PEMBANTAIAN 3 (LAWANG SEWU)

Posted By Cerpen universal on Wednesday, October 14, 2020 | October 14, 2020

PEMBANTAIN 3 (LAWANG SEWU)

Lawang Sewu. Siapa yang tak pernah mendengar gedung bersejarah ini? Belum ke semarang namanya kalo belum ngunjungin gedung ini! Lawang sewu disebut dengan pintu 1000 meskipun pintunya cuma ada 760. Lawang sewu dibangun pada tahun 1904.

Bermula dari gue yang antusias banget pengen touring ke semarang! “Ayo dong guys, Gue udah kebelet nih pengen banget liat kaya gimana sih gedung itu. Masa kita weekend kesitu-situ aja” Kata gue sambil terus ngunyah permen karet yang padahal udah gak manis lagi. “Ih gak ah, Lawang sewu kan serem banget. Gue juga lagi datang bulan. Gila ya lo mer!” Jawab Risa yang emang paling penakut di antara kita. “Ya udahlah, Lo gak usah baper gitu sa. Kita ajak anak cowok” Kata riska menimpali. “Ih gak ah ntar mereka otaknya pada mes*m lagi” Timpal neta yang sedari tadi cuma diem aja gak ngomong. “Arggh” Gue yang dari tadi dengerin pergulatan mereka ngerasa suntuk banget. “Ya udahlah, Kalo gak ada yang mau. Biar gue sendiri aja” Kata gue mengakhiri pergulatan di antara mereka. “Eh jangan dong. Okelah, Kita semua pada ikut. Gimana sama lo win?” Tanya neta. “Gue gak ikut ya guys, Beneran deh. Gue gak bisa!” Jawab wina dengan sedikit menundukkan kepalanya. Biasanya wina nurut aja, Tapi kali ini dia nolak dengan alasan ini dan itu. “Oke gak apa-apa win, Next time lo harus ikut ya” Kata neta sambil berlalu meninggalkan kami.

***

Gue mery, Gue cewek paling pemberani di antara mereka. Maklumlah, Karena gue keturunan (Hulk) jadi gue harus keliatan kuat di depan mereka. Wajah gue ini cantik banget, Mirip iklan di tv! Ya perawakan gue kaya model gitu deh. Lanjut cerita, Rencananya kita ke semarang buat liburan akhir semester, dengan menggunakan jasa Kereta Api, Terus naik angkutan umum kita sampai ke Simpang Lima kota semarang. Tempat dimana gedung itu berdiri!

***

“Anjir, gede bener ni gedung. kaya yang di film-film aja. Jadi ngeri gue!” Kata gue sambil garuk-garuk kepala padahal gak gatel karena gue gak ketombean. “Eh liat, Pintu jendelanya kebuka semua. Ih bagus deh, Kalo ada apa-apa, Gue tinggal lompat” Kata risa yang kaya orang kelabakan sambil nyari-nyari gadgetnya. “Ah lo, Pikiran lo cetek banget sih. Disini tuh gak ada apa-apa!” Kata gue sambil ngedorong tubuh risa. Risa jatuh tersungkur! Gue sih gak niat begitu, Tapi emang dianya aja yang lemot. “Iiih awas ya lo, Kalo gue kenapa-napa! Lo orang pertama yang gue cari” Kata-kata risa seakan mengancam jiwa gue.

***

Seperti ada mata yang mengawasi, Langkahnya cepat. Nafasnya memburu, Desahannya seperti seseorang haus akan darah! Semua perasaan itu gue rasain disini. Seperti seseorang yang sedang menangis, Meratapi kesedihannya. Dalam ruang gelap. Ia ingin terbebas dari apa yang mengikat.

