PERILY DAN TEMAN HANTU
Pagi-pagi sekali Perily bangun dari tidur. Langsung ke kamar mandi seperti biasanya. Setelah bersih dan berganti pakaian yang bersih Perily langsung turun dari kamarnya di lantai dua menuju ruang makan. Ibu Perily yang bernama Anita telah menunggu anaknya di meja makan.
"Pagi Ibu," sapa Perily.
"Pagi sayang," jawab Ibu Anita sambil mendekati Perily yang duduk di sebelahnya sambil mencium kening anak kesayangannya.
Ibu Anita mengambikan roti panggang yang telah di olesin oleh selai sroberi kesukaan Perily dan di taruh piring anak kesayangannya. Tidak lupa segelas susu.
"Terima kasih Ibu," kata Perily.
"Sama-sama ....sayang," jawab Ibu Anita langsung duduk sambil menikmati sarapan pagi.
Perily pun menyantap sarapan pagi dengan pelan -pelan. Hp pun berbunyi saat sarapan pagi. Ibu Anita mengambil Hpnya di dalam sebuah tas kerjanya. Terlihat oleh Ibu Anita sebuah nomor teman kerja bernama Yuni. Dengan segera menjawabnya.
"Halo....Yuni," kata Ibu Anita.
"Anita...cepet dateng ke kantor karena ada sedikit masalah tentang berkas yang kamu urus kemarin," kata Yuni.
"Baik...saya segera ke sana," kata Ibu Anita.
"Saya tunggu di kantor...," kata Yuni.
Ibu Anita segera menutup telponnya dan menaruh Hp di dalam tas kerjanya.
"Perily....jadi anak yang baik..ya di rumah...... Ibu ada kerjaan di kantor. Oh iya jika kamu ada masalah minta bantuan sama Mang Diman," kata Ibu Anita.
"Baik.....Ibu....," jawab Perily dengan lembut.
Ibu Anita mengambil tas kerjanya dan berjalan menuju keluar rumah. Perily duduk dengan santai menghabiskan makannya dan minumnya. Selang berapa saat Mang Diman dateng menghampiri Perily.
"Non....makannya udah?," tanya Mang Diman.
"Sudah.............," jawab Perily selesai menghabiskan segelas susu.
"Kalau gitu..Mang Diman beresin ya," katanya.
"Ya...," saut Perily.
Mang Diman segera membereskan piring dan gelas di meja makan di bawa ke dapur. Perily beranjak dari duduknya menuju kamarnya untuk mengambil buku gambar di meja belajar. Kemudian mulailah Perily mengambar sebuah pemandangan yang indah di meja belajarnya. Saat Perily dengan serius menggambar terdengar sebuah bunyi dari piano di di ruang tengah. Perily yang penasaran beranjak dari duduknya dan meninggalkan buku gambarnya. Terlihat dari lantai dua piano bermain dengan merdu, tapi tidak ada orang yang duduk memainkannya.
Perily penasaran turun dari lantai dua dengan melewati tangga. Dengan sangat dekatnya Perily untuk memastikan piano yang bermain sendiri. Tiba-tiba muncul sesosok anak kecil duduk di depan piano sedang bermain piano dengan mengagumkan. Perily hanya bisa terdiam dan terpukau karena kehebatan seorang gadis kecil cantik bermain piano yang sama hebatnya dengan orang dewasa.
Permainan piano pun selesai. Perily pun bertepuk tangan.
"Hebat...hebat," kata Perily.
Gadis tersebut langsung melihat Perily dengan diam saja.
"Siapa kamu?," tanya Perily.
Tetap saja gadis tersebut diam saja. Perily mendekati gadis tersebut sambil menjulurkan tangannya "Kenalkan nama saya Perily." Akhirnya gadis yang pandai bermain piano menjawabnya "Saya Yansen......"
"Oh..nama mu Yansen...... Ngomong-ngomong dari mana kamu bisa bermain piano?," tanya Perily.
"Dari.....Ibu saya....," jawab Yansen.
"Apa kamu mengajarkan.....saya bermain piano...," kata Perily.
"Baiklah saya akan ajarkan kamu bermain piano," jawab Yansen.
Perily dengan duduk bersama Yansen pun mengajarkan Perily bermain piano. Dengan penuh kesabaran Perily bisa memainkan piano. Di tengah asiknya belajar piano datenglah anak cowok menghampiri Yansen dan Perily dengan membawa biola. Permainan piano pun terhenti.
"Siapa kamu?," tanya Perily.
"Kenalkan..nama saya Albert."
"Dia...kakak...saya," saut Yansen.
Lalu di balik Albert bersembunyi seorang anak laki-laki. Perily yang penasaran pun beranjak dari duduknya dan mendekati anak kecil di belakang Albert.
"Kamu namanya siapa?," tanya Perily.
"Anu...nama saya....Peter," jawabnya.
"Dia..adik......," saut Albert dan Yansen.
"Jadi kalian bertiga adalah bersaudara!," ujar Perily.
"Iya....," jawab Albert, Yansen dan Peter bersamaan.
