MENJENGUK ORANG SAKIT

Posted By Cerpen universal on Saturday, August 18, 2018 | August 18, 2018

MENJENGUK ORANG SAKIT
Hari yang melelahkan buat Awin. Sibuk mengetik untuk setiap hari untuk memenuhi target. Terkadang Awin lupa dengan makan demi pencapaian yang di inginkan. Lagi asik-asik mengetik di kontrakannya. Awin masih terus menghayal dengan semua tulisan di depan leptopnya. Tiba-tiba pintu kontrakan di ketuk. Awin beranjak dari duduk bergegas membuka pintu.

“Mas makan,” kata Maman.

“Iya,” sahut Awin.

Segera Awin mengambil piringnya di belakang di taruh di meja marmer. Bergeraklah Awin keluar kontrakan menuju kontrakan Maman untuk mengambil makan. Di dalam kontrakan Awin segera mengambil Nasi di dalam Ricecuker. Awin mengisi piringnya dengan beberapa centong nasi. Setelah piring terisi Ricecuker di tutup. Kemudian Awin masuk ke dalam dapur mengambil lauk di atas sebuah wajan. Dengan pelan-pelan Awin mengambil gulai Ayam di taruh di piring. Setelah itu mengambil sayur di dalam panci. Dengan menyentong sayur bayem yang segar di taruh ke piring.

“Mas ambil lalap peteknya,” kata Maman.

“Iya,” jawab Awin.

Awin mengambil pete yang terimpan di bawah meja. Awin mengambilnya dan memotong kecil pete tersebut, lalu di taruh di piring. Awin membawa piring yang penuh ke kontrakannya. Di dalam Kontrakan Awin menyantap dengan lahap makan tersebut sampai terisi penuh perutnya. Setelah selesai makan Awin menaruh piringnya di kamar mandi. Segera mengambil minum di meja marmer untuk menghilangkan serek di tenggorokannya. 

Awin mulai  lagi mengetik lagi. Pintu  kontrakan di ketuk lagii. Segera Awin beranjak membukanya.

“Mas ikut saya menjenyuk orang sakit,” kata Maman.

“Iya,” jawab Awin.

Segera Awin berganti pakaian. Leptop di matikan. Semua siap Awin keluar dari kontrakan dan menguncinya dengan rapih. Maman sudah siap di motor.

“Pake helmnya mas,” kata Maman.

“Iya,” sahut Awin.

Awin segera memakai helm, lalu naik motor. Melajulah motor metik di kendarai oleh Maman menuju rumah sakit. Dengan santai Maman mengentari motornya sampailah pada penjual buah. Berhentilah Maman di toko buah. Motor di parkirkan dengan baik agar tidak mengganggu jalan. Maman dan Awin turun dari motor. Maman segera memilih buah. Setelah membungkus belanjaanya di toko buah dan telah membayarnya. Maman dan Awin segera meninggalkan toko buah. Naik lah mereka berdua ke motor metik. Melaju motor metik yang di kendarai Maman. Perjalan pun masih sangat jauh menuju rumah sakit. Bensin mulai habis Maman berhenti di pom bensin. Awin punurun dari motor metik. Menunggulah Awin di persimpangan pom bensin. Pengisian bensin motor selesai Maman segera membayarnya. Motor mulai di jalankan Awin segera naik. Baru selang berapa meter motor berhenti di depan. Maman turun membeli pulsa. Awin pun turun dari motor dan menunggu. Setelah pulsa di beli barulah Maman naik motor metik bersama Awin. Pergilah mereka berdua meninggalkan tempat penjualan pulsa ke rumah sakit.

Perjalan pun masih jauh sekali. belok sana belok sini. Pada Akhirnya sampai di rumah sakit yang tuju. Maman segera memarkirkan motor metiknya.

“Mas bawa ini,” kata Maman.

“Oh iya,” jawab Awin.

