TANGGA RUMAH SAKIT (PART 1)
Dua tahun lalu. Nenekku masuk rumah sakit di daerah Jakarta karena stroke yang dideritanya sudah 3 tahun lebih. Pada saat itu bulan puasa menjelang idul fitri atau lebaran aku dan kedua sepupuku Khiza dan Anra kebagian menjaga nenek. Kami tiba sore hari sekitar pukul 4 sore. Kami menggantikan jaga tante kami lalu saat kami tiba dia pamit pulang. Menjelang magrib Khiza dan Anra turun kebawah untuk beli makanan buka puasa. Aku menjaga nenekku. Lalu magrib tiba. Khiza lebih tua 3 tahun dariku dan Anra lebih muda 2 tahun dariku. Tak lama kemudian Khiza sms kalau dia sudah naik dan ada di lobby lantai nenekku dirawat ia membawa 3 bungkus mie ayam dan jus buah.
Lalu kami makan bergantian. Saat magrib Anra yang berjaga dan Khiza yang menggantikannya jika sudah selesai makan. Lalu sekitar jam set 7 aku Anra selesai jaga dan digantikan Khiza. Anra saat buka hanya menyempatkan minum jus tomatnya. Dan ia makan mie ayamnya sebentar dan tak habis, alasannya ia kenyang. Lalu kami salat magrib. Tak lama Ibuku datang dan menggantikan Khiza yang berjaga, dan Khiza langsung salat magrib. Dia saat Khiza salat magrib. Aku iseng dan mengajak Anra main. Aku mengusulkan kita turun ke lantai dasar dengan tangga darurat dan mencari kamar jenazah, sebut saja ini permainan uji nyali.
Anra setuju, lalu kita menuju tangga darurat, Dari lantai 6 kami turun ke lantai 5 di sana sangat sepi pintunya tertutup dan hanya memancarkan lampu dari ruangan tersebut. Di sini kami merasa biasa saja. Lalu kami turun ke lantai 4 entah kenapa lampunya mati ini membuat kami sedikit merinding, lalu kami lanjutkan saja ke lantai 3 entah kenapa meskipun lampu di lantai tersebut nyala. Tapi kami merasa sangat sepi dan hampa buru buru kami lanjutkan ke lantai 2 pintu di sana terbuka karena ada petugas rumah sakit yang ingin turun ke lantai dasar juga. Lalu kami mengikutinya sampai lantai dasar. And finally kami sampai dan melihat denah ruangan di setiap lantai yang kami lewati tadi. Aku agak lupa karena itu peristiwa 2 tahun lalu. Tapi kalau tidak salah lantai 4 adalah tempat ruang operasi dan bedah makanya lampunya dimatikan agar tidak mengganggu cahaya operasi. Padahal operasi hanya menggunakan satu lampu deh kayaknya yang aku tahu lalu kami lanjutkan lagi naik ke lantai 6 menggunakan lift. Di sinilah aku dapat inspirasi.
***
Rumah sakit tahun 1890
“Ratih kau tolong ambil sampel darah pasien di kamar mawar.” perintah kepala laboratorium kesehatan.
“Oh ya saya bisa,” jawab Ratih agak cemas.
“Wah kau takut ya Rat?” goda Mas Tejo. “sudah jam satu malam loh,”
“Nggak saya berani kok.” ucap Ratih yang bangun dari duduknya.
“Ya sudah cepat sana.” perintah kepala lab lagi.
Ratih pegawai baru Analis laboratorium di Rumah Sakit Daerah Jawa barat itu memang selalu mendapat tugas yang berat dari atasannya, mulai dari ambil sampel darah bayi baru lahir, sampel darah untuk AGD dari pasien IGD, pewarnaan gram BTA pemeriksaan darah lengkap (yang belum canggih waktu itu dan masih menggunakan metode manual) tahun itu analis laboratorium sangat sedikit di rumah sakit itu analis laboratorium hanya ada 6 orang termasuk Ratih. Rumah sakit di zaman itu hanya dua lantai seperti klinik kalau dibilang tahun sekarang. Lantai utama untuk lab, apotek, poli, lobby, dan kantin dan lantai dua untuk rawat inap pasien. Rumah sakit tempat Ratih bekerja memang paling besar dan sekarang sedang dalam Proyek pembangunan tambahan lantai 4.
Malam itu pasien yang dirawat hanya beberapa dari kapasitas 24 pasien yang tiap kamar ditempati 4 pasien. Mungkin karena sedang dalam pembangunan penduduk disarankan ke rumah sakit lain jika dirawat inap. Malam itu pasien yang dirawat hanya 3 orang saja dalam satu kamar. Dan sakit yang dialami hanya tifus ringan dan anemia ringan. Ratih mengambil sampel darah Ny. Elly yang sedang sakit Anemia ringan. Ny. Elly sedang tertidur, tidak ada keluarga yang menemaninya, mungkin ada urusan karena anak satu-satunya yang hari ini jaga pulang karena kerja. Pasien lainnya juga tertidur dan ada keluarga yang menemani mereka. Karena jadwal pengambilan darah. Ratih terpaksa membangunkannya Ny. Elly yang sedang tidur.