***

Dari depan, Terlihat pohon mangga besar disana. Menimbulkan bau mistis yang menusuk. “Ih gila, Serem bener dah ah” Gue ngoceh sendiri. Di bawah pohon itu, Risa berpose bersama riska dengan gaya anak alay masa kini. Tapi anehnya, Gue ngeliat bayangan hitam menutupi tubuh mereka. Sosok itu tinggi besar, “Argh, Nggak. Gue pasti ngayal nih” Sambil ngucek mata padahal gak kelilipan. Gue sih diam aja, Takut mereka pada ngacir duluan sebelum masuk. “Eh kok fotonya item gini sih, Jelek kaya muka lo net” Kata riska sambil terus mengutak-atik gadget risa yang dipegangnya. “Ini sih namanya foto gagal. Yang difotonya pada jelek sih” Kata neta sambil mengambil sebuah ponsel dari dalam tasnya. “Cekrekkk” Neta memfoto gedung itu dan mengauloadnya ke jejaring social facebook lengkap dengan status “Lagi di lawang sewu nih, Disini asik sampe gak mau pulang ah! Pengen disini selamanya aja gitu” Statusnya dikomentari para haters yang bego. “Eh, Kalo lo gak mau balik! Ya lo mati aja disitu” Neta kesal dan menghapus uploadannya. Di sepanjang jalan menuju pintu utama, neta ngoceh sendiri “Kalo gue mati, Ntar lo yang bakal gue cari”. “Sssssut udahlah net, Ikhlasin aja. Lagian lo juga bikin statusnya salah”. Setelah perdebatan itu berhenti. Kami pun mulai memasuki pintu utama!

***

Dengan kocek 35.000 rupiah, Kami dapat membeli tiket masuk lengkap dengan pemandunya. Katanya sih wajib, Buat jaga-jaga kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Guide mengarahkan kami menuju bangunan utama! Lawang sewu yang memiliki umur hampir seabad memiliki kisah tersendiri dibaliknya.

***

Pada bangunan utama, Kami disambut oleh para kelelawar yang membuat suasana semakin mistis. “Guide itu, Kemana dia net?” Tanya risa semakin panik. Melihat riska muntah darah. Gue sendiri gatau kalau ceritanya bakal kaya gini. Kami kira, Guide itu masih mengawal kami dari belakang. Suasana semakin mencekam, Tak terasa siang itu berubah menjadi malam! Kami tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kami mencari pintu keluar, Tapi gedung itu cukup luas. Banyak pintu disana! Gue sendiri histeris banget yang kami tahu, Kami berada di ruangan yang gelap. Bulu kuduk gue merinding, Hawa panas mulai kami rasakan dan..

***

Semua lampu mulai menyala satu-persatu, Tapi, Risa hilang. “Kemana risa net? Dia gak ada” Kata gue sambil celingukan gak jelas. Semua jendela terbuka, Tapi gue masih ngerasain panas. Tempat itu seperti neraka, “Arrrrrr gue gerah banget mer” Kata riska sambil membuka jaketnya. “Gimana kita bilang ke orangtuanya kalo risa hilang, Abis kita mer” Riska semakin panik, Tubuhnya terguncang! “Je Bent Ons Te Storen” Katanya sambil menunjuk kami. “Kijk Naar Hen” Seketika itu, Gue ngeliat banyak makhluk disana. Wajahnya nyeremin semua. Jantung gue kaya mau copot. Anak kecil berambut botak itu terus narik tangan gue. Riska belum juga sadar! Riska berteriak “Gaan, Pergiiiii”. Saat itu hening, Semua makhluk mengerikan itu menghilang. Riska berlari, Gue dan neta mengejarnya. Sampai pada sebuah tangga, Riska berlari menaikki anak tangga itu, Gue dan neta gak mau kehilangan riska setelah risa menghilang. Saat beberapa langkah, Tangga itu berubah menjadi ular yang besar. “Aaaaaaa” Jeritan neta menggema disana! Saat gue mengadah keatas, Sebuah kepala menghantam wajah gue keras. “Aaaaa” Itu kepala neta, Gue liat. Ular itu memakan tubuhnya. Gue jatuh, Yang gue ingat hanya bayangan gelap. Sosok gelap yang menghalangi tubuh itu, Wanita bergaun putih. Saat gue sadar, Gue mulai naik ke lantai itu, Dengan kepala yang masih terasa sakit, Dengan langkah yang gontai, Gue telusuri setiap anak tangga itu menuju lantai 2. Gue lihat, Risa melompat ke arah jendela itu! Gue lari dengan cepat, menuju ke arahnya. Tapi, Tubuh risa tak ada disana maupun di bawah gedung itu. “Aaah sh*t, Itu cuma bayangan” Gue ngelihat ada yang aneh disini. Dilihat dari atas ke bawah, Gue berada di posisi lantai 3, Padahal jelas gue baru menaiki satu tangga dari bangunan utama. “Ada yang gak beres disini” Gumam gue dalam hati. Gue liat di pojok sana ada ruang kecil yang menarik perhatian gue buat lihat ada apa di baliknya. Karena gue ngerasa kaya ditarik-tarik sama magnet yang kuat banget. Perlahan gue laju roda kaki gue ini menuju kesana. “A” Seperti keselek biji nangka, Gue lihat tubuh riska tergantung di atas atap dengan tali yang mengikat lehernya. Tubuhnya penuh luka, Sosok itu berulang kali melemparkan pisau ke perutnya, Seperti bermain bidikan. Dan sasarannya selalu tepat menancap di perutnya membentuk sebuah lingkaran. Darah berceceran disana. “Bego, Andai aja gue gak ajak mereka kesini. Ini semua salah gue! Gue harusnya bisa jagain mereka” Gue ngomong sendiri kaya orang gila. Sebuah telapak tangan menempel di pundak gue dan lengan itu menyekap mulut gue! “Sssut, Jangan berisik. Lo harus kuat mer” Katanya sambil membuka jubah yang dikenakannya. “Wina, Sejak kapan lo ada disini. temen-temen kita win, Mereka se..” “Gue udah tau, Gue ngikutin kalian dari belakang. Gue tau semuanya. Dan biar keberadaan gue gak diketahui si guide itu, Gue sengaja pura-pura gak ikut bareng kalian. Ini harus diakhiri mer. Jangan ada korban lagi, Si guide itu gila. Demi ngebangkitin lagi kekasihnya, Dia rela ngebunuh banyak orang dan bersekutu dengan iblis” Kata wina. Gue sendiri masih bengong. “Dan ular itu, Adalah jelmaan iblis itu” Lanjutnya. “Apa?” Teriakan gue terdengar oleh si guide jelek itu. Sontak gue lari. “Pegang ini mer, Jangan sampe lepas!” Kata wina sambil bersembunyi dengan jubahnya.

