APEL
Pulang sekolah seperti
biasa Henki pergi bermain sebentar di
taman. Bermain ayunan, perosotan dan lain-lain di taman. Henki riang dan
gembira karena asik bermain. Kemudian tidur-tiduran dekat sebuah pohon yang
rindang. Suhu tubuh yang tadinya naik karena terlalu banyak aktivitas kini
mulai sejuk. Sambil memandangi langit yang cerah. Lama kelamaan Henki
mulai ketiduran. Henki bermimpi menuju suatu tempat yang jauh di atas langit. Di
atas langit ada sebuah taman yang sangat indah. Ditaman tersebut banyak
bermacam bunga dan pohon-pohon. Henki sangat senang di taman. Henki berkeliling
sepanjang taman.tiba-tiba henki melihat satu keanehan dari jauh. Ada sebuah
pohon besar yang di kelilingi oleh semak belukar yang tajam. Henki mendekati
keberadaan pohon tersebut. Sesampai pada tujuan Henki. Semak belukar mulai
bergerak dan menjauh dari Henki. Seakan memberi jalan kepda Henki untuk lebih
dekat lagi dengan pohon tersebut.
Pandangan Henki
terkagum-kagum sekali melihat pohon yang besar
apalagi ada buahnya yang mirip dengan buah apel. Yang membuat Henki
terkesan adalah salah satu buahnya warnanya aneh. Wujudnya berbeda dengan yang lain yaitu
berwarna emas. Henki berusaha memanjat pohon tersebut. Ingin sekali memetik
buah emas. Sampai di atas dahan yang tinggi. Hengki berusaha keras agar bisa
mendapatkan apel emas. Sampai juga pada dahan yang dekat pohon emas. Dengan
pelan-pelan henki memetik buah.
“Dapat,” kata Hengki.
Tiba-tiba terjadi
fenomena yang aneh. Angin bertiup sangat kencang. Henki berpegangan dengan erat
pada dahan agar tidak jatuh. Semakin lama semakin lebih kencang lagi. Henki
tidak kuat lagi menahan. Terpental dari dahan jatuh dari taman langit.
“Haaaaaaaaaaaaaaaaaa,”
teriak Henki.
“Bangun-bangun Henki,”
kata Ibunya.
Henki terbangun dari
tidurnya. Yang dia lihat adalah Ibunya yang menjemputnya pulang.
“Kebiasaan kamu ini
kalau pulang sekolah. Ya, bok pulang dulu baru main, “ omelan si Ibu.
Henki menganguk samba
bilang “ iya bu”. Henki jadi bingung
dengan mimpinya dan bertanya apa maksudnya?. Juga kenapa apel emas ada di tanganya, kalau itu
mimpi?. Henki memikirkan itu sepanjang perjalanan
pulang kerumah. Terus memikirkan Henki jadi bingung. Apel terus dilihat lalu
memotretnya jadi kenangan suatu saat nanti kalau ini hanya sebuah mimpi.
Lama-kelamaan henki semakin tertarik untuk memakanya.
Satu gigitan dari apel
emas. Dua kali sampai seterusnya sisa sebuah bongkol yang ada biginya. Henki
mulai mengantuk dan tertidur dengan pulas. Didalam mimpi henki berada di suatu
istana. Henki melihat kemegahan dari istana. Di dalam istana Henki melihat
seorang gadis kecil. Yang memanggil namanya.
“Henki…….Henki
kemari,” kata gadis kecil.
Henki menghampiri anak
tersebut.
“Siapa kamu, kenapa
kamu bisa tahu nama saya?” tanya Henki.
“Saya adalah putri
istana ini. Taman yang kau datangi adalah bagian dari taman istana. juga
pemilik pohon yang berbuah emas. Nama saya putri Yasmin.”
“Jadi kamu adalah pemilik istana, taman, dan
pohon emas, kalau begitu saya minta maaf telah lancang mengambil buah tersebut,” jawab Henki dengan rasa malu.
“Tidak apa-apa? Hanya
orang yang terpilih yang bisa datang ketempat ini. Jadi buah tersebut diberikan
sebagai hadiah. Tapi buah tersebut bukan buah biasa. Karena mengandung energi
yang besar. Jika sudah waktunya kekuatan tersebut akan bangkit. Jangan salah
menggunakan kekuatan tersebut. Suatu saat
kita akan bertemu lagi,” kata putri Yasmin dengan merdu.
“Maksudnya putri?”
Tanya Henki.