“Maaf Ny. Elly saatnya pengambilan darah.” Ratih membangunkan dengan sopan tapi agak kasar agar Ny. Elly cepat terbangun. Ny. Elly terbangun dan langsung menurut saja. Mungkin biar cepat selesai pikirnya. Ratih mengambil darah Ny. Elly. “Sabar ya Bu mungkin ini pengambilan darah yang terakhir. Semoga jumlah eritrosite Ibu bertambah malam ini dan Ibu bisa pulang besok.” hibur Ratih meramaikan suasana yang lumayan sunyi dengan dengkuran para pasien. Ny. Elly hanya mengangguk. Ratih telah selesai mengambil sampel darah Ny. Elly dan pamit ke Ny. Elly. Ny. Elly melanjutkan tidurnya. Karena zaman dahulu belum ada lift maka hanya ada tangga. Ratih turun menuju lantai dasar.
Saat melangkah turun pada anak tangga pertama tiba-tiba saja Ratih terjatuh. Tas laboratoriumnya ikut terjatuh bersamanya. Ratih tak sadarkan diri. Penjaga rumah sakit melihat Ratih terjatuh dan langsung memanggil petugas lain untuk membawa Ratih ke tempat perawatan. “Tolong ambilkan tandu roda.” jawab penjaga pria setengah baya kepada perawat laki-laki yang baru datang. Ratih dibaringkan di tandu roda. Tas laboratorium dibawa oleh perawat lainnya.
“Biar aku saja yang membawanya ke ruang perawatan.” aju perawat perempuan.yang berdiri di dekat tangga. Yang lain bingung apakah mereka mengenal perawat perempuan itu, melihat tatapan bingung para petugas, perawat perempuan itu langsung memperkenalkan diri.
“Maaf aku perawat baru di sini namaku Tia. Aku tidak ada kerjaan jadi ku mohon aku saja,”
“Oh baiklah.” jawab perawat laki-laki yang telah memindahkan Ratih ke tandu. Tia membawa Ratih ke ruang perawatan.
***
Ratih dibawa ke ruang kosong oleh perawat perempuan itu. Ruangan itu seperti merupakan tempat gawat darurat. Ratih telah mendapatkan penanganan dari perawat itu. Ratih hanya memar di bagian tangan dan kakinya. Ratih sadarkan diri. Dia kaget berada di ruangan itu. Ratih berusaha mengingat apa yang terjadi.
“Oh.. apa yang terjadi?” Ratih berusaha mengingat. “ah tadi aku terjatuh, tapi sepertinya ada yang mendorongku…” Ratih mulai ketakutan.
“Yah.. yang mendorongmu adalah aku, Ratih,” tiba-tiba saja di balik pintu yang lumayan gelap ada suara seseorang.
“Si.. siapa itu?” seseorang itu melangkah menuju Ratih, wajahnya perlahan terlihat dari kegelapan.
“Lama tak jumpa Ratih,” ternyata seorang pria berumur 25 tahunan dengan pakaian tebalnya.
“Edi?!!” Ratih kaget tapi entah kenapa tangan dan kakinya sudah terikat. “apa apaan ini?”
Tia yang ternyata ada di belakang Edi melangkah mendekat ke Ratih. “Maafkan aku kakak,” ujarnya sambil terisak, air matanya perlahan ke luar.
“Tia? kenapa kau ada sini? ada apa ini? tolong jelaskan!!” Teriak Ratih sambil meronta-ronta.
Tia masih menangis di samping Ratih. Edi hanya tersenyum. “Wah wah malang sekali nasibmu Ratih.. ke kota besar ini bukannya mendapatkan kebahagiaan tapi bencana,” Ratih menatapnya sinis. “Jadi ini rencanamu? apa yang kau inginkan dariku? kenapa Tia harus ikut-ikutan?! ternyata kau ini manusia busuk!!”
“Khe. Khe.. Ratih.. Ratih.” ucap Edi sambil tertawa.
“Kau pikir siapa kau? Beraninya mengatakan itu kepada orang yang selama ini membiayaimu dan Adikmu hidup?! baiklah ku beritahu kau tahu kan orangtuaku baru saja kecelakaan dan meninggal? Rumah sakit ini adalah rumah sakit kedua orangtuaku, mereka telah mewariskannya untukku, tapi aku kesal kenapa mereka memberikan rumah sakit kecil ini untukku, sedangkan kedua kakakku mendapatkan tanah yang luas dan sawah. Aku hanya dapat rumah sakit ini? Bayangkan mengelola saja susah, makanya ku buat rumah sakit ini menjadi rumah sakit besar di masa depannya. Tapi masalahnya adalah uang.. uang Ratihh!! makanya aku panggil orang berilmu. Katanya bila aku susupkan wanita muda, perawan, dan cantik di bangunan ini di saat pembangunan. Maka Rumah sakit ini akan berjaya di masa depannya. Lalu karena di rumah ada dua pembantu kecil ku manfaatkan kalian.. yah hitung-hitung untuk membalas jasa kedua orangtuaku.”
