TERIMA KASIH SUDAH MEMBOHONGIKU
Seperti pagi-pagi biasanya, aku sudah berdiri dengan seragam lengkap dan sebuah sandwich di tanganku.
Aku menunggu dengan sedikit gelisah, karena akhir-akhir ini Reno sering sekali datang terlambat menjemputku, terkadang bahkan dia tidak datang, padahal aku sudah terlanjur lama menunggunya.
Itu semua aku maklumi, karena memang saat ini dia sedang memiliki banyak urusan yang cukup menguras tenaga dan waktu, dia memang semakin sibuk mempersiapkan ujian akhirnya dan mulai memilih universitas mana yang akan dia ambil.
“Haiii…!” Tegur Reno dari jauh sambil tersenyum manis dan melambaikan tangan.
Senang rasanya melihat dia datang setelah lama menunggu, aku segera naik ke motornya.
Tapi betapa terkejutnya aku, baru saja aku hendak naik, Tesa pacar Kak Mario (Kakak dari Reno) tiba-tiba saja datang dan mendorongku hingga aku terjatuh dan sandwich untuk Reno berantakan di tanah.
“Apa maksudmu mendorong ku begitu? Kamu gila yaaa?!” emosi ku mulai naik melihat wajah cewek itu yang tidak ada rasa bersalah sedikitpun.
“Heh! Harusnya aku sudah melakukan ini dari dulu, dasar cewek gak punya harga diri”
Mendengar ucapannya itu aku menjadi bingung, namun di sisi lain, emosiku sudah tidak tertahan, aku segera mendorongnya hingga dia jatuh dengan keras dan kepalanya terbentur pagar rumahku.
“STOP!!!!”
Reno menahan kakiku yang hendak menendangnya.
“Kamu kasar sekali siih…!”
Aku cukup terkejut mendengar ucapan Reno.
“Dia kan yang nyerang aku duluan! Apa salah kalo aku bales perbuatannya?!”
“Iya aku tau, tapi dia hanya mendorong kamu pelan, sekarang kamu lihat, kamu mendorongnya sampai kepalanya berdarah!”
Aku hanya diam, aku menyadari, aku memang menyerangnya terlalu berlebihan.
Semenjak hari itu Reno semakin jauh dariku, dia semakin sulit aku temui. Padahal kami satu sekolah, tapi anehnya aku hampir tidak pernah melihatnya di sekolah, entah memang tidak ada, atau dia berusaha keras menjauhiku.
Akhirnya aku menghubungi Kak Mario, selain karena Kak Mario adalah kakak Reno, Kak Mario juga termasuk pendengar setia curhatan dariku, baik pagi, siang atau malam, dia selalu bersedia aku ganggu.
Akhirnya aku mengirimkan pesan agar dia bisa datang ke tempat biasa kita bertemu.
Sudah hampir 10 menit kita hanya saling diam, ini kali pertama aku merasa canggung di depan dia, entah kenapa, mungkin ada rasa bersalah di hatiku, Karena aku sudah melukai kekasihnya. Tapi, entah kenapa Kak Mario juga terlihat canggung di depanku, padahal biasanya dia sangat cuek dan asal bicara.
“Eemmm… Soal Tesa aku minta maaf ya kak!”
“Aku spontan aja, terbawa emosi”
Dengan wajah penuh rasa bersalah, aku mencoba memulai pembicaraan.
“Soal itu, aku sudah dengar dari Reno, santai saja, hanya salah paham!”
“Salah paham? Salah paham soal apa? Kok sampe gitu ke aku, memangnya hubungannya apa sama aku?!”
“Kamu mau cerita atau interogasi aku?! Kalo cuman mau interogasi, aku pulang aja!”
“Tuh kan, ngambek! Iya deh, aku fokus ke masalahku sama Reno!”
Aku mulai menceritakan soal perubahan Reno akhir-akhir ini, sampai akhirnya dia benar-benar menghilang tanpa kabar.
Kak Mario mendengarkan dengan wajah tanpa ekspresi, entah benar-benar mendengarkan atau tidak.
“Kakak dengerin gak sih?”
“Iya aku denger, Reno sibuk belajar di rumah! Kamu datang aja ke rumah!”
“Serius? Syukur deh kalo dia beneran sibuk belajar, bukan sibuk yang lain.! Oke kak, nanti sore aku main ke rumah!”
