BERAWAL DARI HUJAN

Posted By Cerpen universal on Tuesday, September 15, 2020 | September 15, 2020

BERAWAL DARI HUJAN

Namaku angel anak hitz di sekolahku. Aku mempunyai sahabat yang paling setia dan selalu sabar menanggapi sifat-sifatku. Sebut aja namanya Veve. Veve adalah murid teladan di sekolahku nilai-nilainya pun juga memuaskan kedua orangtuanya.

Saat jam istirahat Veve dipanggil ke kantor kepala sekolah, sehingga aku harus menunggunya sendirian di kantin. Eeeee… tunggu tunggu gue kan anak hitz jadi gue gak akan pernah ngerasa sendiri gumamku dalam hati. Tapi itu memang bener kok banyak orang yang ingin dekat denganku atau mungkin bisa jadi mereka ingin hitz seperti aku.

Aku telah menunggu Veve cukup lama. Bibirku komat kamit menunggu kemunculan Veve. Akhirnya kulihat batang hidungnya. “Veve” teriakku membuat orang orang di sekitarku melihatku. Veve dengan cepat menghampiriku.

“Maaf. Tadi aku dipanggil pak kepsek” “Ya udah gak papa. Sini duduk”. Saat aku menyuruh Veve duduk kulihat ada seorang cowok tinggi putih pokoknya perfect!. “Ve… ve… Veve” kupeganggi tangan Veve.

“Kamu kenapa Angel?”

“Itu itu.”

“Apa sih?”

“Itu loh di belakang lo siapa ganteng banget.”

“Oh… iya aku lupa ini kenalin Farrel anak baru di sekolah ini.”

“Haiiii,” sapaku.

“Kenalin Antonius Farrel. Panggil aja Farrel.”

“Angela Cllarista. Panggil aja Angel,” tanganku gemeteran saat berjabat tangan dengannya.

“Ya udah sini Farrel duduk sama kita di sini.”

Farrel duduk di depanku. Perasaan gugup ditambah senang menyelubungi tubuhku.

Hari ini Veve tidur di rumahku karena bokap nyokap gue sedang ke luar kota.

“Ve… veve.”

“Hmmm…”

“Farrel tadi ganteng ya.”

“Heem.”

“Ve!”

“Apa sih?”

“Kamu dengerin aku apa gak sih?”

“Iya aku dengerin kamu. Udah ngomong aja.”

“Gue mau tanya kenapa tadi Farrel sama lo?” tanyaku heran. 

“Ohh… pak kepsek suruh aku bantuen Farrel di sekolah ini kan dia anak baru. Kamu kenapa tanya-tanya tentang Farrel suka ya?”

“Hmmm…. ya gitu deh. Udah udah tidur yukkk…!” Jawabku untuk menghindar dari pertanyaan Veve.

Farrel sering bermain dengan kami. Di kelas maupun di luar kelas kami selalu bersama. Keseringan bersama Farrel aku mulai ada yang aneh saat bersamanya. Farrel adalah orang yang baik. Terkadang ia mengantarku pulang bila aku tak dijemput. Terkadang pun Farrel juga menghiburku saat aku sedih.

Suatu saat aku belum dijemput dan Farrel menemaniku hingga dijemput.

“Angel kok kamu belum dijemput?”

“Gak tau nih udah jam segini aku kok belum dijemput. Pake acara hujan lagi.”

“Hmm… gue tungguin sampe loh dijemput.”

“Makasih ya.”

Farrel cukup lama menemaniku. Hujan pun belum reda juga.

“Farrel kamu pulang aja gak papa.”

“Tapi kamu gimana.”

“Gue naik taksi aja gak papa.”

“Gak usah gue antarin aja dari pada buang-buang uang.”

“Tapi ini hujan nanti kalau lo sakit gimana?”

“Udah gak papa. Ayo.”

Aku pun pulang diantar Farrel meskipun hujan masih cukup deras.

