JUMINTEN

Posted By Cerpen universal on Sunday, June 23, 2019 | June 23, 2019

JUMINTEN

Siang hari yang cerah dengan suasana yang baik di kediaman Pak Mahmud dan beserta Ibunya. Saat itu kedatangan tamu seorang Kakek Kosim yang mau melamar anaknya Pak Mahmud. Dona...anak Pak Mahmud yang mau di jodohkan langsung menolak karena tidak mau di jodohkan sama Kakek-Kakek. Dona langsung kabur dari rumah padahal sudah di hadang sama pembantu dua si Otoy dan Ohang tetap saja kalah dengan kemampuan hebat Dona sampai terpental Otoy dan Ohang.

Dona terus lari sampai ke pasar. Otoy dan Ohong di suruh Pak Mahmud mengejar Dona untuk di bawa pulang untuk di jelaskan duduk permasalahan tentang perjodohan. Dona di pasar meminta bantuan sama sopir pengantar buah pesanan ke kota besar untuk ikut naik mobilnya karena dengan alesan di kejar penjahat.

Dona pun bersembunyi di dalam mobil yang berisi buah-buahan. Sedangkan Otoy dan Ohang melihat Dona ikut mobil pasar dan tidak bisa menghalangi karena sudah berjalan menuju kota besar. Otoy dan Ohang laporan ke Pak Mahmud dengan info sementara. Pak Mahmud menyuruh Otoy dan Ohang mencari Dono sampai dapet ya...mau gak mau harus ke kota besar.

***

Sampai di kota Jakarta barang yang akan di jual yang berada di dalam mobil mau di turunkan berdasarkan pesanan pelanggan. Dona yang tidur di mobil di bangunkan. Sampai sokh melihat lingkungan yang ramai.

Dona pun bertanya dengan sopir yang membawa mobil yang berisi buah tentang lingkungan sekitar. Sopir pun berkata dengan lantang "Kita pasar tepatnya di kota Jakarta."
Dona pusing dengan keadaanya dan ingin pulang dan meminta balik ke tempat asalnya ke sopir. Tetapi ternyata sopir tidak bisa pulang ke tempat asal karena masih berjualan sampe satu minggu.

Dona tambah bingung dengan keadaannya. Ya terpaksa Dona mondar mandir di pasar mencari alternatif yang lain untuk pulang memohon pun sama sopir yang membawanya ke kota Jakarta....malah di marah-marah.

Dona terus berjalan dan melihat pengamen di jalanan yang buta sedang main biola dan tidak ada satu pun yang memberikan uang recehan atas permainan biola yang sumbang dari pengamen jalanan yang buta.

Dona pun tertarik menolongnya untuk meminjam biola pada pengamen jalanan dan bermain biola. Dona bermain biola dengan baik sampai terpukau dengan permainan biola Dona yang merdu sekali. Orang-orang banyak yang memberikan uang langsung di taruh di kotak biola di jalan.

Dona pun menghentikan main biolanya dan memberikan biola pada pengamen jalanan yang buta dan juga mengambil uang di dalam kotak dan di berikan kepada pengamen jalanan yang buta dan berkata "Pak hasil lumayan."

"Terima kasih ya...nak sudah membantu saya...dan saya membagi sedikit rezeki ini ke anak."

"Saya terima uang..ini..terima kasih ya...Pak...saya bisa gunakan uang ini pulang tapi kurang banyak."

Dona diam dan berpikir. Otoy dan Ohay sampai ke Jakarta dan menemukan mobil yang membawa Dona sampai di Jakarta dan langsung bertanya ke pemilik mobil. Ternyata keterangan pemilik mobil "Telah mengusir cewek yang ikut mobil ini."

Otoy dan Ohang mencari Dona di pasar ke sana ke sini dan akhirnya melihat Dona bersama pengamen jalanan yang buta. Otoy menyuruh Ohang mengeluarkan borgol untuk menangkap Dona. Saat menyergap Dona. Otoy dan Ohang malah di borgol Dona saat perlawanan yang cukup hebat dan akhirnya Dona kabur dengan berlari kencang.

