APEL

Posted By Cerpen universal on Wednesday, May 13, 2015 | May 13, 2015

APEL

Pulang sekolah seperti biasa Henki  pergi bermain sebentar di taman. Bermain ayunan, perosotan dan lain-lain di taman. Henki riang dan gembira karena asik bermain. Kemudian tidur-tiduran dekat sebuah pohon yang rindang. Suhu tubuh yang tadinya naik karena terlalu banyak aktivitas kini mulai sejuk. Sambil memandangi langit yang cerah. Lama kelamaan Henki mulai ketiduran. Henki bermimpi menuju suatu tempat yang jauh di atas langit. Di atas langit ada sebuah taman yang sangat indah. Ditaman tersebut banyak bermacam bunga dan pohon-pohon. Henki sangat senang di taman. Henki berkeliling sepanjang taman.tiba-tiba henki melihat satu keanehan dari jauh. Ada sebuah pohon besar yang di kelilingi oleh semak belukar yang tajam. Henki mendekati keberadaan pohon tersebut. Sesampai pada tujuan Henki. Semak belukar mulai bergerak dan menjauh dari Henki. Seakan memberi jalan kepda Henki untuk lebih dekat lagi dengan pohon tersebut.

Pandangan Henki terkagum-kagum sekali melihat pohon yang besar  apalagi ada buahnya yang mirip dengan buah apel. Yang membuat Henki terkesan adalah salah satu buahnya warnanya  aneh. Wujudnya berbeda dengan yang lain yaitu berwarna emas. Henki berusaha memanjat pohon tersebut. Ingin sekali memetik buah emas. Sampai di atas dahan yang tinggi. Hengki berusaha keras agar bisa mendapatkan apel emas. Sampai juga pada dahan yang dekat pohon emas. Dengan pelan-pelan henki memetik buah.

“Dapat,” kata Hengki.

Tiba-tiba terjadi fenomena yang aneh. Angin bertiup sangat kencang. Henki berpegangan dengan erat pada dahan agar tidak jatuh. Semakin lama semakin lebih kencang lagi. Henki tidak kuat lagi menahan. Terpental dari dahan jatuh dari taman langit.

“Haaaaaaaaaaaaaaaaaa,” teriak Henki.

“Bangun-bangun Henki,” kata Ibunya. 

Henki terbangun dari tidurnya. Yang dia lihat adalah Ibunya yang menjemputnya pulang.

“Kebiasaan kamu ini kalau pulang sekolah. Ya, bok pulang dulu baru main, “ omelan si Ibu.

Henki menganguk samba bilang “ iya bu”. Henki  jadi bingung dengan mimpinya dan bertanya apa maksudnya?. Juga kenapa  apel emas ada di tanganya, kalau itu mimpi?.  Henki memikirkan itu sepanjang perjalanan pulang kerumah. Terus memikirkan Henki jadi bingung. Apel terus dilihat lalu memotretnya jadi kenangan suatu saat nanti kalau ini hanya sebuah mimpi. Lama-kelamaan henki semakin tertarik untuk memakanya.

Satu gigitan dari apel emas. Dua kali sampai seterusnya sisa sebuah bongkol yang ada biginya. Henki mulai mengantuk dan tertidur dengan pulas. Didalam mimpi henki berada di suatu istana. Henki melihat kemegahan dari istana. Di dalam istana Henki melihat seorang gadis kecil. Yang memanggil namanya.

“Henki…….Henki kemari,” kata gadis kecil.

Henki menghampiri anak tersebut.

“Siapa kamu, kenapa kamu bisa tahu  nama saya?” tanya Henki.

“Saya adalah putri istana ini. Taman yang kau datangi adalah bagian dari taman istana. juga pemilik pohon yang berbuah emas. Nama saya putri Yasmin.”

 “Jadi kamu adalah pemilik istana, taman, dan pohon emas, kalau begitu saya minta maaf telah lancang mengambil buah tersebut,”  jawab Henki dengan rasa malu.

“Tidak apa-apa? Hanya orang yang terpilih yang bisa datang ketempat ini. Jadi buah tersebut diberikan sebagai hadiah. Tapi buah tersebut bukan buah biasa. Karena mengandung energi yang besar. Jika sudah waktunya kekuatan tersebut akan bangkit. Jangan salah menggunakan kekuatan tersebut.  Suatu saat kita akan bertemu lagi,” kata putri Yasmin dengan merdu.

“Maksudnya putri?” Tanya Henki.

