LOSARI DI PANTAI LOSARI
Terik sang surya pun sudah begitu menyengat yang bagaikan membakar kulit. Hari ini memang cuaca begitu panas, hingga siang ini pun aku belum makan hanya tadi pagi aku menganjal perutku dengan sepotong roti. Bagaimana aku bisa makan pasienku hari ini cukup banyak tidak seperti kemarin-kemarinnya, mungkin karena ini sedang musim pancaroba. “Ya berikutnya.” Teriakku dari ruang khusus untukku di sebuah puskesmas di sebuah desa di Makassar. Tiba-tiba datanglah pasien seorang anak kecil dan Ibunya.
“Silahkan duduk, anaknya ya Bu yang sakit?” mereka pun menuruti apa perkataanku.
“Iya, sudah 3 hari panasnya nggak turun-turun. Padahal sudah saya kompres dan memakai obat-obatan tradisional tetapi belum sembuh-sembuh juga.”
“Ya sudah kalau begitu kita tem aja dulu berapa suhu badannya dan nanti saya berikan obat.”
Aku pun meletakkan termometer di ketiaknya sambil menunggu untuk itu, aku pun bertanya lagi.
“Siapa nama adik?” dengan tersenyum aku bertanya kepada adik itu, dia pun tidak menjawab.
“Sari dok,” kata Ibunya.
“Sama berarti, nama saya juga Sari, lengkapnya Losari. Berapa umurnya Bu?”
“5 tahun,” Aku pun membuat resep obat.
“Ini Bu diminum 3 kali sehari semua, setengah saja ya Bu untuk yang tablet.”
“Iya dok, terima kasih.” Aku pun kemudian mengambil termometer dari ketiak Sari.
“39 derajat, sangat tinggi panasnya Bu.”
“Iya makanya dok, saya khawatir.”
“Ya sudah nanti obatnya itu diminum sesudah makan dan semoga lekas sembuh ya.” aku pun tersenyum kecil.
“Iya dok terima kasih ya.” Entah mengapa aku melihat anak kecil itu ada yang berbeda dari anak biasanya. Hem, sudahlah mungkin itu hanya perasaanku saja.
Bintang-bintang pun sudah menampakkan gemerlap cahayanya di langit malam yang gelap ini. Malam ini aku harus menyiapkan semua keperluanku untuk pulang ke Makassar karena ayah dan ibuku menyuruhku pulang sebentar. Setelah semuanya ku rasa sudah siap tidak ada yang tertinggal apa pun, aku pun merebahkan badan di atas tempat tidurku dan menarik selimut. Entah mengapa sudah berulang aku tidak bisa terlelap ada yang menganjal di hati dan pikiranku, entah firasat apa ini? Semoga semuanya baik-baik saja, begitulah gumamku dalam hati. Perlahan-lahan aku pun mulai memasuki dunia mimpi.
Dengan menggunakan kereta keesokan paginya aku pun berangkat ke Makassar. 5 jam telah berlalu aku pun sudah berkumpul dengan keluarga di sana, rasa rindu ini sudah terbayarkan bagaimana rasanya sudah 3 tahun aku tidak mengunjungi mereka hanya pada saat hari raya saja. Aku pun juga rindu akan panorama pantai Losari yang dulu pada masa-masa saat aku masih SMA aku dan teman-temanku sering pergi ke sana hanya sekedar nongkrong-nongkrong, bercanda tawa, ya biasa anak muda. Berjalan kaki dari rumahku ke sana tidak terlalu jauh, oleh karena itu aku pun memilih untuk berjalan kaki saja untuk pergi ke pantai Losari
Gemuruh ombak kecil pun sudah terdengar di telinga, angin sepoi-sepoi yang menyibak rambutku kini mulai ku rasa. Pantai Losari memang begitu indah, ku bermain-main di sana dengan sepuas hati, berfoto selvi, makan ataupun yang lainnya ku habiskan waktu ku di sana. Aku pun merasa lelah, ku duduk di bawah sebuah pohon dan tiba-tiba di hadapanku ada seorang anak kecil berbaju putih dan mukanya berdarah bahkan tangannya juga. Bajunya yang putih itu berlumuran darah rambutnya yang panjang terurai pun berantakan aku pun sangat terkejut.
“Terima kasih dokter, sudah mengobati aku.” dia pun tersenyum.
Ya, dia adalah Sari anak kecil yang kemarin berobat.
“Iya sama-sama.” aku pun tersenyum dan aku bertanya, “Kenapa tubuhmu berlumuran darah seperti ini.”
“Setelah aku pulang dari puskesmas kemarin, aku dan Ibuku ditabrak mobil yang besar, dan motor kami pun rusak. Ibuku sekarang sedang di rumah sakit dia belum bangun dok.” Aku pun menunduk dan mataku pun mulai berkaca-kaca dan aku terkejut kalau begitu jangan-jangan. Ku angkat kepalaku dan tepp! Anak kecil itu tadi sudah tidak ada ku lihat sekelilingku, memang tidak ada. Fatamorganaku saja atau aku mempunyai kemampuan tersembunyi atau aku hanya mimpi? Tidak ini bukan mimpi ini benar-benar nyata.

0 komentar:
Post a Comment