SEMALAM DI PESAWAT KEMATIAN
Malam itu aku berada di bandara di suatu kota yang tak ingin ku sebutkan namanya. Aku memutuskan untuk pergi dari rumah karena aku cape bertengkar dengan saudaraku. Pertengkaran kami terjadi karena setelah kematian kedua orangtuaku harta warisan pun menjadi milikku. Ya, aku memang anak pertama tapi aku cape juga jika harus bertengkar dengan adikku. Aku memutuskan untuk ke luar negeri dan tinggal bersama sahabatku Lisa.
Kami berdua sudah lama kenal jadi kami tak sungkan untuk saling bercerita apalagi menyangkut keluarga. Tiba-tiba suara panggilan untuk menaiki pesawat telah berbunyi aku tak menunggu lama. Segera ku ambil tasku yang berisi dokumen-dokumen penting dan sebuah laptop. Memang aku hanya membawa ini sebagai jaminan untuk melamar pekerjaan. Koperku telah ku masukkan sebelumnya ke bagasi jadi tak perlu khawatir lagi.
Setelah mengantre cukup lama akhirnya aku menaiki pesawat. Aku duduk di nomor 16G nomor itu tak begitu ku pedulikan yang ku pedulikan hanyalah bagaimana caranya supaya cepat sampai ke negara tujuanku tersebut. Tak berapa lama ada seorang wanita muda duduk di sampingku. Dilihat dari pakaian serta wajahnya sepertinya di berumur dua puluhan. Di mukanya terpasang wajah ketakutan. Entahlah. Mungkin takut akan jatuh pesawat. Tak berselang lama kemudian seorang ibu hamil duduk di sampingku kali ini ku lihat wajahnya lebih tenang tapi terpasang wajah ragu-ragu untuk menaiki pesawat ini. Hal itu pun tak terlalu ku pedulikan.
Setelah berbicara ini itu pesawat itu pun terbang di udara perjalanan yang ku tempuh cukup lama yaitu 9 jam 28 menit 56 detik. Maka dari itu setelah sampai aku akan langsung beristirahat. Setelah 2 jam perjalanan aku memutuskan untuk ke kamar mandi sejenak sambil melihat wajah penumpang lain. Aku pun berdiri dan pada saat ingin ke kamar mandi ku lihat wajah ibu hamil tersebut seperti melarangku. Yap ia melarangku walaupun bukan dengan kata-kata tapi dengan pandangan wajahnya. Aku pun memutuskan untuk tidak jadi ke sana perasaan jengkel pun menyerangku. Tiba-tiba di tengah perjalanan pesawat yang ku tumpangi turun mendadak spontan ku langsung kaget.
Tiba-tiba aku merasa seperti ada bau darah dekatku dan pada saat ku tengok aku pun tak bisa berkata apa-apa seperti sebuah patung bagaimana tidak 2 wanita yang tadi di sampingku telah meninggal karena keguguran awalnya ku tak percaya tapi setelah ku lihat lebih jelas yah ini keguguran tidak salah lagi. Tak tunggu berapa lama ku panggil seorang pramugari untuk mengamankan hal itu tapi tak ada seorang pramugari pun yang mendengarku wajar saja para pramugari tengah mendiamkan anak-anak yang menangis tersebut tiba-tiba di depanku ada seorang laki-laki yang sekitar berumur setengah abad sedang memanggil pramugari.
Aneh memang karena pramugari tersebut lalu mendatanginya. Aku tak tahu apa yang mereka katakan yang jelas aku mendengar suara, ya sebuah suara aku jelas mendengarnya aku melihat penumpang lain mungkin saja ada yang mendengar tapi itu serasa mustahil karena mereka telah sibuk untuk menenangkan diri masing-masing aku mencoba meyakinkan suara tersebut suara itu agak aneh samar-samar ku dengar. Suara itu hanya mengeluarkan sebuah kalimat yaitu, “DEATH” yang artinya kematian. Aku begitu tak mempedulikan hal itu tiba-tiba pramugari yang tadi tengah berbicara dengan bapak itu menanyakanku tentang kedua wanita di sampingku ini aku pun menceritakan semuanya ada raut muka kecemasan di dalamnya namun ia berusaha tenang.
Ia pun menyuruhku untuk membantunya mengamankan kedua wanita tersebut wanita itu dimasukkan ke dalam kedua yang koper yang tak ku tahu milik siapa yang jelas bukan koperku. Aku pun memutuskan untuk membantu pramugari tersebut aku heran dengan semua penumpang mengapa mereka masih ketakutan? Aku turun ke ruang bagasi kemudian pramugari itu menyuruhku untuk meletakkan kedua mayat itu di samping sebuah koper aku pun meletakkannya setelah itu aku memutuskan untuk ke atas tepatnya kembali duduk di kursiku.
Aku pun mencari-cari di mana pramugari tadi yang membantuku mengambil mayat itu. Tapi aku tak kunjung menemukannya mungkin ia sedang menenangkan penumpang lainnya. Pada saat aku mendekati gorden yang menjadi batas antara ruang para awak pesawat dan penumpang aku kaget karena setelah ku mengintip aku melihat dengan jelas para awak pesawat tersebut tengah memakan jantung. Hati. Mata dan lain-lain dengan rakus seperti orang yang kelaparan bahkan tak bisa ku jelaskan. Dan pramugari yang tadi menolongku ia pun ikut memakannya bahkan mereka memotong telinga para penumpang dan sesekali memainkannya.
Aku mundur beberapa langkah tapi aku lupa bahwa pintu bagasi belum ku tutup aku terjatuh dari tangga ke bagian bagasi. Dan pada saat itu aku mendengar jelas bahwa pramugari itu berkata, “Aku lupa. Masih ada seseorang di sana. Cepat kita habiskan sebelum ia lari.” Ya hanya kata-kata itu yang ku dengar sebelum mereka mencungkil mataku dengan garpu. Dan merobek dadaku dengan pisau kecil sembari menyanyikan lagu.. Yah sebuah lagu.


0 komentar:
Post a Comment