KUMBANG

Posted By Cerpen universal on Saturday, May 9, 2015 | May 09, 2015

KUMBANG

Tragedi yang mengenaskan yang mebuat Andika kehilangan ibunya. Perampokan di malam naas Andika jadi trauma. Hidupnya lebih cenderung menyendiri. Anak sekecil itu melihat ibunya terkapar bersimbah darah. teringat kejadian tersebut andika sering hiteris. Ayahnya selalu melindugi anaknya dari trauma tersebut. segala cara digunakan untuk kesembuhan anaknya. Walaupun butuh banyak biaya ayahnya selalu siap sedia. Karena ayahnya seorang pengusaha terhebat di kota kelahiran Andika. Kota yang pertumbuhan pesat di segala bidang. Tetapi tingkat pengangguran makin tinggi berdampak kriminalitas tinggi pula. Kepolisian telah bekerja keras untuk menaggulangi masalah penyakit di masyarakat.

Begitu juga dengan masalah kematian ibunya Andika. Berdasarkan hasil temuan di tempat kejadian. Hanya di temukan sebuah pertanda yaitu sebuah belati yang menusuk ibunya Andika. Dari setruktur bentuknya unik dan termasuk benda antik dari peninggal perang kuno. Menurut hasil pengumpulan berkas ternyata belati itu asli. Sebenarnya belati tersebut di simpan di sebuah musium dan telah dicuri.  Hasil pengembangan dilakukan kepolisian dan sudah di laporkan ke ayah Andika yang bernama Pak Harmoko. Berdasarkan  itu semuanya Pak Harmoko yang diinginkan segera  di tangkap penjahat yang membunuh istrinya. Pak Harmoka selalu  memendam rasa bersalah. Banyak kenangan dengan istri. Kenapa orang tersebut tega mengambil orang paling di cinta Pak Harmoko?.

Waktu berlalu dengan cepat kini Andika sudah berumur 18 tahun. Kepolisian pun sudah keabisan akal untuk menemukan siapa penjahat sebenarnya dari pembunuhan Andika. Kasus pun tidak tuntas sekian lama berlalu dari kejadian tersebut andika sudah melupakannya. Hidupnya sekarang di isi dengan banyak bakat yang dikembangkan agar supaya bisa mengalihkan pikiran buruk tersebut dengan semua hal yang baik bisa membangun baik dari fisik dan pikiran.

Pada saat itu andika ingin menemui ayahnya dikantor. Tiba-tiba kejadian itu terulang kembali. Ayahnya terkapar dengan bersimbah darah  dengan tanggan terikat dan mulut tertutup. Andika berteriak meminta bantuan. Semua staf bondong-bondong menolong Andika. Pembunuhan terjadi begitu singkat berdasarkan sisi Tv. Jam kejadian dilakukan dilakukan pada saat orang  istirahat kerja.

Kepolisian pun bergerak cepat untuk menemukan penjahat tersebut. karena berdasarkan sisi Tv terlihat jelas siap pembunuhnya. Berdasarkan  temuan-temuan berkas ternyata orang tersebut memakai identitas palsu. Penangkapan yang di lakukan di sebuah kos-kosan di tengah kota. Ternyata mengalami kegagalan total.  Pembunuhnya terlalu pintar dan rapih tidak ada celah sedikit pun.

Untung saja Pak Harmoko bisa selamat dari kejadian tersebut, tapi keadaanya kritis banyak mengeluarkan banyak darah. Andika menjadi frustasi dengan semua kejadian tersebut. Andika yang dulu dengan yang sekarang berbeda. Ia meluapkan semuanya dengan cara datang kesuatu tempat yang sunyi di sebuah danau di tengah hutan. Andika berteriak dengan sekuat tenaga.

Kakaknya dari Amerika datang menemui Andika. Seorang yang jenius dalam bidang fisika, kimia, biologi, dan punya hobi dbidang otomotif. Kak Gading namanya. Mereka berdua baru bertemu setelah bertahun-tahun kakaknya pergi. Menghabiskan waktunya dengan sejumlah penelitian. Andika senang bertemu dengan kakaknya. Karena ada orang yang bisa mengerti keadaannya sekarang.

Sebenarnya Andika punya kebiasaan buruk semenjak kejadian ibunya meninggal. Setiap malam Andika sering menghilang. Berkeliaran di tengah kota untuk mencari ketenangan sebenarnya, tapi sebaliknya banyak kejadian yang membuat andika marah. Yaitu penganiayaan terjadi di lalukan oleh preman. Pada saat itu andika masih labil di hancurkan para preman satu persatu dalam keadaan tertidur, kemudian para preman tersebut di serahkan ke polisi.

Tindakan ini cukup berbahaya ayah dan kakaknya telah menutupi selama bertahun-tahun. Kini penyakit itu kembali lagi Andika lebih brutal. Setiap malam andika mencari info tentang penjahat yang telah melukai ayahnya. Berdasarkan sisi Tv Andika mempelajari setiap hari dengan memperhatikan dengan cermat. Ditangan kanannya ada sebuah tato yang bersimbol angka. Dari hasil temuan tersebut Andika mencari di sebuah tempat pembuatan tato. Sekian lama mencari menemukan titik terang. Ternyata ada seseorang pernah membuatkan tato tersebut tapi sudah puluhan tahun yang lalu.

Dengan mengumpulkan banyak informasi dan dihubungkan seperti benang merah. Bahwa yang melakukan semuanya adalah  geng pembunuh internasional yang di kenal dengan nama Bayangan jalanan.  Andika dibuat geram dengan para penjahat ini dan ingin menghajar semuanya dengan tangannya sendiri, tapi dihalangi kakaknya.

“Jangan gila kamu, Dik apa kamu mau bunuh diri?. dengan keadaan mu sekarang kamu tidak bisa membasmi semua penjahat tersebut. belum lagi mereka terlatih,” kata kak Gading.

“Saya sanggup kak. Lihat prestasi saya dibidang  bela diri dan yang lainnya,” jawab andika dengan semangat membara.

Gading tahu kegilaan adiknya. Jika di cegah makin menjadi jadi-jadi. Ia tidak melihat adiknya  seperti dulu.

“Kak tahu dengan potensi mu, tapi itu gak cukup untuk melindungi kamu butuh dukungan yang dapat meningkatkan potensi,”papar kak Gading.

“Jadi  maksudnya,” tanya Andika.

Kak Gading menunjukkan semua hasil kerja kerasnya selama ini. Sebuah perlengkapan bertempur. Yang cukup kuat untuk melindungi andika dari serangan musuh.

“Gak sia-sia selama ini kak Gading  belajar di Amerika,” puji Andika.

Andika mulai melatih diri untuk memakai kostum tersebut agar terbiasa untuk bertarung. Kak Gading menelitinya untuk mengetahui frekwensi dari daya tahan dan serangan. Latihan tersebut berlangsung beberapa minggu karena ada beberapa penyesuaian agar pemakainya nyaman. Waktu yang di tunggu datang juga kostumnya sudah sempurna dan layak digunakan. Andika memakai kostum tempur tersebut menjelajahi dunia malam untuk menghancurkan para penjahat.

“Mau kau berinama apa kostum tempur itu Andika?” tanya kak Gading.

“Kumbang,” jawab Andika dengan bangga.

Blog, Updated at: May 09, 2015

0 komentar:

Post a Comment