Entah jubah apa yang dipakainya. “Kaya film herry potter aja” Batin gue masih aja pengen ngelucu saat keadaan kaya gini. Gue terus lari sambil membawa benda itu. “Hah, Bawang putih. Buat apaan wina ngasih gue ini? dia kira gue mau masak apa” Celoteh gue sambil terus menembus dinding itu “Kaya tuyul aja gue bisa nembus dinding, Eh maksud gue nembus.. Arrrgh entahlah” Perasaan gue saat itu gak karuan. Gue terus lari, sampai pada lorong terakhir. Gue nemuin pintu yang pas gue masuk “Wah, Bagus banget. Ruang itu sangat terawat, Baunya harum! Banyak bunga yang menghiasi ruangan itu “Eh, Itu siapa?” Perempuan itu berbaring di atas dipan kayu, Dikelilingi lilin yang membuat suasananya romantis kaya di film ftv. Semua lilin mati, Gue sih gak takut! Gue diam aja sambil nyeletuk sendiri. “Mati ya mati deh gue, Semua orang juga pasti bakal mati”.

***

Gue liat sekelebat bayangan putih “Apaan tuh?” Gue bergidik ngeri. Seketika, semua lilin menyala kembali. Perempuan bergaun putih itu tak ada disana, Gue celingak-celingukan nyariin tuh perempuan! “Gila, Dia kaya setan aja tiba-tiba ngilang” “Eheeeee dia beneran setan, Ngapain dia di atas situ?” Gue makin gak karuan. Gue samperin tuh perempuan “Waduh, Kok mukanya mirip risa ya?” Dan ternyata itu memang risa. Risa mendekati gue, Gue akuin wajanya emang cantik. Pas gue mau ngerangkul dia “Aaaaaaa setan” Wajah risa berubah menjadi sangat mengerikan, Gaunnya dipenuhi banyak darah. Wajahnya berubah menjadi sangat hancur. Risa hendak menerkam, Tapi tangannya hancur. Tubuh risa terbakar, Bawang putih itu yang membakar tubuhnya. “Argh ini bukan karena bawang putih, Tapi pertolongan dari Allah swt” Gue lihat perempuan itu masih terbaring disana! “Oh tuhan, Apa yang sebenarnya terjadi” Gue coba beraniin diri buat lihat muka itu perempuan “Risa” Gue bangunin dia berharap kalau itu bukan setan, Kalau itu bener-bener risa. Risa bangun dan “Mery, Awas” Benda itu menghantam kepala gue, Cuma sakit yang gue rasain. Gue roboh, Jatuh ke lantai. Seseorang datang dan “Berhenti, Sudah cukup kek.. Aku tak ingin kakek terus bersekutu dengan mereka! Ikhlaskan saja perempuan itu. Hidup manusia itu tak akan pernah abadi hanya Allah swt zat yang maha kekal”. “Diam kau! Karena nenekmu, Aku tak bisa bersama dengannya. Aku membenci keturunannya! Termasuk dirimu dan aku menginginkan dia” Si guide menunjuk risa, Gue semakin gak ngerti. “Aku ingin bersama denganmu clarisa, Selamanya. Maafkan perempuan itu, Ayo ikutlah denganku!” Ajak si guide sambil menarik tangan risa. “Cukup jacob. Aku sudah tenang disana! Biarkan aku pergi. Aku sudah tak sanggup lagi. Aku ingin berada di tempat yang indah” Kata risa yang membuatku semakin tak mengerti. “Jangan, jangan clarisa. Aku mencintaimu” Kata si guide itu. Kemudian tubuh risa terguncang, Asap putih keluar dari tubuhnya. Seperti roh yang keluar dari raganya. Ya, Clarisa adalah neneknya risa. Lukisan itu yang menjawab keheranan gue yang hanyut dalam cerita mereka.

