MENGAJI
Siang hari yang panas sekali. Panca mengambil tas yang berisi Leptop dan bergerak ke kamar Ustat Lili di samping mesjid. Terlihat Ustat Lili yang sedang duduk di meja belajarnya sambil ke dua tangannya mengetik.
"Mas...Lili......keluar main yok," kata Panca.
"Main ke mana siang-siang begini? apalagi saya lagi sibuk menyusun pekerjaan untuk ceramah besok," kata Ustat Lili.
"Ohhhh......tinggalkan aja kerjaan itu main sebentar ke rumah Mas Iwan," kata Panca.
"Ke tempat Mas Iwan ngapain........?," tanya Ustat Lili.
"Download film," kata Panca.
"Kenapa gak di rumah aja bisakan?," kata Ustat Lili.
"Jaringannya lagi lelet. Coba lihat koneksi internet Ustat Lili," kata Panca.
"Bentar saya cek dulu," Ustat Lili.
Dengan santainya Panca duduk di lantai beralaskan karpet menunggu Ustat Lili yang sedang memeriksa koneksi jaringannya.
"Iya...Panca... koneksi lelet banget," kata Ustat Lili.
"Bener........kan......main yok ke rumah Mas Iwan," kata Panca.
"Iya.....tapi......saya selesaikan pekerjaan saya dulu....sebentar juga selesai," kata Ustat Lili.
"Iya.....saya tunggu," kata Panca.
Ustat Lili mulai melanjutkan semua ketikannya. Panca mulai sedikit resah. Tiba-tiba mendengar suara penjual es keliling. Panca mulai bergerak keluar dari kamar bergerak keluar.
"Panca mau kemana?," tanya Ustat Lili.
"Bentar Ustat ......saya mau beli es untuk menghilangkan dahaga...dan juga cuaca juga panas banget.....enak minum yang dingin-dingin," kata Panca.
"Kalau begitu saya nitip," kata Ustat Lili.
"Beres........," kata Panca.
Panca bergerak secepat memungkin menuju persimpangan jalan. Terlihat oleh panca tukang penjual es keliling yang sedang santai berdiri di tepi jalan. Panca menghampirinya.
"Bang beli esnya di 2 bungkus," kata Panca.
"Baik....dek," jawab Abang Penjual es dugan.
Dengan bahagianya menyiapkan es dugan yang di masukan ke dalam pelastik dan di beri sedotan.
"Dek ini pesanannya.....," kata Abang penjual es dugan.
"Oh...iya......," kata Panca.
Saat Panca ingin mengeluarkan uangnya membayar es dugan ke Abang penjual. Selintas matanya melihat Utari.
"Apa saya gak salah lihat?," kata Panca.
"Kenapa dek?," tanya Abang penjual es dugan.
"Engak Bang....cuma dedeman saya terlihat di pojok sana," kata Panca.
"Oh...gitu," saut Abang penjual es dugan.
"Nei......uangnya.......Bang," kata Panca.
"Iya...terima kasih banyak," kata Abang penjual es dugan.
Panca meninggalkan penjual es dugan menuju ke tempat Utari terdiam di pinggir jalan.
"Hai.... Utari......lagi ngapain......," tanya Panca.
"Oooooo.....Kak Panca......saya lagi nunggu angkot," kata Utari dengan lembut.
"Oh...begitu.......mau kemana? ," tanya Panca.
"Mau kuliah....," jawab Utari.
"Tadi saya beli es dugan 2 bungkus jadi satunya untuk kamu aja ya," kata Panca sambil menyodorkan es dugan.
"Iya terima kasih," kata Utari sambil mengambil pemberian Panca dengan penuh senyuman.
"Kalau begitu saya ke mesjid dulu....oh ya Utari hati-hati di jalan," kata Panca.
"Iya terima kasih Kak," jawab Utari dengan lembut.
Panca dengan ligat menuju kamar Ustat Lili. Sedang Utari naik mobil angkot menuju kampusnya.
"Ustat nie...esnya," kata Panca.
"Loe cuma satu....katanya tadi perjanjiannya dua," tanya Ustat Lili.
"Iya....beli dua tapi yang satunya saya kasih sama Utari," kata Panca.
"Ke Utari....demen mu itu," kata Ustat Lili.
"Bener sekali," kata Panca yang duduk di lantai.
"Dasar...anak sekarang demi orang yang di sukai pasti ngabaikan kepentingan dia sendiri," kata Ustat Lili.
"Nama juga cinta....Ustat," kata Panca.
"Cinta.........Emangnya kamu sudah memberikan pernyatan pada Utari," tanya Ustat Lili.
"Iya...belumlah.......," kata Panca.
"Saya kirain sejauh itu......Kalau beneran sih saya nikanin kalian berdua dari pada jadi fitnah," kata Ustat.
"Wah.....Ustat...mikirnya sudah sudah sampai situ. Saya kan proses penjajakan. Masih mikirkan masa depan," kata Panca.
"Selamat ...saya punya murit yang masih mikir tentang kebaikan bersama. Oh iya jadi gak ke rumah Mas Iwan?," kata Ustat Lili.
"Gak jadi...mendingan saya belajar ngaji aja biar jadi pemimpin yang baik," kata Panca.
"Itu nama anak muda berpikir dengan bijak. Ayo kita belajar mengaji," kata Ustat lili.
Panca dan Ustat Lili mulai mengambil Al Qur'an di rak buku dan di mulai proses pembelajaran dengan baik dan benar.


0 komentar:
Post a Comment