadie
merasa sangat terpukul.
Meski begitu, Cadie tetap masih bisa
tersenyum karena Varel akan selalu ada di hatinya.
“Aku mencintaimu, Varel Agatha.”
Yang masih terbesit di pikiran Cadie
adalah, siapa yang memotret Varel dari belakang saat akan mendorong Cadie?
Apakah mereka bersekongkol? Atau itu tak sengaja. Karena setelah kematian
Cadie, teror masih berlangsung selama tiga hari. Peneror tersebut berjenis
kelamin perempuan dengan jaket hitam yang menutupinya.


0 komentar:
Post a Comment