BURUAN
Suatu hari yang senja
terlihat dari kejauhan ada seorang pemuda berlari terus menerus menuju sebuah
hutan. Tiba-tiba muncul sebuah serangan
yang menuju kearah pemuda yang bernama Bagas. Beberapa anak panah melesat
dengan kecepatan tinggi. Bagas dengan kelincahan tubuhnya menghindari semua
serangan anak panah tersebut dengan mudah. Sampai di tengah hutan para makluk
aneh yang di bangkitkan dari kuburan untuk menghadang Bagas. Sudah siap untuk
menyerang dengan pedang.Dengan sigap Bagas menyiapkan diri. Kemudian mencabut pedangnya dari sarungnya. Mulai menyerang para zombie dengan kecepatan penuh. Di tebasnya satu persatu para zombie dengan pedang bagas seperti memotong sebuah kertas. Tiba –tiba muncul sosok zombie yang kuat terjadi adu kekuatan di antara keduanya.
Zombie semakin ganas
menunjukan kekuatanya. Bagas dengan tenang menghadapai kekuatan zombie.
Kemudian Bagas mencoba untuk membuat tekanan yang menciptakan sebuah tekanan
pada ke dua pedang yang sedang beradu. Dengan segera Bagas menghindari dan mulai mengatur
serangan. Dari posisi yang menguntungkan kemudian Bagas menghajar zombie dan
membelahnya menjadi dua bagian.
Para zombie
musnah. Bagas mulai melanjutkan
perjalannya menuju sebuah rumah di tengah hutan. Pada awalnya Bagas
berpura-pura bertamu. Sang pemilik rumah mempersilakanya. Dengan keramah tamahnya ke pada Bagas. Kemudian sang pemilik rumah
menyuguhkan makan kecil. Bagas dalam penyamaran tetap waspada dengan semua
gerak-gerik mencurigakan.
Sang pemilik rumah
menunjukan sebuah kesalahanya. Ada bau gak sedap dari sebuah lemari. Bagas
ingin mencoba memperiksanya, tetapi sang pemilik rumah menghalangi. Bagas
mencoba untuk memaksa. Sang pemilik rumah berusaha keras mungkin menghalangi
niat Bagas. Tekanan di antara keduanya semakin bergejolak. Bagas mulai geram. Begitu sang pemilik rumah.
Timbulah kelakukan yang tidak sepatutnya di lakukan sang pemilik rumah.
Menyerang Bagas dengan sebuah cakar. Berusaha cepat Bagas menghindari serangan
dari sang pemilik rumah.
Tetapi terlambat
beberapa detik. Bagas terkena walau hanya tergores. Bagas mengangkat pedangnya.
Menarik pedangnya dari sarungnya bersiap
menyerangnya. Sang pemilik rumah menunjukkan wujud sebenarnya yaitu seorang seorang
pengihir hitam.
Bagas tidak kaget.
Malah senang karena menemukan buruanya. Seorang penyihir hitam yang menculik
anak-anak untuk di jadikan bahan membuat ramuan keabadian. Tanpa berpikir
panjang Bagas menyerang penyihir dengan pedangnya yang khusus membunuh
penyihir. Walaupun sang penyihir menggunakan mantra penghalang. Agar bisa
selamat dari bermacam senjata.
Penyihir kaget dibuat
ulah Bagas. Pedangnya dapat menembus mantra penghalang yang di buatnya. Dalam
keadaan terdesak penyihir. Mencoba melarikan diri, tapi Bagas tidak memberikan
kesempatan untuk melepaskan buruanya.
Penyihir berusaha keras dengan menggunakan tongkat sihirnya.
Dengan mengucap beberapa mantra. Keluarlah sebuah sinar yang terang berasal dari tongkat sihirnya.
Menyerang menuju kearah Bagas. Dengan tanggap Bagas menangkisnya dengan
pedangnya. Terjadilah adu kekuatan. Akibat serangan penyihir yang mengores
bagian tubuh Bagas. Membuat Bagas kehilangan kesadaranya. Berakibat fatal
dengan keadaannya. Bagas terpental keluar rumah. Dengan perlahan Bagas mencoba
menyadarkan diri. Berusaha bangkit agar bisa mengalahkan musuh yang ada di
depan matanya.
Sang penyihir tidak
membuang kesempatan yang menguntungkan buatnya. Kemudian dengan mantra
perubahan sang penyihir hitam berubah
makluk yang sangat menyeramkan. Dengan kuku dan taringnya yang tajam siap untuk
mengoyak tubuh Bagas. Dalam keadaan yang kurang baik buat Bagas, kini musuh
berubah menjadi makluk yang mengerikan. Kemungkin keadaan menjadi lebih parah
lagi.
Bagas tidak mau
menyerah dengan keadaanya. Dengan membuat posisi pertahan yang diajarkan
gurunya bila dalam keadaan terdesak. Makluk mengerikan menyerang Bagas dengan
sebuah terkaman mematikan. Dengan penuh ketenangan. Bagas mengeluarkan jurus
rahasia perguruanya yaitu pedang bulan sabit.
Sekali tebas monster
anjing terbelah menjadi dua. Mati di tangan Bagas. Dengan keadaan ketidak
berdayaan Bagas jatuh ke tanah, lalu pingsan tidak sadarkan diri karena racun
yang telah tersebar keseluruh tubuhnya.
Beberapa saat kemudian
Bagas siuman dari pingsannya.
“Dimana saya,” kata
Bagas.
“Di padepokan,” jawab Anita.
Ternyata Anita
menyelamatkan Bagas. Membawanya ke perguruan Halimun tempat Bagas belajar ilmu
kanuragan. Supaya untuk di berikan pertolongan. Agar Bagas selamat dari keadaan
kritisnya.

0 komentar:
Post a Comment