ARTI KEHILANGAN
Waktu begitu singkat
bersama istrinya. Saat Vivi masih hidup Yudi selalu saja membiarkannya
sendirian. Yudi terlalu sibuk kerjaanya. Kadang lupa diri dibuat oleh kerjaan.
Ambisinya terlalu berapi-api. Yudi terlalu bosan dengan keadaanya. Kemiskinan
yang berlarut-larut yang membuat Yudi buta dengan cinta Vivi. Keberadaan
istrinya hanya sebuah pelengkap saja. Yudi selalu memikirkan
target, dan target. Pencapaian sangat tinggi yang selalu Yudi harapkan.
Kesuksesan yang nyata bukan sebuah mimpi. Perjuangan Yudi selama bertahun-tahun
membuahkan hasil. Yudi jadi orang kepercayaan Bos. Semenjak itu Yudi lebih
berambius lagi. Yudi tidak ingin melepaskan semua kesempatan yang ada.
Berhubungan dengan kalangan atas untuk mendukung karirnya. Terkadang untuk
mencapai impiannya tidak segan-segan bermain curang yang terpenting Bosnya
tidak tahu.
Terkadang Yudi ingin mendapat kedudukan bosnya atau
lebih. Dengan memahami tentang jenis pengembangan perusaan Yudi bermain
spekulasi cukup tinggi. Sebenarnya Bos yang pertama kali bermain di bidang ini.
Yudi belajar dengan cepat. Ia menjadi bayangan bagi semua gerak-gerik Bosnya.
Tujuanya agar bisa sama dengan Bosnya dari segi kekayaan atau lebih.
Yudi mampu membeli aset
Bosnya di perusahaan. Yudi yang menciptakan keadaan yang membuat perusahaan Bosnya mengalami devisit pendapatan. Berakibat
fatal pada kedudukan Bosnya di perusahaan. Berdasarkan rapat para pemegang
saham Yudi menjadi dewa penolong. Akhirnya ia mendapatkan perusahaan. Bosnya yang bertahun-tahun
menjadi pimpinan kini Yudi menjadi Bos. Yudi terus bermain dengan cermat dan
matang. Ia tidak mau kalau ada yang membocorkan semua kerjanya. Hal ini fatal
urusannya.
****
Vivi dibuat bahagia
dari hasil kerja suaminya. Tetap saja Vivi kehilangan suaminya yang di
cintainya. Bertahun-tahun Vivi sakit didalam hatinya, tetapi tak pernah
membicarakan kepada suaminya. Sampai anaknya yang tercinta terlahir ke dunia. Vivi tetap tidak memberitahukannya. Ia tidak mau membuat khawatir suaminya.
Vivi senang melihat raut wajah suaminya
yang bahagia. Suatu ketika terjadi masalah yang sangat rumit di perusahaan Yudi. Perusahaannya mengalami ke goncangan
yang sangat hebat. Butuh banyak suntikan dana. Beberapa tender yang di
jalani mengalami kegagalan. Ada yang
memanipulasi perusahaan di bidang keuangan.
Yudi tahu benar. Ia
mencari dengan cermat siapa orang ingin meruntuhkan perusahaan yang ia bangun.
Hal hasil berdasarkan info dari anak buah Yudi ternyata. Mantan Bosnya sakit
hati karena Yudi telah mendepaknya dari kedudukan perusahaan. Belum lagi Yudi bermain cinta dengan
sekretarisnya. Yudi beranggapan bahwa
pria tidak bisa hidup dengan satu cinta saja. Ternyata cinta peralihan itu yang
membuat ia dalam keadaan bangkrut seperti ini.
Wanita racun dunia.
Dengan semua kecantikan dan kemolekan dari tubuhnya menjerat Yudi. lebih parah
lagi ternyata cewek yang dipacarinya
adalah anak mantan bos yang bekerja di perusahaan.Yudi dan anggel
berhadapan. Diruang kerja mereka
bertengkar hebat. Yudi ingin menghentikan cinta bodoh ini. Untuk kelanjutan
hidupnya. Anggel tidak mau karena ia bener-bener mencintai Yudi. Anggel
terpaksa mengikuti ajakan kerjasama dengan
ayahnya untuk menghancurkan Yudi. Yudi kalap hampir membunuh Anggel.
Yudi masih dalam
keadaan waras tidak termakan oleh keadaan. Hal ini tidak sebanding dengan
keadaanya pada masa ia tidak punya apa-apa. Yudi berpikir lebih pinter. Dengan
mempelajari dengan seksama. Ia berpikir mau gak mau menjual semua asetnya agar
perushaan yang ia miliki sekarang tidak runtuh. Kerja keras Yudi berhasil
menyelamatkan perusahaannya, tetapi dengan kehilangan Vivi untuk selamanya.
Yudi sangat menyesal dengan kepergian Vivi. Andai saja Yudi di berikan kepercayaan lagi, Ia
tidak akan menyia-menyiakan waktu bersama orang yang bener-bener dicintai.
Kini semua tinggal
semua kenangan. Vivi pergi dengan semua cintanya. Meninggalkan buah cintanya yang
masih butuh kasih sayangnya. Yudi lebih banyak menghabiskan waktu bersama
anaknya karena tidak mau kehilangan orang paling yang dicintai yaitu Violet anak
satu-satunya.

0 komentar:
Post a Comment