TIGER FIRE
Hari Itu udara dingin telihat dari awan mendung Takumi melewati sebuah gang kecil. Tiba-tiba hujan turun sangat deras, Takumi berlari sangat cepat menuju rumah. baru melewati sebuah pengkolan Takumi terpeleset dan masuk ke dalam lorong yang gelap terus melaju dengan cepat. Terbawa oleh arus air yang mengalir sampai ke suatu tempat yang luas. Takumi tercebur, berusaha untuk berenang dan kepinggir agar selamat. Takumi berusaha melihat sekeling di antara gelapnya suasana hanya sedikit cahaya. Takumi mengikuti cahaya itu terus sampai pada sebuah tempat yang menajubkan. Takumi membuka gerbang yang besar itu. Dengan perlahan masuk ke dalam. Dengan berani Takumi terus melangkah. Di depan matanya melihat sebuah benda yang besar dan membatu. Takumi mencoba untuk menyentuhnya dengan tangan kanannya.
"Waw sangat menajubkan," kata Takumi karena kagum dengan patung berbentuk Macan yang di silimuti bentuk kobaran api.
Sebuah fenomena terjadi. Patung itu mulai retak-retak. Takumi terkejut dan menjauhi patung tersebut. Retakan itu terus menjalar dan pada akhirnya sang makluk besar bangkit dengan kobaran api. Meraung dengan keras dan bara api terus berkobar dari tubuhnya.
Takumi ketakutan dan bersembunyi sebuah batu besar. Diam dan membisu, supaya tidak ketahuaan. Macan api mulai menggerak -gerakkan tubuhnya. Sudah ribuan tahun tertidur menunggu tuan yang baru. Lalu Macan Api berubah menjadi kecil seukuran kucing padahal tadi gedek banget, kaya Raksasa Macan.
Kemudiaan Macan Api menghampiri Takumi yang bersembunyi sambil mengelus tubuhnya ke kaki kirinya Takumi.
"Aaaa," teriak Takumi.
Setelah itu Takumi langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Melihat kucing manis tersebut Takumi segera memegangnya supaya tidak terkam makluk mengerikan. Tapi Takumi merasa aneh, lalu mencoba melihat keadaan sekitar dengan tengok sedikit. Terlihat gak ada, Takumi tambah bingung sambil menggendong kucing Takumi keluar dari persembunyiannya.
"Apa yang di cari?" kata kucing.
Terkejut dan takut, Takumi mencari suara itu.
"Apa yang di cari?" sekali lagi kucing itu bicara.
"Aaaaaaaaa," teriak sambil melepaskan gendongan Takumi ke kucing.
"Meong," sahut kucing.
"Ja....ja.....di kamu bisa bicara ," kata Takumi dengan penuh terkejut dan takut.
"Ya, begitulah, " sahut kucing.
"Tapi, ngomong-ngomong siapa kamu?" Kata Takumi dengan bingung tapi penasaran.
"Sebelum menjelaskan semuanya, Saya berterima kasih telah membangunkan Saya dari tidur panjang. Jadi tandanya udah waktunya Saya bekerja sama lagi dengan manusia untuk membasmi makluk jahat yang bernama Raja Iblis Murdok."
"Maksudnya," kata Takumi memotong pembicaraan.
"Maksudnya, kamu siapa namamu?" tanya Kucing.
"Oh ya, em....em nama saya, Takumi."
"Takumi sekarang kita berteman dan bekerja sama membasmi kejahatan. Nama saya, Belang."
"Ok, tidak jadi masalah," jawab Takumi dengan tegas.
Belang pun sontak berubah menjadi besar lagi dengan wujud luar biasanya. Takumi pun terkejut dan mencoba menutup matanya karena silau oleh pancaraan api yang membara.
"Kalau begitu, Saya Belang Raja dari golongan Makluk buas elemen api mengikat perjanjiaan dengan Takumi. Dengan ini Saya memberikan kekuatan elemen api pada Takumi sebagai ikatan persetujuaan."
Belangpun berubah seluruh jadi api dan mengitari Takumi dan bersatu ke dalam tubuhnya. Muncul sebuah gelang kekuatan berbentuk jam di pakai di tangan kirinya. Setelah itu belang bersemayam di jam tersebut.
Takumi menembak bola api tidak sengaja dengan tangan kanannya. Terjadi ledakan api yang suguh menajubkan. Takumi seneng sekali mendapatkan kekuataan itu. Berjingkrak kegirangan.
"Sudah cukup," Kata Belang dari Jam tangannya.
Takumi tetap terdiam sebentar dan mencoba lagi tembakan api. Berkali-kali melakukan sampai tempat itu bergetar dan runtuh. Takumi mulai bingung dan lari dari tempat tersebut menuju lorong keluar di beri petunjuk oleh Belang. Dengan berlari sangat cepat seperti macan Takumi sampai ke luar permukaan. Melihat matahari yang indah dan udara sejuk. Belang pun keluar dari jam berubah jadi kucing dan menikmati juga udara yang segar dan indahnya alam.
"Jadi kapan kita beraksi ?" Kata Takumi.
"Dasar manusia, nanti kalau ada serangan," kata Belang.
"Maksudnya," tanya Takumi.
"Mana, guwe tahu. Memangnya Saya tahu keberadaannya."
"Jadi, nunggu nii, tetapi kenapa keluar dari jam kekuataan ini?," kembali bertanya Takumi.
"Sudah jelaslah, saya mau bersenang-senang dulu. Jadi gunakan kekuatan yang bersemayam dalam tubuh itu Takumi. Setelah panggil nama saya untuk perubahaan sempurna."
"Jadiii....berubah seperti apa ?" Tanya Takumi.
"Sudah jelaslah jadi Macan Api," Tegas Belang.
Takumi mengerti dan pergi meninggal tempat tersebut di balik taman yang rimbun di penuhi pepohonan. Berjalan keluar dari daerah tersebut menuju rumah pinggir kota. Takumi dan Belang terus melangkah dengan arah tujuan yang pasti.


0 komentar:
Post a Comment