***

“Clarisa, Aku mencintaimu. Aku akan menjaga anak kita” Kata jacob sambil menggendong anaknya. “Alwina datang dengan membawa sebilah pisau, Hendak menikam tubuh clarisa” “Apa yang akan kau lakukan wina, Aku mohon jangan membunuhnya! Aku mencintainya, Aku akan menikahinya” Kata jacob sambil menghalangi wina. Alwina adalah istri jacob, Tapi jacob berselingkuh dan melakukan hubungan gelap dengan risa. Semua itu membuat wina muak padanya. “Aku akan membunuh kalian, Di gedung mewah yang kau bangun ini untuknya. Aku akan membuat cerita yang mengerikan disini. Aku mencintaimu jacob, Mengapa kau tega melakukan ini padaku? Lalu bagaimana dengan anak kita?” “cleeeebbbb” pisau menembus jantungnya, Jantung risa yang kini tak lagi berdetak. Wajah risa dihantam oleh serpihan kaca. Kaca itu merusak wajahnya, Wajah risa yang cantik kini berubah menjadi sangat mengerikan. Gaun indahnya ternoda oleh bercak darah. Jacob sangat terpukul, Ia membunuh wina. Mengubur wina, Tepat di bawah pohon mangga itu! Pohon mangga yang sosoknya pernah gue liat. Jacob, bersekutu dengan iblis. Ia mengawetkan tubuh risa agar kekal abadi. Sampai pada waktunya, Keturunan risalah yang akan membangkitkan jiwanya. Risa akan bangkit menjadi clarisa.

***

“Semua ini belum terlambat, Ritual ini harus tetap kulakukan” Kata jacob. Jacob akan membunuh wina tapi saat jacob akan menerkam.

“Lingsir wengi sliramu tumeking sirno.. ojo tangi nggonmu guling.. awas jo ngetoro.. aku lagi bang wingo wingo.. jin setan kang tak utusi.. dadyo sebarang.. wojo lelayu sebet” Jacob menutup telinganya, Tubuhnya terbakar. Lagu yang dinyanyikan wina membuatnya hancur, Jin dan setan ikut bersamanya. Jacob kini menghilang bersamaan dengan api yang membawanya. Lagu ini konon diciptakan oleh sunan kalijaga, Dipakainya setelah shalat malam berfungsi untuk menolak bala atau gangguan dari makhluk gaib yang akan mengganggu. Pakem durma yang digunakannya menjadikan lagu ini menggambarkan sesuatu yang mengerikan. Lagu ini dinyanyikan wina untuk meminta pertolongan dan perlindungan yang maha kuasa. Gue, wina dan risa saling merangkul. “Gue pengen nangis” Kata gue sambil nengok kanan-kiri takut setan itu muncul lagi. “Jangan nangis dong, Gue sayang kalian” Kami pun keluar dari gedung itu! Clarisa melambaikan tangannya. Tersenyum dan menghilang dibalik panasnya terik mentari..
Blog, Updated at: October 14, 2020

0 komentar:

Post a Comment