SEMOGA WAKTU DAPAT MENYEMBUHKANMU
Mentari pagi menyambutku hangat. Menuntun jalanku ke sekolah untuk tujuan mulia, menuntut ilmu. Aku menyusuri lobi sebelum akhirnya sampai di kelas. Di depan kelas, aku melihat sahabat lamaku -Wira berlalu dengan kawan-kawannya. Ia seolah bahagia dengan hidupnya yang sekarang, tanpa aku. Aku merasa dulu pernah menyakiti hatinya. Aku bodoh sekali jika melupakan hal itu.
Apa kau pernah mendengar sebuah istilah, jika persahabatan di antara pria dan wanita selalu akan dibumbui rasa cinta, paling tidak hanya seorang dari mereka yang merasakannya? Dan itu yang kami alami. Di jenjang pendidikan sebelumnya, kami adalah teman akrab atau bisa disebut sahabat. Kami tak canggung untuk berdua bersama-sama. Ke kantin, ke perpustakaan, ke sekolah atau bahkan untuk pulang bersama.
Tapi, disuatu saat aku merasakan hal aneh darinya. Kebiasaannya berubah. Dulu ia tak canggung menarik hidungku jika kesal ataupun mencoret buku catatanku untuk membalas dendam. Tapi beberapa hari terakhir, sikapnya berubah drastis. Wira menjadi pria yang lebih lembut dari sebelumnya, lebih sabar dari sebelumnya.
Pernah pula suatu saat, aku mendapatinya menatapku dalam-dalam. Seolah sedang berkonsentrasi tentang apa yang ia lihat. Aku pernah bertanya padanya, kenapa ia menatapku seperti itu. Ia menjawabnya singkat, “Aku sedang mengagumi ciptaan Tuhan paling indah.”. Menurut orang lain, itu pasti terdengar romantis. Tapi bagiku menjijikan. Tak terdengar seperti Wira.
Dan di hari kelulusan, ia membuatku lebih terkejut lagi dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. “Aku suka kamu. Kamu mau gak jadi pacarku?” begitu kira-kira ucapan Wira padaku. Pertama kali ia mengucapkan kalimat itu, kupikir ia bercanda dan ingin membuatku baper. Tapi ternyata ia serius. Aku tak tahu harus berkata apa. Sebenarnya aku menyukainya. Tapi hanya sebatas sahabat, tak lebih. Aku ingin membuatnya bahagia. Tapi takut menyakitinya perlahan-lahan. Jadi aku katakan yang sejujurnya. Ia hanya diam dan meninggalkanku sendirian. Aku berharap ia mau menerima keputusanku dan tetap menjadi sahabat terbaikku.
Tapi ternyata tidak. Aku merasa telah menyakiti hatinya yang terdalam, hatinya yang lembut dan rapuh. Aku pernah mencoba mengajaknya bicara. Tapi ia mengacuhkanku, seolah mengusirku dengan halus. Saat itu aku menyesali apa yang terjadi. Persahabatanku, keputusanku, semuanya. Meski berat, akhirnya kubiarkan dia melanjutkan hidup tanpa aku. Aku hanya bisa memperhatikannya dari jauh. Berharap waktu mampu mengobati luka hatinya karena aku.


0 komentar:
Post a Comment