“Nih kamu pake jaketku,” katanya sambil menarunya di punggungku dan kurasakan sekilas tangan Farrel seperti memelukku.

“Gak usah nanti kamu basah semua.”

“Udah gak papa ayo naik.”

Aku pun naik ke montor Farrel. Hujan deras membasahi kami. Farrel melingkarkan tanganku di pinggangnya. Awalnya aku terkejut tapi aku hanya bisa diam. Motor Farrel melaju dengan cepat melawan derasnya hujan.

Akhirnya kami tiba di rumahku. Baju kami basah semua. Apalagi Farrel bajunya sangat basah. Sebenarnya aku kahwatir dengannya tapi Farrel hanya menjawabnya aku tidak apa apa. Aku menyuruh Farrel masuk tapi dia tidak mau. Ia lebih memilih langsung pulang.

“Makasih ya Farrel buat hari ini.”

“Iya sama sama. Ya udah gue pulang dulu ya. Dah.”

Aku hanya mengangguk saja. Keesokan harinya aku berangkat pagi dan membawa bekal untuk Farrel. Aku lari menuju luar rumah dan naik ke mobil. Setibanya di sekolah aku langsung lari dan mencari Farrel. Langkahku terhenti saat melihat Farrel berduaan dengan cewek lain. Kurasakan badanku hampir jatuh. Aku pun langsung lari dan bekal yang aku bawakan untuk Farrel jatuh. Aku berlari mencari Veve. Saat di kelas aku langsung memeluk Veve. Aku menanggis di pelukan Veve.

“Angel kamu kenapa?”

“Ve…”

“Iya kenapa?”

“Farrel.”

“Farrel kenapa?”

“Gue kecewa sama dia. Dia selalu ngasih perhatian ke gue. Apalagi kemaren dia rela hujan-hujanan sampe basah-basahan demi nganterin gue. Tadi gue pingin ngasih dia bekal buat kejadian kemaren dan mau nyatain perasaan gue ke Farrel. Tapi aku lihat Farrel berduaan dengan cewek lain.”

“Udah udah gak papa. Jangan nangis lagi di dunia ini masih banyak cowok yang lebih dari Farrel. Lagian Kamu kan anak hitz pasti banyak orang yang suka sama kamu.”

Tiba-tiba Farrel datang menghampiri kami.

“Angel kamu kenapa?”

Tanpa menjawab pertanyaan Farrel aku pergi meninggalkannya.

“Veve, Angel kenapa?”

“Enggak papa kok. Dia cuma gak enak badan gara-gara kehujanan. Ya udah gue mau nyusulin Angel dulu.”

“Hmm…. Bilangin ke Angel Moga cepet sembuh.”

Aku hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Farrel.

Aku datang menghampiri Angel, kulihat dia menanghis di pojokan kamar mandi. Aku menghampirinya dan memeluknya.

“Angel kamu harus bisa ngejalanin semua ini. Mungkin Farrel emang bukan buat kamu. Kamu harus bisa ngebuang rasa cintamu sama Farrel dan kita bisa berteman lagi seperti dulu.”

Aku hanya diam sambil terus menanggis.

“Kamu boleh nangis sesukamu. Biar kamu lega.”

“Ve… gue kecewa sama Farrel. Kalau dia gak punya perasaan ke gue kenapa dia ngasih perhatiaan yang lebih ke gue.”

“Iya aku tau itu wajar Farrel teman kita. Seharusnya kamu jangan mudah baper sama Farrel.”

Aku menatap wajah Veve “Tapi…”

“Udah sekarang kamu usap air mata kamu dan kita pergi ke kelas dan satu lagi kamu gak boleh pasang wajah cuek ke Farrel. Oke!”

Aku hanya mengangguk dan menggusap air mataku. Mulai dari itu aku bisa melupakan Farrel dan kita berteman kembali. Dan sekarang gue punya pacar namanya Alex anak basket di sekolahku. Aku melewati hari-hariku bersama Alex.
Blog, Updated at: September 15, 2020

0 komentar:

Post a Comment