USAHA

Posted By Cerpen universal on Saturday, August 18, 2018 | August 18, 2018

USAHA
Siang hari setelah pulang sekolah segera Dedi berganti pakaian di dalam kamarnya. Lalu Dedi mengambil bungkus pelastik di meja. Dedi keluar rumahnya, tak lupa pamitan dengan Ibunya. Bergegaslah Dedi menuju hutan yang cukup jauh dari rumah. Dengan santainya Dedi berjalan menuju tujuannya. Di tengah perjalanan bertemu dengan Anto.

“Mau ke mana siang begini?,” tanya Anto.

“Ah....saya mau jerat burung di hutan,” kata Dedi.

“Untuk apa kamu menjerat burung?,” tanya Anto penasaran.

“Ya.......untuk cari uang tambahan mencukupi kehidupan sehari-hari,” kata Dedi yang malu.

“Oh...begitu, tapi kan kamu bisa berjualan seperti saya nunggu warung di rumah,” kata Anto.

“Saran kamu memang bener, tapi saya tidak punya modal. Maklum saja orang gak punya. Sekolah saja saya sudah bisa bersyukur, walau untuk bayaran sekolah tumpang tindih dengan makan sehari-hari. Jadi saya kasihan dengan ke dua orang tua saya. Mau gak mau.....menjerat burung di hutan,” kata Dedi.

“Seimbang gak hasilnya dengan usaha dan waktu yang di jalankan?,” tanya Anto.

“Enggak...tuh, malahan butuh kesabaran. Setalah jebakan di pasang di pohon, lalu saya bersembunyi di semak-semak menunggu burung dateng masuk dalam perangkap yang saya buat. Terkadang sampai ketiduran menunggunya, pada akhirnya pulang tidak membawa hasil apa pun,” kata Dedi.

“Kasihan.....sekali kamu Dedi. Sudah berapa lama jalanin pekerjaan ini?,” tanya Anto lagi.

“Ya...cukup lama, sampai lupa saya menghitung waktunya. Tapi kalau dapet sih lumayan di jual di pasar burung dan hasilnya penjualan burung bisa bantu orang tua,” kata Dedi.

“Kaya sih Dedi.....pekerjaan itu tidak banyak menguntungkan. Begini saja saya punya kenalan orang baik. Kamu bisa ambil dagangan di sana. Hasilnya juga lumayan untuk pekerjaan tambahan kamu. Di satu sisi kamu masih menjalankan pekerjaan sekarang jerat burung di satu sisi kamu bisa menambah penghasilan dengan cara lain. Maksud saya pintar-pintar membaca situasi pasar,” kata Anto.

“Kayanya sih boleh juga.....dagang apa?,” tanya Dedi.

“Dagang pempek,” kata Anto.

“Ok ...tidak jadi masalah,” kata Dedi.

Dedi dan Anto pun sepakat untuk menuju kenalan Anto yang lumayan dekat dari rumahnya. Selang berapa saat sampai di rumah Ibu Putri.

“Permisi,” sapa Anto di depan rumah.

“Iya....sebentar.......,” saut pemilik rumah.

Pintu rumah pun di buka, keluarlah Ibu Putri.

“Ohhhh....Anto...ada apa  main ke sini?. Silakan duduk,” tanya Ibu Putri.

Anto dan Dedi dengan penuh kesopanan duduk kursi yang telah di siapkan untuk tamu di teras depan, begitu juga Ibu Putri.

“Gini Bu maksud kedatangan saya mau memperkenalkan teman saya bernama Dedi. Mau bekerja sama dengan Ibu Putri untuk menjualkan dagangan Ibu,” kata Anto yang sopan.

“Ibu sih setuju aja. Jadi nak Dedi yang mau berjualan pempek,” tanya Ibu Putri.

“Iya...Bu saya mau sekali, tapi masalah hitungan pengabilan barangnya bagaimana?,” tanya Dedi.

“Gampang itu nak, satu pempek harganya Rp 500,”. Ibu sebagai pemilik barang mendapatkan Rp 400 ,sedangkan mendapatkan Rp 100,” penjelasan Ibu Putri.

