KESAHAJAAN
Sorang gadis kecil yang cerita tinggal di kota kecil. Diantara deretan rumah tua pinggir jalan. Maria hidup dengan ibu angkatnya. Setiap hari Maria mengambil barang dari tempat ibu Laksmi untuk berjualan.“Maria hari bawa berapa tangkai,” kata ibu Laksmi.
“Hari ingi bawa dua puluh tangkai bunga mawar merah dan putih,” jawab Maria.
Ibu Laksmi menyiapkan bunga pesana Maria dengan keranjangnya. Maria menyambut keranjang tersebut dengan baik.
“Hati-hati Maria di jalan,” kata Ibu Laksmi mengkhawatirkan Maria.
“Iya bu, saya akan selalu berhati-hati kok,” sahut Maria.
Maria pergi meninggalkan toko bunga Ibu Laksmi. Bergegas dengan langkah kecil Maria berjualan. Sepanjang jalan kota, Maria menawarkan bunga cantiknya. Dengan semangat berharap pembeli membeli bunganya. Berjam-jam Maria mondar-mandir di antara pertokoan. Banyak pembeli yang membeli bunga yang jajakan Maria. Dengan santunnya Maria menawarkan barang dagangannya yang di jual. Nilai kerja keras Maria terbayar dengan sebuah kepuasan bahwa barang daganganya tinggal lima tangkai. Para pemilik toko, siapa yang tidak mengenal Maria. Yang ulet bekerja untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari.
Pemilik toko baju memanggil Maria.
“Maria...Maria.......,” kata ibu Laras.
“Ya........ibu ada apa?, mau beli bunga saya kebetulan tingal lima tangkai lagi,” ujar maria.
“Iya ibu mau beli bunga kamu, tapi kamu bisa menyiapkan bunga untuk urusan pernikahan. Karena anak ibu mau menikah,” kata Ibu Laras.
.
“Bisa bu nanti saya kirimkan bunganya,” kata Maria.
“Jadi sisa bunga ibu beli, ok maria untuk tanda jadi, jangan lupa jangan terlambat,” kata Ibu Laras.
“Iya bu terima kasih bayak yang pasti saya janji tepat waktu,” sahut Maria.
Setelah itu Maria meningalkan toko ibu Laras. Jualanya pun habis. Maria sangat senang sekali. Dengan lenggang kangkung Maria ke toko ibu Laksmi. Beberapa saat Maria sampai.
“Ibu....ibu.....,” panggil Maria.
“Oh ya Maria,” sahut Ibu Laksmi.
“Jualan laku semuanya. Ini uang setorannya dan juga ada pesana buket bunga dari Ibu Laras pemilik tokok baju karena anaknya mau menikah. Minggu ini,” kata Maria.
“Ini hasil uang jualan mu,.. Maria. Dan masalah buket biar ibu yang ngatur. Ini ada sedikit makan untuk ibu mu di rumah,” kata Ibu Laksmi
“Terima kasih bu, kalau begitu Maria pulang dulu.”
Keluarlah Maria dari toko bunga Ibu Laksmi. Dengan senang hati Maria membawa pundi-pundi uang di tambah kue buatan Ibu Laksmi yang lezat. Pelan-pelan langkah kecil Maria menuju rumah. Hari semakin menjelang malam. Maria sampai di rumahnya yang tua tapi nyaman.
“Ibu....ibu Maria Pulang.”
“Gimana jualanya?,” tanya Ibu.
“Lumayan bagus sih, karena kota lagi rame sih dan juga ada yang mesen bunga jadi bunga laris terjual,” cerita Maria.
“Ya udah Makan dulu sana,” kata ibu.
“Oh ya Maria Lupa ada kiriman dari ibu Lakmi yaitu kue enak,” Kata Maria.
“Ya udah nanti ibu siapkan kuenya. Supaya kita makan sama-sama,” ujar Ibunya.
“Kalau gitu Maria mau mandi dulu, makannya nanti aja. Nie uang hasil penjualan Maria untuk Ibu,” kata Maria dengan nakal.
“Dasar......dasar nak gadis kecil yang nakal,” ujar ibu Maria sambil mengeleng-geleng kepalanya.
Ibu Maria langsung menyimpan uang Maria di lemari. Setiap hari Maria menyetor ke ibunya di simpen dengan rapih. Padahal ibunya Maria masih mampu membiayainya hidup. Tetap saja Maria namanya kenakalanya hanya untuk meringankan beban orang tua. Tetap saja perasaan ibu khawatir dengan niatnya itu. Ibu Maria teringat kenangan dimana Maria di taruh di depan rumah dengan sebuah surat yang masih di simpan ibu Maria. Tapi ibu Maria tetap menyembunyikan rahasia itu sampai sekarang.
“Ibu.....ibu Maria udah selesa. Mana makannya?,” tanya Maria.
“Iya bentar Maria ibu siapkan,” jawab ibu buru-buru keluar dari kamarnya.
Dengan sigap ibu Maria menyiapkan makan malamnya yang enak lezat untuk Maria. Dengan ceria Maria menyantap makan di meja Makan. Sang ibu terkadang menyuapi putri kecilnya cantik itu. Kesehajaan terpancar dari muka mereka berdua. Rumah terasa hidup dan bahagia. Para tetangga mendengarnya pun iri hati dengan kecerian itu. Kehidupan rumah tua pinggir jalan menjadi lebih berarti. Ketika semuanya menghargai makna syukur.

0 komentar:
Post a Comment