Bungkusan pelastik berisi buah di bawa Awin. Masuklah Awin dan Maman ke dalam rumah sakit sampai ke lantai dua. Mereka berdua mencari-cari ruangan pasien yang mau di jenguk. Pada akhirnya menunggu di ruang tunggu. Maman mulai sibuk menelpon ternyata Hpnya lobet. 

“Mas bawa hp,” kata Maman.

“Bawa, tapi kayanya lobet,” kata Awin.

Awin menujukkan Hpnya ternyata bener-bener mati. Tapi Maman mencoba menghidupkan Hp Awin.

“Ini hidup,” kata Maman.

“Iya,” sahut Awin.

Selang berapa saat Hppun padam juga.

“Mas buka hp mas,” kata Maman.

“Iya,” sahut Awin.

Awin membuka Hpnya dengan pelan-pelan.

“Coba keluarkan kartu Hpnya,” perintah Maman.

“Iya,” sahut Awin.

Awin mengeluarkan kartu hpnya.

“Ini kartunya,” kata Awin.

“Iya,” sahut Maman.

Segera Maman mengambilnya dan memasukan ke dalam hpnya. Kemudian Maman mulai menghidupkan Hpnya dan mulai menelpon. 

“Jangan di tutup dulu hpnya,” kata Maman.

“Iya,” jawab Awin.

Awin tidak menutup Hpnya yang di bongkar. Menunggu kartu Hpnya di pakai. Maman mulai menelpon. Tapi saat menunggu di ruangan tunggu. Ada seorang anak kecil yang menjerit di ruangan rumah sakit. Membuat kaget semua orang. Kemudian kakaknya menamparnya di pipi kirinya. Anak kecil cewek tersebut cembetuk. Kakaknya jengkel melihat ulah adeknya yang labil. 

“Ayo masuk,” kata Kakaknya.

Anak kecil cewek tersebut terdiam membisu. Pada akhirnya masuk ke dalam ruangan dengan kesal  sekali.Awin menyaksikan kejadian tersebut dengan Maman. Mulai Hp Maman bisa di pakai.

“Halo mas ruangnya dimana?,” tanya Maman.

“Oh ya bentar,” sahut penerima telpon.

Selang berapa saat keluarlah dari ruangan.  

“Mas Maman  ruangannya di sini,” kata Mas Toni.

“Oh iya,” sahut Maman.

Segera Maman dan Awin beranjak dari tempat duduknya. Tidak lupa Maman membawa plastik putih berisi buah pisang untuk Bapak Hasan. Maman juga memberikan kartu Hp yang di pinjamnya ke Awin.

“Mas kartunya di masukan ke Hp kamu lagi,” kata Maman.

“Iya,” jawab Awin.

Awin membereskan kartu Hpnya di masukkan ke dalam hpnya setelah itu ditutup rapih. Hp Awin di masukkan ke dalam saku celana di sebelah kanan.  Awin masuk ke dalam ruangan tempat orang mau di jenguk. Maman sudah duluan masuk. Mas Toni menunggu Awin masuk ke dalam ruangan. Setelah Awin masuk ke dalam ruangan baru Mas Toni menutup pintu.


Dalam ruangan Awin mulai bersalam dengan Pak Hasan yang terbaring di kasur. Maman langsung memberikan bawaannya yang di beli di pasar buah yang berisi buah pisang kepada Ibu Hasan. Tanpa  basa-basi Maman bertanya ke Ibu Hasan tentang  kondisi Pak Hasan setelah operasi cuci darah. Awin hanya duduk di kursi plastik mendengarkan cerita Ibu Hasan dan Maman. 

Waktu begitu singkat sekali hari menjelang Magrib. Maman dan Awin  permisi untuk Sholat Magrib  di mesjid dekat rumah sakit dan juga sekalian pamitan pulang. Ibu Hasan yang pengertian mempersilakan Maman dan Awin. Sedang Pak Hasan yang masih sadar sekali melaksanakan sholat dalam keadaan tiduran di kasur. Kami semua melihatnya senang sekali dengan keinginan Pak Hasan melaksanakan kewajiban sebagai muslim yang baik.
Blog, Updated at: August 18, 2018

0 komentar:

Post a Comment