“Jadi.....jika saya mengambil barang  kira-kira  awal mulai dagang 100 buah pempek. Keuntungan saya adalah 100 x 100 = 10.000 perhari, kalau barang laku terjual semua,” kata Dedi.

“Iya ...bener sekali hitungan kamu Dedi. Sedangkan Ibu Putri dari Rp 400, memang hal wajar sekali karena harus di hitung dari modal awal sampai proses pembuatan pempek yang memakan waktu dan tenaga Ibu Putri,” sedikit penjelasan Anto.

“Itu benar sekali nak Anto....kalau di pikir sih...keuntungannya gak banyak nak. Tapi cukup untuk menolong Ibu memenuhi kebutuhan sehati-hari, alias pandai-pandai memutar otak saja,” kata Ibu Putri.

“Saya sih gak ada masalah Bu...yang terpenting saya suka dengan pekerjaan ini. Maka Tuhan pun meridoi langkah saya yang baik ini,” kata Dedi.

“Amin........,” jawab Ibu Putri dan Anto.

“Oh....iya dalam pengambilan barang Ibu akan tambahkan 2 pepek untuk bekal kamu di jalan. Sedangkan setelah pualang dari berjualan Ibu tambah lagi 2 pempek untuk makan di sini,” kata Ibu Putri.

“Ok....lah gak masalah. Saya sepakat mengambil barang dagangan dari Ibu,” kata Dedi.

Ibu Putri menyuruh Dedi masuk ke dalam rumah. Lalu Ibu menyiapkan keranjang berisi mangkok, cuka di botol, celemek, pempek yang di pesan Dedi dan ember berisi air untuk mencuci mangkok. Dedi menyambutnya keranjang jualan pempek dengan penuh kebaikan. Keluarlah dari rumah Ibu Putri untuk berjualan pempek goreng. Sedangkan Anto kembali ke rumahnya untuk menjaga warungnya. Ibu Putri senang semangat yang di jalani Dedi untuk membantu orang tuanya. 

Dedi tanpa malu-malu dengan penuh keberanian berjualan keliling komplek perumahan sampai jualannya habis terjual. Usaha Dedi pun membuahkan hasil yang lumayan di hari pertamanya jualannya. Pempek yang jualnya laku keras, karena rasa yang khas dari masakan Ibu Putri di tambah cuka yang enak. Dedi pun bersyukur kepada Tuhan di beri jalan yang terbaik untuk membantu orang tuanya. Dengan penuh senyuman terus Dedi menjual dagangannya sampai terjual habis.

Hari pun menjelang magrib, Dedi pun berjalan menuju rumah Ibu Putri untuk menyetorkan hasil jualannya. Ibu Putri di rumahnya senang dengan hasil jualan Dedi yang berhasil menjual semua barang dagangannya. Dedi pun mendapat upah dari kesepakatan di tambah makan tambahan untuk mengisi perutnya yang kosong. Lalu Dedi pun berpamitan pulang ke Ibu Putri.

Rasa letih yang dijalani Dedi hari ini  di selimuti rasa senang mendapatkan uang yang lumayan untuk orang tuanya. Sampai di rumah Dedi langsung menyerahkan uang hasil jerih payahnya yang halal ke tangan Ibunya.

“Uang dari mana Dedi?,” tanya Ibunya.

“Oh....dari hasil berjualan pempek Bu,” kata Dedi.

“Alhamdulillahhirobil alamin,” puji syukur terucap dari Ibu Dedi yang bahagia.

“Alhamdulillahhirobil alamin,” saut Dedi.

“Pak anak kita....Pak sudah beranjak dewasa untuk membantu kesusahan kita Pak,” kata Ibu Dedi.

“Alhamdulillahirobil alamin,” saut Bapak Dedi yang baru pulang kerja sebagai kuli batu.

Dedi langsung  ke kamarnya. Menaruh bungkusan pelastik meja yang berisi alat-alat untuk menjerat burung.

“Lain kali saja menjerat burung,” celoteh Dedi.

Dedi mengambil anduk dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Ibu menyimpan baik-baik harta anaknya sambil momong adik Dedi.  Sang Bapak merasa senang, karena anaknya mewarisi sifatnya yang mau bekerja keras dalam menjalani hidup yang penuh liku-liku.
Blog, Updated at: August 18, 2018

0 komentar:

Post a Comment