Otoy dan Ohang memanggilnya "Non....Non....Dona."

Tetap Dona tidak menggrubis Otoy dan Ohang terus berlari entah kemana tujuan Dona sesungguhnya.

***

Vino sedang asik mandi kolam renang setelah itu istirahat di kursi santai banget lalu dapet telpon dari Kakeknya untuk mencari pembantu untuk membereskan rumah. Vino seperti biasa sudah di jalankan apa perintah Kakeknya dengan menaruh selebaran di depan pintu gerbang saja. Tapi sang Kakek menyuruh Vino mencari pembantunya bukan di taruh selebaran di depan gerbang saja tapi media cetak agar cepat dapetnya.

Vino ....ya..seperti biasa iya dan iya saja. Telpon pun dari Kakek di putus alias sudah selesai pembicaraannya. Vino langsung bergerak ke kamarnya setelah itu tidur siang alias ngantuk berat gitu.

Baru tidur lelap. Vino dapet telpon dari Melisa mencari tahu keadaan Vino. Ya...Vino berusaha untuk ngeles aja...seperti biasanya alias bohong sama Melisa. Padahal Melisa menunggunya di kampus. Sedangkan Vino memberikan keterangan sakit cacar. Tapi kebohongan Vino ke tahuan karena alasan sakit cacar gak masuk akal saja kalau terkena saat dewasa. Vino mati kutu ketahuan bohong sama Melisa. Karena jengkel ya...di matiin telpon sama Melisa. Vino pun bingung menghadapi Melisa dan menerima telponannya di matiin oleh Melisa padahal masih ingin menjelaskan.

***
Dona terlampau jauh berlari dan melihat rumah besar yang terpasang selebaran membutuhkan pembantu segera. Dona melamar pekerjaan jadi pembantu di rumah besar tersebut. Bertemu seorang yang pemuda cukup keren yang keluar dari rumah besar yang membutuhkan pembantu.

Dona melobi si pemuda tersebut yang ngaku majikan rumah. Ya..wal hasil Dona di terima jadi di terima pembantu dengan menggunakan nama samaran Juminten dan yang menerima  Dona jadi pembantu namanya Kuncoro dan di suruh masuk ke dalam rumah untuk membereskan rumah. Saat mau masuk rumah. Dona melihat Otoy dan Ohang.

Ya..segera Dona masuk ke dalam rumah besar bersama Kuncoro dan pintu di tutup rapat. Dona berhasil lagi lepas dari Otoy dan Ohang.

Dona yang menjadi Juminten bersama Kuncoro masuk untuk menemui Bos pemilik rumah. Ketahuan Vino belangnya Kuncoro yang bohong ngaku-ngaku sebagai Bos pemilik rumah padahal pembantu bagian beresin kebun.

Juminten pun marah karena di bohongin. Tapi bisa di maklumi oleh Vino..Bos sesungguhnya. Dan Vino juga data pribadi Juminten tentang keahliannya. Tetap saja santai Juminten menjawabnya "Pembantu."

Vino tampa pertimbangan sama sekali menerima Juminten jadi pembantu. Saat masuk rumah Juminten menyikut dada si Kuncoro karena kesal ngaku-ngaku jadi majikan.

Kuncoro kesakitan di hadapan Vino. Lalu Vino ingin tahu keadaan Kuncoro. Malah Kuncoro berkata "Gak apa-apa Bos Vino."

Vino dan Juminten masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam rumah melihat rumah yang berantakan banget. Juminten agak menyesal juga jadi pembantu untuk membereskan rumah yang kaya kapal pecah. Vino pun menerangkan masih banyak lebih berantakan lagi harus segera di bereskan.

Juminten yang kesal sampai nyeletuk "Gudang."

