SEBATAS PENGHIBUR DUKANYA
Suatu pagi yang cerah di salah satu sekolah kejuruan “Teng… Teng.. Teng” bel istirahat pun berbunyi dan anak-anak berseragam abu abu pun mulai keluar dari kelas masing masing.
“Yun… Jajan yuu” ajak nana.
“Kamu duluan aja, nanti aku nyusul, belum selesai nyatet nih..” ujarku.
Seketika nana beranjak meninggalkanku.
Dengan cepat aku menyusul nana ke kantin karena waktu istirahat hanya setengah jam saja, saat aku melewati mushola ada beberapa anak lelaki yang tak asing sedang mengobrol di sana dan ada satu lelaki yang rasanya aku baru melihatnya. Aku terus saja melhatnya sambil berjalan ke arah kantin.
“Rasanya aku tak pernah melihatnya saat mos kemarin…” aku keheranan.
Tanpa kusadari ia pun balas melihatku.
Oya namaku yuni, aku baru saja masuk ke kelas 10 tkr 2 sekitar 2 bulan yang lalu.
Saat aku selesai jajan dengan nana bel pun berbunyi tanda istirahaat habis.
Sepulang sekolah, Nana pulang duluan. Yaa karena kami memang beda arah pulang. Lagipula hari ini pertama latihan lbb untuk lomba bulan depan. Hmm sebenernya bukan kemauanku hanya saja bu wakel memohon karena memang kekurangan anggota, tapi aku melakukannya dengan senang hati.
“Pritttt…” suara peluit berasal dari lapangan tanda latihan akan dimulai.
Aku pun bergegas kesana.
Saat tiba di sana “Dia.. Cowok itu kan….?!” dalam hati.
“Hey, kamu jangan bengong ayo simpan tasnya dan masuk barisan..” teriak kakak pembimbing.
“I..Ii..Ya siap!” teriakku.
Dia melihatku dan hanya tersenyum manis. Woow deg.. Deg.. Hatiku gak karuan… Mungkinkah…? Ah sudahlah.
Hari demi hari latihan berlangsung, aku mulai akrab dengan teman latihanku, termasuk dengan ari. Ya dia bernama ari ginanjar kelas sebelah. Oh pantas saja aku baru tau dia.
Sesaat setelah latihan berakhir, aku kelelahan dan duduk di pinggir lapangan sore itu. Kuambil minum dan meneguknya sambil memejamkan mata untuk merilekskan tubuhku.
“Capek ya…” ucap cowok di depanku.
“Tentu saja” dengan cueknya.
“Aku juga sama, jujur saja bahuku sakit. Mmm.. Kamu mau bantu aku gak mijit bahu aku?”
“Boleh” aku pun membuka mata dan betapa kagetnya aku bahwa yang dari tadi bicara itu adalah ari. Dia pun hanya tersenyum cool.
Dengan rasa deg degan dan tangan gemeteran aku pun memberanikan diri untuk memijat bahunya.
Aku pulang dengan hati berbunga-bunga. Aku masuk kamar menjatuhkan tubuhku di atas tempat tidur dan mulai membayangkan wajah ari yang manis dan cool itu.
“Drrrrtt… Drttt” hp ku getar dan ada sms dari nomor tak dikenal.
to : yuni
Ini aku ari, makasih ya atas pijitannya, bahu aku entengan nih.
Ya ampun aku hanya bisa melongo saat membaca sms itu.
Langsing kubalas “iya ri sama sama, dpt nomer aku dri siapa?” Tanyaku.
“Dari anggota lain” jawab singkatnya.
Kami pun mulai dekat sampai lomba itu terlaksana dan kami mendapat juara 3. Kami sering smsn, bercanda di sekolah akhirnya jadian. Namun setelah jadian aku merasa dia beda, lebih cuek, jarang ngasih kabar katanya sibuk organisasi, dan bla bla bla.
Iseng kucari faacebooknya dan taraaaa ada akun dengan nama ari ginanjar dengan foto dia bersama wanita. Kuselidiki ternyata ari baru putus dari pacarnya seminggu sebelum menembaku. Ahh sakit rasanya, air mata ini tak kusadari menetes begitu saja.. “Mungkin aku hanya pelampiasannya saja” lirihku.
Sebulan setelah kami jadian, dia memutuskan hubungan ini, aku meng iyakan dengan berat hati karena jujur aku menyayanginya tapi tak apa mungkin dia lebih baik tanpa aku. Dan benar saja aku hanya penghibur dikala hatinya lara, dan diacuhkan kala hatinya mulai gembira. Aku hanya bisa tersenyum, tuhan pasti punya rencana baik setelah ini untukku.


0 komentar:
Post a Comment