SINGA

Posted By Cerpen universal on Friday, May 1, 2015 | May 01, 2015

SINGA

Sekumpulan binatang terbang di atas langit. Sampai di permukaan bumi berubah menjadi manusia mengerang beberapa penduduk.  Desa menjadi  kacau dibuatnya. banyak menjadi koban dari kebengisanya. Mayat bergeletakan di tanah.  Rasa haus dengan darah membuat makluk ini tidak punya hati. Manusia di ibaratkan binatang ternak yang siap untuk mangsa. Di ambil saripati kehidupannya. Tangisan dan jeritan para penduduk desa. Ketakutan setiap wajah para penduduk yang tidak bisa diungkapkan lagi. Banyak yang sudah mencoba untuk melawan kebengisan vampir. hal hasil gagal. Lebih banyak lagi mernjadi korban.

Suatu hari ada seorang anak kecil datang kedesa. Dengan memakai jubah. Ia terlihat seperti musafir. Setiap rumah di ketuk untuk sedikit meminta makanan. Orang desa banyak yang tidak sempati dengan orang asing. Kemudian ada seorang nenek yang baik hati memberikan ia  makanan serta tempat tinggal untuk beberapa hari.

"Siapa nama mu nak ?” tanya nenek.

“Nama saya Ren…..nek,” jawabnya dengan penuh ketenangan.

Ren ingin tahu tentang keadaan desa ini dengan lebih mendetail. Sang nenek yang hidupnya sendiri karena di tinggal  anaknya. Jadi korban vampire. Ia pun bercerita  dengan derai air mata mengalir membasahi pipinya. Ren berusaha tidak lagi mencari tahu tentang keberadaan desa ini. Ren tidak ingin melihat lagi kesedihan yang di landa nenek.

****
Ren baru saja  menutup matanya. Terjadi kegaduhan di luar. Para vampire mulai berburu. Desa jadi kacau balau dibuatnya. Ren keluar dari rumah nenek  ingin membantu warga untuk mengusir para vampir kelaparan itu. Tiba-tiba vampir itu di depan Ren. Dengan berani Ren bertarung. Kekuatan bocah kalah jauh  dengan vampir. Belum lagi kecepatan vampir yang melancarkan beberapa serangan yang mengenai telak ketubuh Ren

Ren roboh ke tanah.  Dalam keadaan hampir tidak bisa bangun.  Segenap kekuatan yang tersisa Ren berusaha untuk berdiri. Disaat itu Ren mengalami kesakitan yang luar biasa dari tangan kirinya.

“Ah…………ah…….,” teriakan Ren  yang berusaha menahan sakit.

Lambang kutukan itu mulai beraksi. Ren berusaha untuk sadar diri dari penderitaan itu. Vampir tidak peduli dengan  keadaan Ren. Menghajar Ren lagi sampai tumbang.

Disaat ketidak berdayaan vampir memegang tubuh Ren. Ia muali mengeluarkan taringnya. Rasa hausnya tidak bisa di pungkiri. Di saat taring  berada diatas kulit bagian leher.  Sontak kaget vampir ia melepaskan tubuh sang Ren.  Vampir merasa ketakutan dengan aura yang keluar dari Ren. Dengan sekejab Ren berubah menjadi sesosok binatang.

Binatang itu menjadi buas mengejar vampir. Menerkam vampir dengan taring yang tajam di bagian leher. Menggigitnya sampai vampir tidak berdaya dan akhirnya mati menjadi debu. Sang binatang meraung  seperti singa. Lengkinganya membuat para vampir ketakutan.

Vampir pun pergi dari desa dengan meninggalkan semua buruannya. Ren dalam keadaan tidak sadarkan diri. Para penduduk melihat kejadian itu dan berusaha mengusir mengusir binatang buas.  mereka beranggapan binatang buas sama bahayanya dengan  vampir. Sang nenek keluar dari persembunyiannya. Ia ingin menghentikan para penduduk. Sang nenek menjelaskan kejadiannya kepada para penduduk siapa sebenarnya makluk buas yang berwujud singa. Bertarung  mengalahkan vampir dan menyelamatkan desa.

Dalam keadaan berusaha menjelaskan semuanya. Tiba –tiba singa  berusaha untuk menerkam nenek. Semua orang kaget. Tapi sang nenek tetap saja berusaha tenang dari keadaan itu. Jauh di alam sadarnya sang bocah.

Sang bocah bertarung dengan kutukan yang selama ini membelenggu dirinya. Terdengar suara nenek samar-samar. Ia mulai berusaha melawan kekuatan yang ada dalam dirinya. Dengan sekuat tenaga.

“Ren…Ren.. sadar…sadar….kamu nak,” kata nenek memanggilnya.

Ren kembali kewujud manusianya. Nenek pun memeluk Ren. Air matanya mengalir dengan deras, tapi kali ini beda tangisnya adalah tangis bahagia. Semenjak kejadian itu desa kembali seperti semula. Keceriaan terlihat dari wajah-wajah mereka. Ren menjadi penjaga desa dari serangan vampir. Ren pun senang karena ada tempat untuk pulang. Selama bertahun-tahun membara. Tinggal bersama nenek yang mencintainya.
Blog, Updated at: May 01, 2015

0 komentar:

Post a Comment