Vino yang sengaja denger ocehan Juminten tersebut langsung di sambernya "Ya..memang kaya gudang, tapi kalau membereskan sekalian gudang di beresin...ya..berantakan..lebih parah dari ini. Nama juga gudang."

Juminten mengikuti sih perintahnya Bos Vino. Ya...mau...gimana..lagi..Juminten gak ada pilihan jadi pembantu di rumah yang berantakan kaya kapal pecah.

Juminten mulai memasak di dapur, tapi sebenarnya Juminten gak bisa memasak ya...harus di coba untuk memasak. Lalu Juminten mencari bahan yang mau di masak ternyata ada tahu di atas bupet lemari makan yang di taruh di atas piring.

Mulai Juminten menuangkan minyak goreng di dalam wajan baru kompor di hidupkan. Minyak goreng mulai panas baru di masukan tahu untuk di goreng.

Saat masak di dekatin Kuncoro untuk mengambil hati Juminten. Sepontan Juminten jadi kesal dengan ulah Kuncoro yang betingkah ini dan itu ya....diladenin oleh Juminten dengan obrolan gak penting.

Gorengan tahu jadi gosong. Jumiten jadi kacau masakan gosong. Kuncoro malah meledek Juminten "Bisa masak gak sih."

Juminten langsung sepontan menjawab membela dirinya "Bisa."

Walau kenyataan sebenarnya goreng tahu aja gosong. Kuncoro pergi meninggalkan Juminten yang masih kacau dengan gorengan tahunya yang gosong.

Juminten gak ada jalan lain di matiin kompor dan angkat tahu goreng yang gosong di tiriskan dan di taruh di piring lalu di bawa meja makan sambil di tutup piring agar gak ketahuan Bos Vino.

Ternyata Vino sudah di belakang Juminten dengan penampilan membuat cacar bohongan dan muka penuh bedak untuk mengelabui pacarnya Vino si Melisa. Lalu Vino nanya pada Juminten "Ada makan apa?"

"Ada..sih Bos...saya sudah sudah masak."

"Saya...lihat masakan kamu."

Juminten malu dengan masakannya di buka piring jadi penutup makannya.

"Tahu...aja tapi kenapa gosong. Kamu bisa masak gak sih?"

"Bisa....Bos."
  
Vino pun memaafkan kesalahan si Juminten karena Melisa udah dateng. Juminten selamat dari ocehan Vino yang kesal dengan hasil Juminten. Kuncuro dateng mendekati Juminten dan  sebenarnya ingin membelain Juminten ke Bos Vino. Kuncoro memegang tahu gosong dan Juminten memasukan ke mulut Kuncoro.

"Makan tuh."

"Eeem..tahu..gosong."

Juminten meninggalkan Kuncoro begitu saja untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Vino di teras depan ngobrol dengan Melisa dan berusaha membuktikan sakit cacar. Tapi Melisa tahu si Vino bohong jadi marahlah Melisa dengan ulah Vino yang kekanak-kanakan alias tidak dewasa.

Sangking keselnya Melisa meninggalkan si Vino dan lebih baik pulang. Ya...Vino gak bisa ngapa-ngapain kalau Melisa ngambek.

Keesokan harinya. Juminten sedang menyeterika pakaian Bos Vino dengan keadaan kesel karena pekerjaan banyak. Juminten menaruh gosokan di atad baju Vino yang di gosok dan mengalihkan ke pekerjaan yang lain. Tercium bau gosong di angkat setrikaan ternyata baju pun bolong dan Juminten ingin menyembunyikan agar tidak ketahuan Bos Vino.

Dengan terburu-buru Vino mau kuliah mencari bajunya untuk di pakai ada di tangan Juminten langsung di ambil dan di pakai. Padahal Juminten mau membuang baju itu karena keteledoran dia bekerja.