Perily mengajak teman-temannya untuk bermain musik lagi. Mereka berempat bergembira ria. Mang Diman yang selesai membereskan halaman depan masuk ke dalam rumah dan melihat Nona Perily yang bermain piano sendirian. Karena kagum dengan kebolehan permainan Nona Perily yang bermain piano mendekatinya. Permainan piano pun selesai. Mang Diman pun bertepuk tangan karena salut dengan kehebatan permainan Nona Perily.
"Hebat..hebat..hebat," kata Mang Diman.
"Terima..kasih...Mang Diman atas pujiannya," ujar Perily.
"Non...Perily...belajar piano sehebat ini dari siapa?," tanya Mang Diman.
"Dari..teman-teman Perily," katanya tegas.
"Teman-teman sekolah Non Perily.....?," tanya Mang Diman.
"Bukan ...teman-teman saya yang baru di rumah ini....," kata Perily dengan lugunya.
"Haaaa............," Mang Diman yang terkejut.
"Teman-teman Perily..........yang namanya Albert, Yansen dan Peter....," kata Perily yang mempertegas.
"Mana-mana...anak-anak tersebut?," tanya Mang Diman.
"Tadi di sini.....kok..bersama......Perily bermain.......piano," kata Perily dengan menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Non...gak ada...," kata Mang Diman.
"Tadi bener-bener di sini bermain dengan saya...... Ke mana mereka perginya ya?," kata Perily yang lugu.
"Ya...udah..kalau begitu Mang Diman......beresin kebun belakang ya," katanya.
"Ya....," jawab Perily dengan lembut.
Mang Diman bergerak menuju kebun belakang lewat pintu belakang. Sedang Perily yang sedikit bingung kembali ke kamarnya. Tiba-tiba Albert, Yansen dan Peter sudah di kamar Perily berjejer di samping tempat tidur.
"Jadi kalian bertiga di sini?," tanya Perily.
"Ya...........," jawab Albert, Yansen dan Peter.
"Kalian bertiga...bersembunyi..ya...?," tanya Perily.
"Ya.....begitulah...," jawab ketiganya.
"Kalau begitu...kita bermain..petak umpet saja...!," kata Perily.
"Permainan..menarik...," kata Albret.
"Baiklah...kita bermain...petak umpet," saut Peter.
"Kalau begitu mulailah untuk hompimpa alikum gambrengnya," kata Yansen.
Perily dan teman-temannya berkumpul dan mulai untuk siapa yang berjaga?. Akhirnya hasil dari permainan hompimpa yang jaga adalah Perily. Mulai permainan petak umpet di rumah. Kecerian terlihat dari ke empat anak kecil . Sampai waktu berganti malam. Ibunya Perily pun pulang dari kantor dan segera melihat anaknya di kamar. Terlihat anak kesayangannya tidur dengan pulas. Sang Ibu Anita menghampiri anak kesayangannya untuk merapihkan selimutnya.
"Anak..baik," kata Ibu Anita sambil mengecup kening anaknya.
Ibu Anita keluar dari kamar Perily langsung menuju kamarnya yang tidak jauh dari ruang tengah untuk berganti pakaian. Saat di ruang tengah Mang Diman menghampiri Ibu Anita.
"Ibu......," sapa Mang Diman.
"Ada..apa..Mang Diman?," tanya Ibu Anita.
"Tadi....Non Perily....bermain piano sendiri. Tapi ketika saya tanya...Non Perily bermain dengan teman-temannya. Apakah Ibu menyuruh teman Ibu untuk menitipkan anak-anaknya sini untuk bermain di rumah?," kata Mang Diman.
"Enggak...tuh...Mang....dan juga saya baru tahu kalau Perily bisa main piano," jawab Ibu Anita.
Kalau begitu dugaan saya bener. Kalau ....Non Perily bermain dengan hantu. Karena nama-nama temannya yang di sebutkan Non..Perily. Setelah saya tanya sama penjaga rumah yang lama yang tinggalnya tidak jauh dari sini..ternyata anak-anak itu sudah meninggal dunia," kata Mang Diman.
"Astafirohulaazim............anakku.....," kata Ibu Anita sedikit sok.
"Ibu...kenapa?," tanya Mang Diman.
"Enggak...apa-apa?.... kalau begitu saya harus membawa Perily jauh dari rumah ini...," kata Ibu Anita yang khawatir dengan anaknya.
"Kalau menurut Ibu Anita baik untuk ...Non Perily saya bantu besok beres-beres," saut Mang Diman.
"Ya....udah..besok pagi..saya dan Perily..pindah dari rumah..warisan orang tua saya," kata tegas Ibu Anita.
"Kalau bergitu saya permisi dulu...," kata Mang Diman.
"Silakan Mang Diman," kata Ibu Anita.
Mang Diman langsung menuju kamar belakang untuk beristirahat. Sedangkan Ibu Anita langsung ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah itu bergerak ke kamar Perily untuk tidur bersama. Keesokan harinya Ibu Anita dan Perily meninggalkan rumah warisan keluarganya


0 komentar:
Post a Comment