SENJA ITU BUKAN LAGI AKU
Pada saat itu kamu pernah bilang bahwa aku adalah senja yang terlukis indah di detik-detik pergantian siang dan malam. Kamu juga pernah bilang bahwa aku satu-satunya perempuan yang dapat membuat kamu panas dingin disaat mata saling memandang untuk yang pertama kalinya. Aku tersanjung, sungguh. Tapi itu bukan satu-satunya untaian kalimat indah yang kamu berikan padaku. Masih banyak dan aku sama sekali belum melupakannya.
Seperti pada saat itu, saat kita berdua berjalan menikmati kehangatan Jakarta di waktu sore. Keadaan sangat ramai karena kendaraan yang hilir mudik menuju tempat tujuan masing-masing. Sampai pada akhirnya kita berhenti di sebuah taman yang lumayan sepi guna menghindari kebisingan.
Kita bedua duduk di bangku panjang ditemani angin yang berhembus pelan sehingga menerbangkan beberapa helai rambutku. Lalu kamu tidak tinggal diam, tanganmu merapikan helai rambut yang terbawa angin tadi ke tempat semula. Agar lebih cantik, ucapmu pada saat itu. Entah kamu mendengarnya atau tidak, jantungku berdegup kencang bagaikan drum yang dipukul. Untuk yang pertama kalinya aku merasa kamu sedekat ini.
“Dari sekian banyak perempuan yang mendekati kamu, kenapa kamu lebih memilih pergi bersama aku sore ini?” tanyaku di sela-sela keheningan. Mata teduhmu menatapku dalam, sarat akan makna. Senyum hangatmu tercetak jelas di bibir yang dapat menerbangkan hati wanita siapa saja yang melihatnya.
“Karena kamu bukan salah satu dari sekian banyak perempuan itu, Sabrina.”
Hatiku terenyuh mendengar penuturanmu. Bagaikan ribuan kupu-kupu yang menggelitik perut, jantungku sudah berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku tidak tahu sudah seberapa dalam hatiku jatuh terhadapmu. Tapi rasanya itu tidak perlu dipertanyakan lagi.
“Aku akan melanjutkan pendidikanku di Yogyakarta. Berjanjilah, kita akan bertemu di tempat ini empat tahun lagi.”
Hatiku mencelos, kupu-kupu yang tadi hingga di perut ku hilang sudah tak berasa. “Kamu mau kuliah di Yogyakarta?”
Kamu mengangguk lalu mengambil kedua tanganku dan menggenggamnya erat. “Kita harus bertemu di tempat ini lagi bagaimana pun caranya. Tidak peduli sudah jadi apa tempat ini nanti.”
Aku mengangguk dengan tubuh bergetar saat itu. Ingin menangis tapi seharusnya aku bahagia karena kamu diterima di salah satu Universitas ternama di Yogyakarta. Aku hanya merasa takut entah kenapa. Tapi genggaman tanganmu membuat aku yakin bahwa kamu tidak akan melepaskanku begitu saja.
Tapi takdir menamparku keras dan realita seolah-olah menjatuhkanku pada jurang gelap tak berdasar. Semuanya hitam dan aku sendirian.
Ini sudah tahun ke-6 setelah kejadian itu tapi kamu belum memberikan tanda-tanda bahwa kamu masih berada di kehidupanku. Aku bagaikan burung yang dikeluarkan dari sangkar oleh si pemilik agar bisa terbang bebas dan tidak dipedulikan lagi. Aku menunggu kamu sampai saat ini asal kamu tahu.
Kamu itu bagaikan rasa manis pada permen, semua orang menyukainya. Kamu juga bagaikan warna pada lukisan mahal, semua orang memandanginya. Kamu masih sama terhadap orang lain. Tapi kamu tidak sama lagi terhadapku. Kamu memilihku ketika kamu belum sadar bahwa semua orang tertarik padamu. Kamu memilihku ketika kamu belum sadar bahwa kamu seluar-biasa itu. Setelah kamu beranjak dewasa dan kamu tahu. Aku pun tahu apa resikonya untukku. Kamu mengabaikanku.
Walau kamu dulu pernah bilang bahwa kamu benci dengan perpisahan ini, nyatanya kamu lebih bahagia tanpa aku. Dalam kurun waktu kurang lebih enam tahun, aku tahu kamu jadi lebih sering tertawa. Kamu punya banyak teman, kenalan, bahkan mungkin semua orang mengenalimu.
Dan aku masih tetap di sini, berjalan di tempat tanpa ingin menoleh ke manapun kecuali ke arahmu. Aku belum bisa melupakan karena rasaku yang meminta. Rasaku kepadamu yang membuat aku sebegitu menyedihkan ini.
Takdir kembali menamparku tatkala kamu dengan figur lelaki dewasa berdiri tegap di hadapanku. Tak ada sorot penyesalan di matamu karena aku tahu kamu justru lebih bahagia sekarang ini. Hatiku masih sama, berdebar dengan kencang walau sudah bertahun-tahun aku tidak merasakan sensasinya.
“Aku akan menikah 3 minggu lagi, kamu orang pertama yang aku undang, Sab, jadi tolong datang,” ucapmu sambil menyodorkan surat undangan berwarna emas. Aku mengambilnya perlahan tanpa kamu tahu badanku sudah bergetar.
“Maaf, Sab, aku nggak bisa kembali ke kamu. Aku nggak datang saat itu, maaf,” lanjutmu.
“Seharusnya kamu nggak buat aku nunggu dengan hadiah kamu yang sudah berkomitmen dengan perempuan lain, Sean.” Aku berucap pelan sambil memberanikan diri menatap matanya.
“Sekarang kamu boleh pergi,” lanjutku. Entah mengapa aku seperti baru saja melepaskan seekor merpati yang sudah lama menetap bersamaku.
Tanganmu hendak meraihku tapi aku mundur perlahan. Aku hanya merasa tidak pantas lagi. Tanpa sadar air mata lolos keluar dari bola mataku dan langsung kuusap secepat mungkin.
Menyadari itu, kamu langsung berbalik tanpa berkata apa-apa, meninggalkanku seorang diri. Aku menatap undangan pernikahan yang sedari tadi aku genggam. Aku membuka tanganku, membiarkan surat undangan itu terbawa angin laut pada sore hari yang berhembus kencang. Kertas itu pergi bersamaan dengan perasaanku yang sudah lama bersarang di dada.
Dulu wujudmu nyata sekarang hanya ilusi yang menjadi figur dua dimensi. Kamu, tanpa aku bisa sentuh kembali. Kamu, tanpa aku bisa gapai kembali. Kamu, tanpa aku bisa lihat kembali. Walaupun kamu masih ada di Bumi, tapi aku tidak bisa melakukan itu semua karena wujudmu yang sudah mati.
Aku bisa melihat tanganmu yang menggenggam tangan perempuan lain dengan mata telanjang. Bersamaan dengan itu aku bisa melihat senja yang perlahan memudar bergantikan dengan malam yang gelap gulita. Aku harap rasaku sama seperti senja itu. Memudar.
Karena senja itu bukan lagi aku.
Selesai


0 komentar:
Post a Comment