Vino pun berangkat ke kampus dengan mobil pribadinya. Selang berapa saat sampai di kampus. Keluar dari mobil Vino dan mencari Melisa untuk baikan tetap gak di gubris. Dateng Boni teman baik Vino untuk ngobrol biasa, tetapi Vinonya curhat tentang Melisa.

Ya..Boni...menanggapi biasa aja karena belum penah pacaran. Padahal Vino sudah curhatnya mendalem "Cinta sangat menyakitkan."

Vino langsung mencari Melisa di kantin kampus. Boni ikutan juga. Melisa menjauh kalau di deketin oleh Vino dan Boni walau hanya makan bareng.

Melisa akhirnya mau makan bareng sama Vino dan Boni walau dalam keadaan kesal. Saat membuka jaket dan di sampiri di kursi. Boni asik makan. Sedangkan Melisa kesel dengan tingkah Vino.

Mahasiswa dan mahasiswa lewat di belakang Vino langsung ketawa. Vino jadi bingung. Boni pun ingin tahu apa yang di ketawain dengan Vino. Boni beranjak dari duduknya dan mendekati Vino dan di periksa baik-baik ternyata baju Vino bolong.

"Kenapa bajumu Vino?"

Vino malu sekali. Melisa ketawa dengan bajunya bolong. Vino pun kesal banget.

"Gara-gara...Juminten pembokat saya...yang baru."

"Pembokat," saut Boni.

Vino pun pulang ke rumahnya dan langsung marah sama si Juminten "Saya di ketawain satu kampus karena baju saya bolong dan juga ini baju malah belinya di luar negeri....Juminten."

"Terang aja di ketawain...orang baju bolong di pake. Saya tadi gak sengaja saat setrikain baju itu di tinggal sebentar hadi bolong."

"Jadi pembantu gak ada takutnya sama majikan....udah salah lagi."

"Maaf...Bos."

Vino luluh lagi menghadapi Juminten dan memaafkannya karena tampangnya Juminten melas banget. Vino meninggalkan Juminten begitu saja.

Selang berapa saat. Vino asik mengetiknya dan duduk di ruang tengah. Sedangkan Juminten lagi ngepel. Beberapa kali di suruh pindah karena Juminten lagi ngepel. Ya...Vino pindah. Tetep di suruh pindah lagi padahal lagi lagi ngetik. Juminten langsung menegasi "Saya lagi ngepel."

Vino yang kesel pindah dari duduknya dan mengetiknya di kamar sampai selesai. Kerjaan Juminten selesai juga. Vino sedang duduk asik di pinggir kolam renang seusai kerjaan kuliahnya selesai.

Juminten ikutan duduk bersama Vino sambil bawa pekerjaannya beres-beres rumah belum selesai. Vino curhat sama Juminten tentang Melisa. Dengan baiknya memberikan saran sama Vino "Berubah penampilan jangan gaya anak metal..gini."

Vino menerima saran Juminten dan berubah jadi cowok keren dan melepaskan atributnya gaya anak metal. Keesokan harinya Vino berubah total dan ingin mendekati si Melisa lagi. Juminten yang melihat Bos Vino yang rapih dan keren terpesona dan memujinya "Ganteng."

Vino pun menerima pujian Juminten dengan mengucap "Terima kasih."

Vino pun berangkat ke kampus langsung menemui Melisa dan meminta tanggapan tentang penampilannya. Melisa menerima penampilan Vino yang sekarang. Vino pun seneng sekali dan akhirnya baikkan dengan Melisa dan juga ada acara makan malem ke kafe favoritnys Vino dan Melisa.

Jadi sebelumnya pulang dulu Vino untuk berpenampilan lebih keren lagi. Tapi Juminten ingin ikut makan malam juga. Vino menguruh Juminten diam dirumah  aja. Vino langsung berangkat untuk menjemput Melisa di rumahnya.

Juminten menyelinep duduk di belakang mobilnya Vino. Sampai di rumah Melisa. Vino terkagum-kagum dengan penampilan Melisa yang cantik banget.