Pembicaraan tersebut belum selesai. Henki terasa di tarik sesuatu. Samar-samar terdengar suara ibunya memanggil. Lagi-lagi Henki terbangun dari tidurnya. Ibunya yang dengan susah payah membangunkan anaknya yang malasa bangun pagi.

“Ayo cepat bangunnya Henki. Sudah pagi nanti kamu telat masuk sekolahnya. Kan sudah ibu bilang jangan tidur malam-malam,” omelan Ibu setiap pagi.

Henki masih bingung dengan kejadian itu?. Dan juga apa maksudnya kekuatan?. Henki berpikir sampai ke sekolah. Saat belajar pun Henki tidak kosentrasi. Henki dibuat bingung dibuatnya. Terkadang ia mencoba kekuatan dalam dirinya. Henki mencari tempat agar orang tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan?. Pas jam istirahat Henki pergi kelakang sekolah dekat gudang penyimpanan peralatan sekolah Di tempat tersebut henti mulai mengambil ancang-ancang-ancang untuk melakukan sesuatu. Dengan menentukan posisi pada sesuatu pada sebuah tembok. Kemudian  tinjulah tembok gudang tersebut. Bukan dindingnya hancur tangannya Henki yang memar karena memukul dinding dengan sekuat tenaga.

“Jadi semua itu hanya sebuah mimpi,” celoteh Henki

Semenjak kejadian tersebut  Henki tidak peduli tentang kekuatan yang ada dalam dirinya. 


*****
Waktu pun berlalu Henki sekarang sudah dewasa. Melanjutkan sekolah kejenjang lebih tinggi. Henki sibuk dengan penelitian.  Tidak lagi memikirkan tentang mimpinya tersebut. Hidupnya di hiasi kembiraan. Henki dulu yang senang bermain sekarang lebih rajin belajar. Hidupnya lebih banyak digunakan untuk meningkatkan potensi dalam dirinya di bidang ilmu pengetahuan.

Ibunya yang membentuk Henki menjadi anak yang berprestasi di bidangnya. Tidak bosan-bosan untuk mengajarkan kedisplinan dalam menjalani hidup. Omelan-omelanya ibunya yang membuat anaknya menjadi penurut dan berbakti kepada orang tua. Tujuan ibunya hanya ingin Henki mengerti tangungjawab. Agar bisa mengatur waktu. Kapan waktunya belajar dan kapan waktunya bermain?. Ibunya selalu mengarahkan anaknya dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Henki senang karena punya ibu yang benar menjaga dan membimbingnya supaya menjadi anak yang berguna. Ayahnya selalu mendukung ibu dalam mendidik anaknya. Ayah selalu sibuk dengan pekerjaan apalagi sekarang ayah Henki terlalu sering pergi keluar kota untuk melancarkan usaha dagangnya.

Belum lagi harus meninjau beberapa perkebunan yang ayahnya Henki yang telah di bangun kakeknya. Usaha keluarga yang di bangun dari nol. Sekarang ayahnya menikmati hasil kerja kakek. Pasang surut dalam menjalani usahanya. Sampai pada kemajuan dalam peningkatan kualitas dan beberapa sudah dikirim ke daerah lain maupun luar negeri. Terkadang Henki membantu ayahnya untuk meringankan beban kerjanya.

“Ayah bersyukur henki anak ganteng yang baik membantu pekerjaan ayah, tapi ayah masih kuat. Juga Henki harusnya belajar. Gapai semua mimpimu itu. Belum saatnya kamu  kerja. Senang-senang lah lagi masa muda. Jangan menyiayiakan waktu. Selalu dekat dengan Sang Pencipta. Jauhkan diri dari perbuatan yang merusak diri dan nama baik keluarga,” nasehat ayahnya dengan penuh kesejukan.

Ayahnya tidak ingin anaknya seperti  dirinya. Masa muda ayah habis untuk menolong keluarga. Masa-masa sulit pada itu. Ayah dituntut oleh kakek untuk membantunya di kebun. Pertemuan dengan ibu juga di saat ayah sibuk kerja mengantarkan barang-berapa ke pasar. Pada saat itu ibu sedang berbelanja tidak sengaja ayah menyenggolnya karena terlalu sibuk menurunkan barang dari mobil. Kejadian kesalahan paham itu berlanjut sampai ayah melamar ibu. Kemudian buah cinta mereka menghasilkan Henki. Cinta yang sederhana, tapi menarik.
Blog, Updated at: May 13, 2015

0 komentar:

Post a Comment