RENCANA KEBOHONGAN

Posted By Cerpen universal on Thursday, November 28, 2019 | November 28, 2019

RENCANA KEBOHONGAN


Mentari bersinar lebih terang dari biasanya. Sekumpulan orang berbondong-bondong memasuki gedung pengadilan kabar yang telah berhari-hari dibincangkan penduduk kota hari ini terlaksana sesuai kertas pengumuman di setiap sudut kota yang berbunyi, "Hari ini vonis terhadap pembunuh gandis". Sudah dua bulan terakhir pemberitahuan koran selalu menyoroti jalannya persidangan pembunuhan tersebut. Seorang pria tua diseret ke ruang pengadilan atas tuduhan pembunuhan seorang gadis berusia 12 tahun.

Gabriel, adalah pengusaha sukses di bidang percetakan. Ia adalah kerabat bisnis Desy seorang gadis yang di juluki jenius oleh penduduk kota, ia merupakan gadis kecil yang sukses menghasilkan pundi-pundi kekayaan dari karya sastranya. Hubungan Gabriel dan Desy belakangan mengalami masalah, Desy dikabarkan sering melalaikan perjanjian yang dibuat antara keduanya. Meskipun begitu setiap penduduk kota tahu jika tidak ada siapapun yang berani menyentuh Desy si anak jenius, gadis lugu itu adalah anak angkat seorang pejabat di negeri ini.

Tiga bulan yang lalu Desy dinyatakan hilang oleh kepolisian setempat, di duga ia telah di bunuh dengan di potong-potong oleh seseorang setelah ditemukan banyak bercak darah di kamarnya. Namun sayang pihak kepolisian tidak menemukan bukti lain termasuk mayat dari Desy. Desakan dari penduduk kota yang marah membuat pihak kepolisian menyeret Gabriel sebagai tersangka. Pria paruh baya itu merupakan sosok terakhir yang dilihat para saksi sebelum Desy menghilang.

"Hadirin yang aku hormati, agenda hari ini adalah pembacaan putusan oleh Hakim terhadap tersangka Gabriel, atas tuduhan pembunuhan anak di bawah umur," ucap Panitera Pengadilan.

Seketika sorak-sorakan dari pengunjung membuat ruangan yang sesak semakin gaduh. "Tok... tok... tok.." suara palu Hakim dibunyikan. Hakim memperingati para pengunjung untuk tetap tenang selama jalannya persidangan.

Anggota Hakim termuda mulai membacakan intisari persidangan dari awal. Raut wajah Gabriel semakin pucat, ia yakin kalau bukan dirinya yang membunuh Desy, walaupun para penduduk menyaksikan kebersamaan dengan Desy di hari sebelum gadi tersebut menghilang.

"Hukum mati tua bangka itu," teriak salah satu pengunjung.

Suara-suara itu memang sering terdengar selama persidangan di mulai. Gabriel mengetahui kalau ia terancam kehilangan nyawanya andaikata Hakim memutus demikian.

Menurut tim kuasa Gabriel, kasus ini amat menggelikan karena bukti yang diberikan terlalu minim dan bersifat ada campur tangan dari pejabat setempat. Kasus ini seharusnya dihentikan, Gabriel yang berusia 75 tahun tidak mungkin dapat memutilasi gadis kecil seorang diri. Pria itu sudah menganggap gadis itu seperti cucunya sendiri. Tetapi nasi telah menjadi bubur, tiga jam berjalan, akhirnya tibalah majelis hakim membacakan keputusannya. 

"Setelah menimbang dari berbagai sudut pandang, maka terdakwa Gabriel dijatuhi pidana hukuman mati," ucap Hakim.

Pria tau itu pun bereaksi dengan teriakan "Aku tidak bersalah".

Kabar vonis itu langsung tersebar seantero negeri. Banyak penduduk kota yang mengamini keputusan tersebut, tetapi banyak pula yang menyayangkan. Mereka beranggapan bukti yang minim seharusnya sulit menentukan kalau seorang pria tua dapat menghabisi nyawa gadis kecil bahkan dengan dimutilasi.