Vino dan Melisa berangkat untuk kencan untuk makan malam di kafe favorit mereka berdua. Sampai di kafe Juminten ikutan juga masuk kafe lagi ngawasi Vino yang lagi kencan sama Melisa dan berhayal dapet jodoh kaya Bos Vino.

Kencan berjalan baik sampai di dalam mobil. Terdengar sendawa kaya orang kenyang. Pada hal Vino dan Melisa ala kadarnya makan di kafe. Lalu terdengar bunyi kentut dan bau busuknya.

Vino dan Melisa saling menyalahkan dengan bau busuk salah satu kentut. Tapi Juminten keluar dari persembunyiannya karena gak tahan dengan bau kentutnya sendiri. Lalu keluar dari mobil.

Melisa meminta Vino menjelaskan siapa cewek yang ada di sampingnya dan mengikutin acara kencan. Vino menjelaskan "Pembokat saya...Juminten namanya."

Melisa agak meragukan omongan dari Vino karena pembokatnya cantik. Tapi Juminten memberikan pernyataan yang benar sebenarnya bahwa dirinya "Pembokat."

Vino menyuruh Juminten pulang dengan di beri uang yang banyak untuk ongkos pulang. Eeee...malah diambil Melisa dan di beri uang Rp 2000. Juminten bingung dengan Rp 2000 pulang ke rumah Bos Vino padahal gak tahu kota Jakarta takut kesasar.

Melisa tetap membiarkan Juminten di halaman kafe. Vino di suruh masuk mobilnya oleh Melisa dan meninggalkn tempat tersebut. Padahal Juminten sudah mohon ingin ikut, tapi gak juga di gubris Melisa dan Vino.

Juminten menangis gak bisa pulang. Boni baru dateng di kafe dan ketakutan dengan cewek yang menangis di depan mobilnya kalau-kalau keserempet. Boni keluar dari mobilnya dan ingin bertanggung jawab. Tapi ternyata Juminten menerangkan keadaannya yang sebenarnya gak bisa pulang gara-gara uangnya cuma Rp 2000.

Boni gak ada masalah. Dengan jiwa penolong Boni mengantar Juminten sampai ke rumah Bos Vino. Tapi awalnya Juminten beransumsi bahwa Boni orang jahat yang memanfaatkan keadaan sebenarnya. Boni bisa menerangkan dirinya orang baik dan kenal dengan Bosnya Juminten ya...Vino teman sekampus. Gak pilihan ya...percaya aja Juminten.

Ternyata di anter sampe rumah Bos Vino. Semenjak itu Juminten percaya dengan Boni. Lalu Boni suka dengan Juminten di ajaklah kencan. Vino tahu kalau Boni kencan dengan Boni timbul rasa cemburu di tambah Juminten berpenampilan cantik banget jadi terkesan banget di pandangan Vino.

Dengan izin Bos Vino. Juminten kencan dengan Boni dan di jemput lalu segera ke kafe di tempat kesukaan Boni. Di dalam kafe Boni berusaha mengenal Juminten lebih jauh begitu juga dengan Juminten ingin tahu tentang Boni.

Juminten juga memesan bistik yang enak di kafe favoritnya Boni. Sedangkan Boni makan lain. Boni pun tercengang dengan cara makannya Juminten kaya bukan pembantu aja melainkan majikan. Juminten mulai hampir ketahuan siapa dirinya sebenarnya?

Maka Juminten mulai berpura-pura kaya orang lolok lagi dan mengubah cara makan bistik. Saat daging di potong di mencelatin di wajah Boni. Juminten meminta maaf dengan ketidak sengajaannya. Boni memakluminya. Dengan kejadian tersebut kecurigaan Boni berakhir bahwa Juminten itu bukan anak orang kaya.

