HARAPAN YANG HILANG
Kita dipertemukan dalam sebuah lingkungan. Lingkungan yang mengharuskan kita untuk bertemu setiap hari. Ada kalimat “Cinta datang karena terlalu sering bersama” dan mungkin itulah yang aku rasakan padamu. Aku nyaman bersamamu, Aku ingin selalu bersamamu, Aku selalu rindu akan tentangmu. Tak ada yang membosankan saat kita bersama. Saling bertegur sapa. Saling membuat tertawa. Saling menguatkan. Dan aku bahagia.
Tapi semua itu hanyalah masa lalu. Kau berubah. Kau menghindar. Kau mencoba untuk menjauhiku. Dan kau melukaiku. Kau menghancurkan hatiku. Awalnya, Aku tak tahu, Aku tak mengerti mengapa kau begitu padaku. Tapi waktu, waktu yang telah menjelaskannya padaku disaat kau tidak mampu untuk menjelaskan semuanya padaku. Kau penipu. Kau pembohong. Kau ingkar janji. Kau menyenangkanku, membuatku terbang, lalu kau menjatuhkanku disaat aku tak ingin jatuh. Kau pergi dengannya. Bersamannya yang kau bilang itu bukan wanita seleramu. Nyatanya? Kau menjilat ludahmu sendiri. Kau tahu? Aku tidak sedikitpun membencimu setelah apa yang kau lakukan padaku.
Waktu terus berjalan, hingga dimana kau kembali bersikap manis padaku dan membuatku berharap kembali. Lalu terbang untuk yang ke dua kali. Namun tak lama kemudian, kau menghancurkanku untuk yang ke dua kali orang hal yang sama dan wanita yang sama. Namun tetap saja Aku masih mencintaimu dan berharap agar kau membuka matamu, bahwa ada aku yang selalu bisa menerima walau hatinya disakiti kesekian kalinya.
Dan kembali terulang. Ketika lukaku sudah sembuh kembali. Harapanku telah tumbuh kembali. Dan aku telah baik-baik saja namun tak bisa melupakan semuanya. Kau kembali melukaiku, bahkan menghancurkanku. Menghilangkan sedikit rasaku dan membuat terbang tak terarah harapanku. Kau katakan kepada temanku, kepada akun sosial mediamu, bahwa kau akan melepas masa lajangmu. Namun bukan dengan wanita yang telah membuatku terluka oleh hal yang sama. Tapi dengan wanita lain yang memang sama sepertimu. Dia setara denganmu dan aku tidak ada apa-apanya dengan wanita pilihanmu.
Jika memang sedari dulu kau katakan semuanya padaku, mungkin aku tidak akan semenderita ini. Tapi memang tak ada gunanya aku terlarut dalam kesedihan ini. Aku punya hidup sendiri. Aku harus bahagia, karena hidup bukan tentang dia saja. Harapanku untuk bersama denganmu selamanya telah hilang, terbang bersama dengan dedaunan yang jatuh dari rantingnya. Aku masih bisa hidup tanpamu, karena kamu bukanlah oksigen.


0 komentar:
Post a Comment