“Kenapa aku? bagaimana dengan Tia dia masih 16 tahun dan tidak bisa hidup tanpaku,”
“Tenang saja Tia akan ku kirim jauh ke Sumatera dan ku jamin hidupnya, tapi jika kau mau menjadi bagian dari rumah sakit ini. Lalu jika kau menjadi bagian dari rumah sakit ini kau harus mencari tumbal untukku setiap tahunnya tepatnya di tangga darurat, karena darahmu akan ku kuras habis untuk bahan bangunan ini dan tubuhmu ku tanam di belakang rumah sakit ini.” Ratih terdengar nyeri, lalu memandang Tia yang kini sudah meremas tangan kanannya.
“Kakak.. aku takut.. maafkan aku kakak…” ucap Tia terisak.
“Baiklah demi adikku. Tapi ku mohon jauhkan Adikku dari penderitaanku ini aku tidak mau dia melihatku saat ku dibunuh oleh kau!” ucap Ratih sinis. Tia sepertinya tidak rela tapi ia sudah ditarik oleh Edi. “Tenang saja bukan aku yang akan menguras darahmu. Tapi mereka.” Edi memanggil dua orang yang rupanya sedari tadi mengawasi. Badan mereka kekar memakai pakaian aneh dengan aksesoris menyeramkan satu di antaranya membawa barang-barang seperti perkakas dan satunya lagi mulai memuncratkan sesuatu air ke arah Ratih.
“Baiklah selamat tinggal Ratih.” Edi menarik Tia. “ucapkan salam terakhir pada kakakmu manis,” perintah Edi dengan halus ke Tia.
Tia hanya diam sambil menangis. Edi kesal lalu menariknya ke luar.
“Jaga Adikku!! Jangan sampai kau yang ku jadikan tumbal di suatu saat nanti!!” Teriak Ratih kepada Edi yang berjalan ke luar.
“Baiklah ayo mulai.” kata pria yang telah memuncratkan air ke tubuh Ratih. Ratih pasrah saat Pria yang telah memegang pisau besar tajam mengg*rok lehernya.
***
Tahun 2016.
“Shinta lo jadi ke Jakarta?” tanya Rachel.
“Iya, Nenek gue sakit Chel, kasihan Kakek sudah tiada, anak-anaknya sibuk termasuk bokap gue, sebagai cucunya gue harus ngurusin Nenek gue satu-satunya,” jelas Shinta.
“Loh emang lo cuman punya satu Nenek?” tanya Rachel lagi.
“Nenek gue dari nyokap kan udah meninggal dari gue kecil. Kakek dari nyokap juga sudah meninggal pas nyokap gue masih kecil, makanya saudara-saudara nyokap gue pada ilang-ilangan semenjak Nenek gue meninggal..” jelas Shinta dengan emosi.
“Okelah.. oh ya oleh-oleh dong dari Jakarta.” pinta Rachel.
“Iya gue bawain kompor meleduk ya atau kepala ondel-ondel buat dipajang di kamar lo?”
“Ihh lo mah.. bawain apa kek yang khas dari jakarta kayak dodol, sama apa tuh yang kerat apa kerak yah?”
“Kerak telor? Gila lo gue bawa ke Lampung udah nggak enak kali. Lo kalau mau nyobain langsung ke sana,”
“Iya kapan-kapan kalau pacar gue sibuk banget,” cemberut Rachel. “oh ya lo udah bilang sama Farhan kalau lo mau ke Jakarta?” Tanya Rachel.
“Iya udah, dia mau nemenin gue ke Jakarta katanya dia juga baru pertama kali ke Jakarta, sekalian liburan di sana katanya,”
“Oke deh see you 2 minggu lagi,” ucap Rachel.
“Oke gue titip kamar gue ya kalau lo tiba-tiba kangen sama kosan ini pas liburan and molor di sini” titip Shinta.
“Oke deh bye, bye.” salam shinta ke Rachel.
***
Di bandara
“Halo Pah, iya aku udah sampai bandara, setengah jam lagi aku naiknya, iya iya, Farhan udah ada kok dia lagi ke toilet, iya waalaikumsalam,” Shinta menutup teleponnya.
Tiba-tiba saja laki-laki tinggi sebaya dengannya memakai celana levis dan jaket denim menghampirinya.
“Papa kamu ya tadi?” tanyanya.
“Iyaa.. kamu pikir siapa sih?”
“Yee langsung baper, orang nanya doang,” godanya.
“Han, kata kamu punya kenalan di Jakarta? siapa?”
“Nanti aja ceritanya aku juga kurang tahu. Aku kan belum pernah ke Jakarta, aku juga nggak kenal-kenal banget sama orangnya,” jawab Farhan.
“Eh pesawatnya udah take off yuk.” kata Shinta dan Farhan mengiyakan.
Pesawat pun terbang ke Jakarta.

0 komentar:
Post a Comment