CERITA DIBALIK KARYAKU
Yups, ini dia karyaku,
Karyaku ini terinspirasi dari seseorang yang telah membuat Saya nyaman berada di sampingnya (cie cie). Saya membuat ini dari bahan bahan sederhana yaitu bambu dan semak yang ringan (Pohon TABLO kalau dalam bahasa Sunda). Walau sederhana dibalik karya ini terdapat cerita yang mendalam, Yaitu dipertemukannya Saya dengan seorang yang bersedia menulis kisah di lembaran kehidupan Saya,
Ini cerita singkatnya.
Pertama Saya mengenalnya dari jejaring sosial Facebook, awalnya hanya sebuah chatting iseng yang berlanjut menjadi sebuah obrolan yang sedikit membuat hati baper, yang membuat saya lebih dekat dengannya, ternyata dia satu sekolah dengan Saya, hanya saja dia satu tahun setelah Saya, dengan begitu topik pembicaraan yang Saya cari tidak begitu rumit, apalagi setelah tahu kalau dia satu daerah dengan Saya semakin membuat lebih cepat dekat dengannya.
Singkat cerita, Dia memberi lampu hijau dengan memberitahukan alamat rumahnya disertai ajakan untuk makan di luar, Saya merasa sangat senang saat itu, entah apa yang membuat Saya nyaman dengannya, mungkin karena sikapnya yang anggun dan tutur katanya yang sangat lemah lembut, itu yang tidak bisa saya lupakan sampai saat ini, wajahnya yang manis juga tentunya.
Seiring berjalannya waktu kami tetap saling komunikasi meski hanya melalui selular, mendengar suaranya pun sangat membuat saya nyaman.
Waktu terus berlalu, Saya harus pergi dari kampung halaman karena sebuah pekerjaan, namun Saya tidak harus khawatir akan dia (Dia bukan siapa-siapa Saya hanya saja dia selalu memeberi sesuatu kode cinta yang sangat jelas pada Saya).
Suatu hari Saya melihat-lihat Kronologi Facaebook beserta Display picture di BBMnya, Saya terkejut dengan pose dia sedang berjalan dan sebuah tangan nampak di bagian bawah gambar sedang memegang tangannya, terlihat seperti tangan seorang laki-laki (owh). tapi aku simpan foto itu lalu mengeditnya dengan tulisan “Siapa ini?”. tapi tidak Saya tunjukan padanya, hanya untuk disimpan dan renungan untuk menguatkan Saya, bahwa dia bisa saja sudah memiliki kekasih.
Hingga suatu hari Bibi Saya melihat lihat galeri di HP Saya dan mengomentari foto yang Saya edit, “Ini seperti tangan laki-laki?”, “Ah sepertinya bukan, dia kan pernah bilang padaku bahwa dia tidak menginginnkan pacaran” Jawab Saya menenangkan hati.
Meski begitu Saya tetap mengaguminya, bahkan diwaktu libur Saya masih bisa jalan bersamanya, walau pun sesuatu yang janggal terjadi, seperti dia tidak pernah ingat bahwa dia pernah jalan dan makan bareng bersama saya sebelumnya, entah dia lupa atau mungkin sengaja melupakan, untuk menunjukan kekaguman Saya padanya sebuah lukisan mengenai dirinya lahir dari tangan Saya. Hingga akhirnya komunikasi Saya dengannya mulai terasa renggang, menyadari hal itu Saya mulai mengatur waktu untuk memberikan miniatur rumah pohon yang Saya buat berkat imajinasi yang dia berikan meski secara tidak langsung, karena miniatur itu sebuah khayalan dimana suatu hari nanti Saya ingin membangun yang seperti itu bersamanya dan melakukan canda tawa di dalamnya, bersama.
Lega sekaligus sesak setelah berhasil memberikan karya itu kepadanya, lega karena dengan itu Saya sudah berikan kembali harapan yang pernah dia buat, karena karya Saya itu selalu mengingatkan akan dia, juga sesak, sesak apakah Saya bisa menemukan lagi sesosok yang mampu membuat Saya nyaman.
Di akhir cerita kemungkinan dia bersama orang lain semakin jelas ketika dia mulai membagikan kebahagiaanya di dunia maya mengenai pernikahannya yang akan dilakukan sesegera mungkin, Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya, dan terimakasih sudah membagi waktu kebahagiaan bersama Saya. meskipun Saya tahu seperti biasa kamu tidak pernah mengingatnya.
Sekian.


0 komentar:
Post a Comment