POHON KERAMAT
Baru lewat pohon yang di keramatkan alias di sembah-sembah dekat pekarangan kuil. Tito hanya lewat situ. Eeee melihat ....penampakan hantu anak kecil yang berdiri di samping pohon keramat.
Tito langsung lari gemecir ketakutan sekali "Gak Jepang Gak di Indonesia pasti ketemu hantu gentayangan."
Tito pun terus berlari sampai di rumah. Lalu Tito mengatur nafasnya di dalam rumahnya. Paman Bino melihat Tito yang pucat masam terlihat banget di wajahnya karena khawatir Paman Bino bertanya untuk mengetahui keadaan Tino "Kenapa kamu Tito sampai seperti...ini kaya orang ketakutan?"
"Anu...anu....Paman Bino....aku melihat hantu di dekat kuil tepatnya di sebelah pohon yang di keramatkan," penjelasan Tito.
"Hantu....tidak percaya. Siang-siang begini?!" kata Paman Bino.
"Terserah kalau...Paman Bino tidak mau percaya," kata Tito.
"Ya...udah makan siang dulu. Paman hari ini masak makan kesukaan kamu.....ala jepang gitu!" kata Paman Bino.
"Hore makan....yang enak buatan Paman Bino," kata Tito.
Tito pun melupakan kejadian dirinya melihat hantu dan asik makan siang bersama Paman Bino. Setelah perut kenyang. Tito berdiam diri di kamarnya kadang main game. Lama-lama Tito suntuk....karena teman bermain. Maklum Tito baru dateng dari Indonesia dan tinggal di Tokyo....negara Jepang. Tito berusaha beradaptasi dengan lingkungan sebaik mungkin.
Waktu berganti malam sampai akhirnya makan malam bersama Paman Bino....tetap Tito masih murung karena tidak memiliki sahabat untuk di ajak ngobrol atau bermain seumuranya. Ada yang bertamu ke rumah teman Paman Bino....ya orang Jepang gitu deh....tepatnya cewek cantik. Tito pun berkenalan teman Paman Bino bernama Sakura....lebih tepatnya di panggil Tante Sakura oleh Tito. Saat itu pula ada gadis kecil seumuran Tito masuk rumah dan berkata "Maaf Ibu aku telat untuk main ke rumah Paman Bino....karena baru selesai....urusan sekolah".
"Gak apa-apa? Haruka," kata Ibu Sakura.
Tito hanya bingung saja jika orang Jepang bicara pake bahasa Jepang....karena tidak mengerti. Lalu Tito di perkenalkan Haruka lewat Paman Bino dan Tante Sakura. Tito berteman baik dengan Haruka. Acara ngobrol pun berlanjut sampai tengah malem baru deh Haruka dan Ibunya meninggalkan kediaman rumah Paman Bino.
Tito pun beristirahat di kamarnya begitu juga dengan Paman Bino. Keesokan harinya. Tito seperti biasa menjalankan aktivitas seperti biasa....maklum masih liburan belum waktunya sekolah. Tito pun bermain bersama Haruka dan melewati pohon keramat di pekarangan kuil. Bulu kuduk Tito pun naik hendak berlari meninggalkan tempat itu secepat mungkin....karena ada Haruka di tahan. Tito menahan takutnya. Lagi-lagi melihat hantu. Tapi Haruka tidak melihat hantu tersebut. Tito tambah bingung dengan keadaannya bisa melihat hantu. Tito pun teringat perkataannya yang menggunakan bahasa jawa....yang anggap sakral....tapi sifatnya mainan. Tito pun mengucap kata itu dengan lantang di hadapan Haruka untuk membuktikan kebenaran bahwa dirinya melihat hantu. Haruka mendengarkan perkataan Tito dengan baik pake bahasa jawa.
Sekejab hantu muncul di hadapan Tito dan Haruka. Tito pun sadar bahwa Hantu tersebut terpanggil karena mantra jawa kuno. Haruka ketakutan banget melihat hantu. Keduanya segera berlari meninggalkan tempat tersebut.
Sampai di rumah Paman Bino. Haruka dan Tito menceritakan tentang hantu yang mereka lihat. Paman Bino terap tidak percaya. Lalu Tito mengucap kata yang memanggil hantu pake bahasa jawa. Haruka menutup mulutnya Tito di akhir ucapan Tito. Muncul hantu di tengah-tengah mereka bertiga. Paman Bino ketakutan melihat hantu dan pingsan begitu saja lalu tergeletak di lantai.
Tito dan Haruka ketakutan sekali karena di dekatin hantu penasaran. Dalam ketakutannya Tito teringat perkataan Kakeknya yang mengajarkan bahasa jawa yang sakral tersebut tapi bersifat mainan.....ada lanjutan syair untuk menolak jika sesuatu terpanggil atau datang. Tito langsung mengucapkannya. Hantu sudah di depan muka Tito. Setelah di ucapkan kata-kata jawa yang sakral tersebut....hantu penasaran menghilang.
Haruka pingsan setelah hantu menghilang. Semenjak kejadian tersebut Tito tidak lagi mengucapkan bahasa sakral tersebut pake bahasa jawa. Kehidupan Tito pun berjalan baik bersama Paman Bino dan Tante Sakura sering berkunjung ke rumah bersama Haruka hanya untuk makan malam bersama setelah itu ngobrol untuk menghabisi waktu dengan kebersamaan.


0 komentar:
Post a Comment