JANGAN INTIP CELAH ITU !

Posted By Cerpen universal on Saturday, October 10, 2020 | October 10, 2020

JANGAN INTIP CELAP ITU!

Hari ini di sekolah banyak sekali gosip-gosip yang bertebaran di sekolah tentang celah-celah. Di mana-mana orang membicarakan itu. Aku tidak tahu ada apa dengan celah itu, membingungkan sekali hampir semua orang bercerita itu. Beberapanya sambil bilang, “Jangan sampai kau mengintipnya! Jangan pernah.” Aku terus berbicara dalam hati, mendengus kesal. Pembicaraan mereka hanya itu. Aku pun berjalan cepat menuju kelasku yang berada di paling ujung. Sesampainya di kelas aku bergabung dengan teman-teman dekatku.

“Celah itu katanya bahaya,” kata teman perempuan yang bernama Nesa.

Celah, celah, celah. Aku yang mendengar itu langsung menaruh tas di bangku dengan keras. Hingga ketiga temanku menatapku horor.

“Kenapa Ra? Dateng-dateng begini,” kata Leo.

“Kenapa? Semua orang ngomongin celah!! Itu kenapa? Gak ada gosip lain apa? gak guna tahu celah-celah apa,” cetusku dengan kesal.

“Bener kata Rara, buat apa sih kita ngomongin celah. Kan gak berguna,” sambung Adit dengan mengangguk-ngangguk.

“Kalian kenapa? Ini demi keselamatan kita. Kita harus saling ngasih tahu mana yang harus dihindarin.” Nesa menjawab dengan mata yang merah.

Tidak seperti biasanya mereka seperti ini. Apakah celah itu sesuatu yang buruk?
“Celah itu ada di belakang sekolah kita. Teman sekolah kita udah banyak yang jadi korban gara-gara ngintip celah itu. Alasannya gak boleh ada yang tahu. Katanya, yang menyebarkan alasannya bakal bernasib sama. Aku gak ngerti sama sekali apa maksudnya. Yang jelas kita harus ngehindarin.” Lanjut Nesa panjang.

“Ta..” baru saja Adit ingin menjawab. Guru matematika sudah datang. Dan sekelas melanjutkan pelajaran dengan kurang tenang.

Sesampai di rumah, Rara masih berpikir tentang itu. Ia berencana membuktikan tentang celah itu. Rara pun mulai menghubungi Adit, sahabatnya yang sangat pemberani. Adit setuju dan Rara mulai pergi ke sekolah.

“Perasaan aku gak enak,” kata Rara bergemetar.

“Kamu kan ngajak aku, gak boleh takut dong,” Adit menegaskan.

Rara hanya meneguk ludah. Dan berjalan ke belakang sekolah yang sangat sepi di sore ini. Rara dan Adit terus berjalan hingga menemui pintu dengan celah sebesar berdiameter kira-kira seperti kelingking. “Kamu aja yang ngintip Dit aku takut,” Rara mendorong dorong Adit.

“Gak bisa. Kamu yang ngajak aku harusnya kamu yang ngintip.” Adit menolak.

“Kamu kan cowok!!” Bentak Rara.

Krsk.. Krskk..

Terdengar bunyi gaduh di dalam ruangan itu. Keduanya bergemetar. Adit pun memberanikan diri mengintip ruangan itu. Perlahan matanya memfokuskan isinya ke dalam.

“Gak ada apa-apa cuma merah,” Adit langsung menengok ke arahku dengan muka merah padam.

“Lari Rara lari!!” teriak Adit. Belum sempat Adit berlari. Dia sudah diambil oleh seorang pria lalu menggorok lehernya di depan Rara sendiri. Pria itu menengok ke Rara. Dan berjalan menujunya. Mendekat. Terus mendekat.

“Jangan… menjauhlah!!” terak Rara.

“Bukankah sudah ada peringatan jangan intip celah itu?”

Rara sudah tak tahan. Matanya ketakutan, Rara ingin pingsan. Tapi sebelumnya ia menyadari. Pria itu adalah kepala sekolahnya sendiri. Rara pun pingsan. Beberapa hari kemudian keduanya ditemukan meninggal dunia di tempat dengan kondisi yang mengenaskan.

“Jangan intip celah itu!”
Blog, Updated at: October 10, 2020

0 komentar:

Post a Comment