Lega rasanya setelah mendengar penjelasan dari kak Mario, aku menyiapkan makanan kesuakaan Reno dan bersiap-siap ke rumahnya, aku juga membawakan dia beberapa buku yang mungkin bisa berguna untuk dia.
Tapi saat aku berjalan di kompleks rumah Reno, aku seperti melihat dia sedang berjalan dengan seorang cewek. Belum sempat aku memastikan, mereka sudah hilang dari pandanganku.
Aku lanjutkan perjalanan ku menuju rumah Reno. Sayangnya sesampainya aku di rumah Reno, hanya ada kak Mario di sana. Aku menceritakan apa yang aku lihat tadi pada kak Mario. Tapi, Kak Mario hanya memintaku untuk pulang karena Reno hari ini ada les sampai malam.
Aku benar-benar ingin marah rasanya, kak Mario yang memintaku datang, tapi kenyataannnya dia juga memintaku pulang. Aku bertekat untuk menunggu Reno, aku benar-benar ingin bertemu Reno, aku sudah lelah mencarinya kesana kemari.
Berjam-jam aku menunggunya, tapi Reno belum juga pulang, jam mulai menunjukkan pukul 10.30 pm.
Aku melihat kak Mario keluar garasi bersama motor sport kesayangannya.
“kakak mau kemana?”
“Nganterin kamu pulang!”
“Kakak ini kenapa sih, aku kan udah bilang, aku gak mau pulang sampai Reno datang, Reno pasti segera datang kak, dia bukan anak yang suka keluyuran malam, dia pasti hanya terkena macet sebentar!”
Kak Mario tetap memaksaku pulang, dia mengancam akan mengunci gerbang dan membiarkanku sendirian di jalanan jika aku tetap bersikeras menunggu Reno. Nyaliku mulai ciut, karena aku tau daerah rumah Reno tergolong daerah yang rawan.
Semenjak malam itu, kak Mario memintaku untuk tidak menemui Reno. Bahkan kak Mario benar-benar membuatku semakin sulit menemui Reno. Aku benar-benar benci dengan kak Mario, fikiran buruk mulai muncul dan akhirnya aku memutuskan hubungan pertemanan dengan kak Mario.
Aku tidak pernah lagi meminta pendapatnya tentang apa pun termasuk tentang Reno, aku juga tidak pernah meminta dia untuk membantuku mencari Reno, karena menurutku segalanya selalu percuma.
Hari ini setelah sekian lama akhirnya Reno menghubungiku. Dia memintaku untuk datang di taman kompleks rumahnya.
Betapa terkejutnya saat aku melihat Reno datang bersama Tesa. Dan aku sangat yakin, baju yang dikenakan Tesa sama persis dengan baju yang dikenakan cewek yang jalan bareng Reno hari itu.
“Ini maksudnya apa??”
“Maaf sebenarnya selama ini aku gak cinta kamu, aku sudah berusaha menghindar dari kamu, tapi kamu gak nyadar juga, sampai-sampai aku harus nginep di rumah temen untuk menghindari kamu, aku gak bisa pacaran sama anak penyakitan kayak kamu, dan aku juga udah punya Tesa sekarang!”
“Tapi, Tesa kan, pacar kak…!”
“Mario maksud kamu?, dia bukan pacarku, dari awal aku pacaran sama Reno, tapi Mario gak mau kamu tau, karena itu kami pura-pura! Mario minta aku untuk sabar nunggu kamu siap diputusin Reno, tapi yang aku lihat kamu makin nempel aja, dan aku juga udah capek pura-pura terus… Jadi mulai sekarang aku minta kamu jauhin Reno ya, kita udah capek main petak umpet sama kamu!”
Aku hanya bisa menangis mendengar ucapan mereka, entah aku harus sedih atau bahagia, dengan keadaan saat ini, di sisi lain, aku telah terselamatkan dari kematian, karena jika aku mengetahui ini saat itu, aku tidak akan sanggup menghadapi kenyataan yang ada dan mungkin aku akan bunuh diri seketika. tapi mengetahuinya sekarang juga bukan hal yang baik, karena saat ini aku terlanjur sangat mencintai Reno.
TAMAT


0 komentar:
Post a Comment