GENDERUWO DI POHON SAWO

Posted By Cerpen universal on Monday, September 14, 2020 | September 14, 2020

GENDERUWO DI POHON SAWO

Waktu itu madrasah di kampung nenek akan mengadakan kegiatan samen -acara perayaan kenaikan kelas- yang biasanya berlangsung cukup meriah karena akan diisi oleh berbagai kegiatan pertunjukan di antaranya hafalan al-qur’an, atraksi kesenian, pameran hasta karya, dan yang paling menarik adalah pementasan seni drama. Sejak beberapa hari menjelang perayaan samen sudah tampak persiapan yang dilakukan oleh panitia yaitu mendirikan panggung pementasan di tengah-tengah halaman madrasah. Panggung tersebut nampak megah dihiasi aneka dekorasi dari janur maupun kertas kreb yang berwarna-warni.

Saat itu halaman madrasah ramai disesakki para pengunjung yang akan menyaksikan pementasan sandiwara. Tampak di antara para pengunjung adalah empat orang anak yaitu Bayu bersama tiga teman-temannya Tisna, Dedi. dan Wawan. Tepat pukul delapan malam acara dimulai. Pertama-tama pembawa acara membacakan prolog yang bersisi pengantar cerita sebelum masuk ke adegan. Sandiwara tersebut bertema horror yang menceritakan hantu gentayangan yang membalas dendam orang-orang yang membunuhnya. Para pemeran sandiwara tersebut adalah murid-murid madrasah tersebut. Suasana horror yang menakutkan terlihat dari kostum kuntilanak dan pocong.

Ketika muncul di pentas mendadak sontak para penonton dibuat menjerit ketakutan, termasuk Bayu, sesekali ia menutup mata karena tidak berani melihat sosok hantu yang menakutkan. Saat itu suasana dibuat gelap, lampu-lampu dipadamkan, hanya lampu di panggung saja yang dihidupkan sehingga para penonton fokus ke atas pentas. Tanpa disadarinya ternyata Bayu terpisah dari teman-temannya. Hal ini baru disadarinya tatkala acara pementasan selesai dan lampu-lampu dihidupkan, Bayu menyadari dirinya sendirian sementara ketiga temannya entah ke mana. Bayu hanya bisa celingukan mencari-cari temannya yang lain.

Karena diserang rasa kantuk akhirnya Bayu memutuskan untuk pulang sendiri. Mulanya tidak terjadi apa-apa karena suasana masih ramai sehingga Bayu tidak merasa cemas namun ketika jalan pulang yang ditempuh Bayu memasuki area totoang, pekuburan, dan kebun bambu, suasana menjadi sepi. Bulu kuduk Bayu berdiri, Bayu berjalan makin cepat karena serasa ada bayangan hitam yang mengikuti dari belakang. Sesekali Bayu menoleh ke belakang tapi tidak ada apa-apa. Keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuh Bayu.

Langkah Bayu mendadak terhenti karena tepat di depan jalan yang akan dilaluinya terdapat sebuah pohon sawo yang rindang dimana dahannya agak condong ke jalan dan dari atas dahan yang condong ke jalan terlihat remang-remang sebuah kaki hitam besar berbulu menjuntai hampir menyentuh tanah dan menghalangi jalan yang akan dilalui Bayu. Bayu segera berbalik arah dan kembali ke jalan semula dengan berlari sekencang-kencangnya. Tatkala telah sampai kembali ke arena pementasan sandiwara, suasana masih terlihat ramai dimana para panitia sedang membereskan panggung dan peralatannya. Saat itu Bayu menghampiri seorang kakak yang berseragam pramuka. Sang kakak memandang Bayu dengan penuh keheranan.

“Ada apa dek, kok seperti ketakutan?” tanya sang kakak.

“Kak, antar Bayu pulang Kak,” pinta Bayu dengan penuh belas kasihan. Sang kakak merasa terketuk hatinya.

“Memangnya rumah kamu dimana dek?” tanya sang kakak lagi.

“Di sana, deket musala,” sahut Bayu.

“Oh rumah Nek Diot, kamu cucunya ya?” kata sang kakak balik bertanya.

“Iya,” jawab Bayu sambil menganggukkan kepala.

Akhirnya sang kakak dengan senang hati mengantarkan Bayu pulang ke rumahnya. Tatkala melewati pohon sawo Bayu tak berani menatap ke atas pohon, tangannya kuat-kuat memegang tangan sang kakak. “Jangan takut, nggak ada apa-apa,” kata sang kakak namun Bayu tetap menunduk.

Setelah melewati pohon itu hati Bayu mulai tenang kembali. Ia tak berani menoleh ke pohon itu. Sang kakak mengantarkan Bayu sampai ke rumah nenek. Sang nenek mengucapkan terima kasih kepada kakak yang telah mengantarkan Bayu, cucunya. Bayu langsung tertidur di samping neneknya sambil memeluk guling. Kini pohon sawo itu telah tidak ada, ditebang pemiliknya karena ada pelebaran jalan, namun Bayu tetap mengenang kejadian di malam itu hingga kini Bayu berusia dewasa. Bayu hanya bisa tersenyum mengenang kejadian itu.
Blog, Updated at: September 14, 2020

0 komentar:

Post a Comment