“Malam ini hujan turun lagi bersama kenangan yang ungkit luka di hati” lantunan lagu Last Chil Oleh Cika. “Tumben nyanyi, ka” ujar salah seorang teman Cika. “Iya nih aku bosan banget di Kostan nih Ca”. Tak lama mereka berbicara datanglah lulu. “Hey Guys.., lagi pada apa nih?”, “Cempreng banget suara kamu lu”. “Ya ya ya itulah aku” dengan percaya dirinya lulu berkata seperti itu.
Kami bertiga adalah sahabat dari kecil, Aku cika umurku 16 tahun dan aku punya 2 orang sahabat lulu dan caca. Mereka itu orang yang selalu dengar keluh kesahku. Hingga suatu ketika, Aku jatuh cinta pada seorang Seniorku. “Ciee denger-denger ada yang lagi PDKT ni” ledek caca padaku, “Ih apaan sih ca”, “Hahaha aku juga udah tau kali ka” sambar lulu yang tiba-tiba memotong pembicaraan kami. “Moga-moga cepet jadian deh”, “Amin”, batinku.
Siang itu cuaca sangat terik, Aku yang tengah berjalan di jalan menuju kostan dikagetkan oleh seseorang yang memayungiku, ternyata ia adalah sosok pria yang aku impikan. Ya dia Andika seniorku yang sangat aku kagumi. “Heii sendirian aja ka”. “Heh iya kak aku mau pulang cepetan tadi jadi aku duluan dari temen-temenku”. “Ohh gitu ya udah, kakak anter ya”, “Iya deh, kak”
Sesampai di Kostan, “Kakak balek dulu ya ka”. “Iya kak makasih yah dah anterin aku”. “Iya sama-sama, oh ya kakak boleh minta nomer cika?”. “Ya, boleh kak 08xxxxxxxx48.” “Thanks ya dek”. aku hanya tersenyum padanya.
Malam harinya kudengar hp ku bergetar ada satu pesan masuk, isi pesan itu adalah “Malem cika, ini kakak kamu udah makan belum”
“Iya kak malam juga? ini lagi mau makan”
“Oh ya udah makan dulu sana”
Kuletakkan ponselku lalu aku makan dan selesai makan aku pun pergi ke sebuah cafe dimana tempat aku udah janjian sama kak andika.
Laksana disambar petir malam ini, kulihat orang yang aku kagumi tengah bersama dengan sahabatku Lulu. Tak sengaja kudengar percakapan mereka. Ternyata mereka telah resmi jadian. Tapi, kuurungkan niatku tuk menghampiri mereka. Kukirim saja pesan pada mereka
“Selamat ya kak dengan sahabatku semoga langgeng. Salam dariku Cika.”
Aku berlari meninggalkan cafe itu. Aku pun tak tahu apa yang telah terjadi. Seakan tak percaya aku itu semua akan terjadi. Dan tak lama hujan pun turun. Kini aku tengah menangis di dalam derasnya hujan. Aku berteriak sekencang-kencangnya, Aku luapkan segala emosiku di taman dekat seberang cafe itu.


0 komentar:
Post a Comment