Selesai makan malam dan kencan berakhir sukses. Boni dan Juminten pulang di anter ke rumah Bos Vino. Tapi sampai di depan rumah Juminten melihat si Otoy dan Ohang yang mencari dirinya dan meminta bantuan ke Boni untuk mengusir Otoy dan Ohang yang di omongin ke Boni penjahat gitu.

Ya..Boni nolong si Juminten dan keluar dari mobil dan mengusir si penjahat yang di omongin Juminten. Otoy dan Ohang pergi dari situ karena di usir oleh Boni.

Ya..Otoy dan Ohang tidak ingin cari masalah jadi pergi dari tempat tersebut. Juminten keluar dari mobil dan masuk ke rumah Bos Vino. Sedangkan Boni ya....pulang ke rumahnya dengan perasaan senang karena sudah kencan dengan Juminten.

Sedangkan Juminten bertemu dengan Vino dan nanya in keadaan Juminten kaya gak biasanya. Jadi Juminten mengabaikan si Bos Vino.

Juminten bergerak ke kolam renang melihat Kuncoro yang ngambek karena patah hati gak bisa mendapatkan cinta Juminten. Sedangkan Juminten menganggapnya biasa-biasa aja. Jadi di abaikan Kuncoro yang ngambek karena patah hati.

Juminten bergerak ke kamarnya untuk istirahat. Vino sudah berencana lain dengan Juminten karena kecemburuan butanya agar gak kencan dengan Boni lagi dan juga hubungan Vino dan Melisa kandas juga karena Melisa banyak maunya yang gak bisa di ikutin oleh Vino.

Esok harinya Vino menyerahkan selembar kertas berisi daftar kerjaan yang banyak saat Juminten keluar dari kamarnya. Juminten langsung kesal dengan ulah Bosnya dan berkata"Iya saya kerjakan tapi saya ganti baju...dulu...ah. Kebiasaan yang aneh saja!!"

Juminten kesel menutup pintu kamarnya dan Vino kembali ke kerjaan. Saat Juminten mengerjakan pekerjaan rumah yang banyak sekali. Vino peduli dengan Juminten jadi nolongnya. Juminten jadi bingung dengan ulah Bos Vino. Ya...dibiarin aja membantu pekerjaan Juminten.

Lama-lama Vino menyatakan suka sama Juminten dan juga Juminten suka sama Vino jadi.......jadian deh.

Saat Vino mengajak Juminten untuk kencan. Di depan gerbang rumah masuk Ibu dan Pak Mahmud dan melihat anaknya si Dona. Langsung Dona kabur dan naik loteng rumah.

Pak Mahmud beserta istrinya membujuk anak semata wayangnya yang ngambek karena gak di jodohin dengan Kakek-Kakek. Sedangkan Kakek Kosim di situ juga menjelaskan duduk permasalahannya.

"Bahwa..nak...Dona salah paham yang mau di jodohin adalah cucu saya Vino."

Vino pun berada di samping Kakeknya dan menyatakan bahwa Kakek Kosim adalah Kakek Vino. Dan juga Otoy dan Ohang muncul juga di situ yang ngari ke sana ke sini Dona.

Vino pun mau di jodohin oleh Dona yang ngamar jadi Juminten. Dona juga mau di jodohin sama Vino bukan Kakek-Kakek. Lalu Dona di suruh turun dari loteng sama Ibu dan Bapaknya dan sepakat perjodohan di lanjutkan dengan besanan dengan Kakek Kosim.

Vino pun mendapat restu dari kedua belah pihak dengan urusan cinta dengan Dona alias Juminten dan segera melangsungkan pernikahan. Boni pun gagal mendapatkan cinta Juminten alias Dona dan mengikhlaskan  cintanya demi hubungan baik Vino dan Dona dan juga turut senang karena temannya Boni ke tahap jenjang sebenarnya dalam percintaan yaitu pernikahan demi kebahagian Vino dan Dona alias Juminten.
Blog, Updated at: June 23, 2019

0 komentar:

Post a Comment