Entah bagaimana kisahnya, setelah setahun pasca vonis hukuman mati, Gabriel langsung di bawa ke alun-alun kota untuk menerima hukuman mati dengan cara di gantung. Kabar beredar jika eksekusi akan dilakukan saat senja menjelang tepatnya pukul 5 sore. Meski jam baru menunjukkan pukul 2 siang, tetapi para penduduk sudah mulai menyelimuti alun-alun kota. Mereka antusias melihat kasus pembunuhan yang membuat kota sempat mencekam selama beberapa bulan. Sebagian penduduk kota percaya jika anak buah Gabriel akan membakar kota setelah vonis dibacakan, walau pada faktanya tidak terjadi apa-apa.

Jam tua di alun-alun sudah menunjukkan pukul 4.45, rombongan yang membawa Gabriel, telah tiba menggunakan kereta kuda. Pria tua itu terlihat semakin kurus dengan dibalut pakaian serba hitam sesuai keinginannya. Terlihat dua orang mengirim Gabriel menuju atas panggung, di belakangnya terlihat pria berbahan besar menggunakan topeng, ia adalah algojo yang akan mengeksekusi Gabriel. Setelah sampai di atas panggung, pria berkumis tebal membacakan sesuatu dari secarik kertas, "Hadirin penduduk kota tibalah kita dengan momen yang bersejarah di kota ini, kita akan menyaksikan seorang pembunuh berdarah dingin merenggang nyawa disaksikan para penduduk kota...". Di akhir pidatonya, ia meminta Tuan Gabriel menyampaikan pesan terakhirnya. "Hai penduduk kota, ketahuilah usiaku tidak akan lama lagi, tetapi lihatlah keadilan akan nampak setelah ku pergi," ucap pria tua itu. Penduduk kota yang terlanjur marah tetap meneriaki pembunuh sepanjang Gabriel berbicara.

Algojo pun mulai mengalungi leher pria tua itu dengan tali tambang yang besar. Tidak lama kemudian, "Jreek". Pijakan kaki Gabriel diturunkan, pria tua pun itu sudah kehilangan nyawa akibat eksekusi gantung yang dilakukan tadi. Penduduk kota bersorak bergembira atas eksekusi ini, mereka senang di kotanya sudah tidak ada lagi pembunuh berdarah dingin.

Namun sayang momen ini segera berakhir ketika sorang gadis berusia 13 tahun datang ke alun-alun. Seraya menangis ia mengucapkan, "Maafkan aku Bapak Gabriel, seharusnya aku datang satu jam lebih awal agar eksekusi ini tidak terjadi". Gadis ini adalah Desy yang dikabarkan terbunuh oleh Gabriel. Desy bercerita kalau semua ini adalah rencananya untuk mendalami kisah yang akan dijadikan novel olehnya, ia sengaja membuat penduduk kota merasa ia telah terbunuh. Dan menjadikan Gabriel sebagai tersangka, meskipun pria tua itu tidak mengetahui apa yang ia rencanakan. Ia berencana untuk hadir lebih awal dan mengagalkan eksekusi, ia ingin melihat reaksi penduduk kota yang terkenal dangat ramah berubah menjadi penuh amarah.

Gadis itu beranggapan jika Gabriel akan memaafkannya kalau mengetahui rencananya akan berdampak pada hasil penjualan bukunya nanti. Namun sayang rencana gadis lugu itu malah membuat seorang yang tidak bersalah harus kehilangan nyawa akibat ulahnya. "Ya Tuhan apa yang telah kita lakukan, apakah ini yang diucapkan di Gabriel sebelum eksekusi tadi," ucap salah seorang Ibu diantara penduduk kota. Orang-orang yang berada di alun-alun pun seketika mematung melihat Desy dengan badan sehatnya bercerita tentang rencananya.
Blog, Updated at: November 28, 2019

0 komentar:

Post a Comment