Pembicaraan tersebut
belum selesai. Henki terasa di tarik sesuatu. Samar-samar terdengar suara
ibunya memanggil. Lagi-lagi Henki terbangun dari tidurnya. Ibunya yang dengan
susah payah membangunkan anaknya yang malasa bangun pagi.
“Ayo cepat bangunnya Henki.
Sudah pagi nanti kamu telat masuk sekolahnya. Kan sudah ibu bilang jangan tidur
malam-malam,” omelan Ibu setiap pagi.
Henki masih bingung
dengan kejadian itu?. Dan juga apa maksudnya kekuatan?. Henki berpikir sampai
ke sekolah. Saat belajar pun Henki tidak kosentrasi. Henki dibuat bingung
dibuatnya. Terkadang ia mencoba kekuatan dalam dirinya. Henki mencari tempat
agar orang tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan?. Pas jam istirahat Henki
pergi kelakang sekolah dekat gudang penyimpanan peralatan sekolah Di tempat
tersebut henti mulai mengambil ancang-ancang-ancang untuk melakukan sesuatu.
Dengan menentukan posisi pada sesuatu pada sebuah tembok. Kemudian tinjulah tembok gudang tersebut. Bukan dindingnya
hancur tangannya Henki yang memar karena memukul dinding dengan sekuat tenaga.
“Jadi semua itu hanya
sebuah mimpi,” celoteh Henki
Semenjak kejadian
tersebut Henki tidak peduli tentang
kekuatan yang ada dalam dirinya.
*****
Waktu pun berlalu Henki
sekarang sudah dewasa. Melanjutkan sekolah kejenjang lebih tinggi. Henki sibuk
dengan penelitian. Tidak lagi memikirkan
tentang mimpinya tersebut. Hidupnya di hiasi kembiraan. Henki dulu yang senang
bermain sekarang lebih rajin belajar. Hidupnya lebih banyak digunakan untuk meningkatkan
potensi dalam dirinya di bidang ilmu pengetahuan.
Ibunya yang membentuk
Henki menjadi anak yang berprestasi di bidangnya. Tidak bosan-bosan untuk
mengajarkan kedisplinan dalam menjalani hidup. Omelan-omelanya ibunya yang
membuat anaknya menjadi penurut dan berbakti kepada orang tua. Tujuan ibunya
hanya ingin Henki mengerti tangungjawab. Agar bisa mengatur waktu. Kapan
waktunya belajar dan kapan waktunya bermain?. Ibunya selalu mengarahkan anaknya
dengan rasa cinta dan kasih sayang.
Henki senang karena
punya ibu yang benar menjaga dan membimbingnya supaya menjadi anak yang
berguna. Ayahnya selalu mendukung ibu dalam mendidik anaknya. Ayah selalu sibuk
dengan pekerjaan apalagi sekarang ayah Henki terlalu sering pergi keluar kota
untuk melancarkan usaha dagangnya.
Belum lagi harus
meninjau beberapa perkebunan yang ayahnya Henki yang telah di bangun kakeknya.
Usaha keluarga yang di bangun dari nol. Sekarang ayahnya menikmati hasil kerja
kakek. Pasang surut dalam menjalani usahanya. Sampai pada kemajuan dalam
peningkatan kualitas dan beberapa sudah dikirim ke daerah lain maupun luar
negeri. Terkadang Henki membantu ayahnya untuk meringankan beban kerjanya.
“Ayah bersyukur henki
anak ganteng yang baik membantu pekerjaan ayah, tapi ayah masih kuat. Juga
Henki harusnya belajar. Gapai semua mimpimu itu. Belum saatnya kamu kerja. Senang-senang lah lagi masa muda.
Jangan menyiayiakan waktu. Selalu dekat dengan Sang Pencipta. Jauhkan diri dari
perbuatan yang merusak diri dan nama baik keluarga,” nasehat ayahnya dengan
penuh kesejukan.
Ayahnya tidak ingin
anaknya seperti dirinya. Masa muda ayah
habis untuk menolong keluarga. Masa-masa sulit pada itu. Ayah dituntut oleh
kakek untuk membantunya di kebun. Pertemuan dengan ibu juga di saat ayah sibuk
kerja mengantarkan barang-berapa ke pasar. Pada saat itu ibu sedang berbelanja
tidak sengaja ayah menyenggolnya karena terlalu sibuk menurunkan barang dari
mobil. Kejadian kesalahan paham itu berlanjut sampai ayah melamar ibu. Kemudian
buah cinta mereka menghasilkan Henki. Cinta yang sederhana, tapi menarik.

0 komentar:
Post a Comment