TRAVEL DEATH
Seseorang berlari dengan kencang. Siapa dia? Raisya? Milan? Yup! Milan. Lelaki yang penuh percaya diri, tangguh, dan paling gagah, di antara teman-teman kampusnya.
“Wooii, cepat lari!” pinta milan dengan ngos-ngosan. “kenapa lo lan? Dikejar setan?” sindir ale. Ale yang sedang berjalan sendirian sambil membaca buku, ia merasakan sesuatu di belakang tubuhnya. Siapa? Bu jacklyn?.
“Aaahhhhhhh..” teriak ale ketakutan. Namun, ale kebingungan, mengapa ia lari selambat itu dan perasaannya ia masih tetap disitu? Aneh!.
“Mau kemana kamu? Bukan masuk kelas materi yah!” ujar bu jacklyn. “aduh, aampun bu, ampun” ucap penuh ampun dari ale untuk bu jacklyn yang kini menarik kerah bajunya. Bu jacklyn pun melepaskan kerah baju ale. Ale pun terpental entah kemana?. Pembaca tahu? Yap! Ke atas pohon
—
“Sayang, pagi!” sapa milan kepada raisya. Namun, raisya tak meresponnya. “kok kamu gak jawab? Raisy? Raisyaa?” tambah milan sambil menggoyang-goyang pundak raisya. Oh, kini milan mengerti, mengapa raisya tak menjawabnya. Ternyata, raisya sedang memakai earphone.
“Ya sudahlah” umpat milan.
—
“Hai” sapa aldi, cowok paling higienis dari 5 teman ini. Raisya yang duduk di bawah pohon ditemani chika pun hanya melambaikan tangannya. Pertanda ‘hai juga’.
—
“Hallo”
“Hallo”
Ucap gadis remaja itu sembari ia menelungkupkan tubuhnya di atas kasur.
“Kok gak ada respon sih? Aneh!” ucap raisya kesal tingkat 1.
“Drt drt drt”
Kini benda mungil yang diterlantarkan di atas kasurnya berdering lagi dan menimbulkan sinyal led seperti bianglala pelangi.
“Arghh” umpatnya.
“Sampai ni orang kaga jawab lagi bakal gue matiin nih handphone, ehh.. Tapi kalau dipikir-pikir nanti milan telepon juga?”. Akhirnya raisya mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa penelponnya.
“Ya, hallo? Siapa disana”
Tak ada jawaban.
“Haloooo.. Dungu!” ketus raisya dan sempat mematikan telepon itu.
Sementara itu si penelpon itu ialah pacar raisya sendiri. Siapa? Ia ialah milan. Pacar setianya yang menemani raisya selama 3 tahun menjalin hubungan.
“Duh, raisya marah sama gue? Sampai bilang gue dungu segala? Padahal gue pacarnya!” kata milan.
Malam ini malam jum’at kliwon.
Raisya tak tahu itu.
“Duh, mandi dulu ah” ucap raisya. Raisya pun jalan ke kamar mandi membawa handphonenya. “lalala..” seru raisya. Ia pun menghempaskan tubuhnya ke bathtub. Air hangat ia penuhi, lama-kelamaan raisya merasakan hal- hal aneh. Apa?.
Air susu di bathtubnya berubah menjadi air darah.
“Aaaaaaaa” teriakan raisya membuat papanya resah.
“Ada apa rais?” tanya papa di bawah sana.
“engg, enggak kok pa!” ujarnya.
—
“Chik, chik” panggil raisya kepada chika sambil berlari kecil. “eh, ca, apa?” tanya chika. “gue, mau cerita nihh..” jawab raisya, mengernyitkan alisnya. “cerita apa? Seru gak? Lucu gak?” sambung chika kepo. Raisya yang ingin bicara, jadi terpotong-potong oleh ucapan chika. “eits, ya ampun, sabar napa ka” tambah raisya. “oke, oke” kata chika. Mereka sampai di tempat duduk dan bercerita panjang lebar.
“Chik, aneh yaa.. Malam ini gue dihatuin mulu nih” kata raisya. “hantu?” sepele chika. “hah? Hantu?” kini chika telah memutarbalikkan pembicaraannya. “iya, hantu. Cewek gitu. Kemaren aja waktu gue mandi, ada darahnya gitu.. Ihh.. Apa jangan-jangan? Gue lagi diikutin?” tanya raisya pada chika. “gak mungkin, kalau lu terus berdoa.” jelas chika sambil membuka lembaran kertas. “eh, gue mau tanya.” kata raisya memasukkan earphonenya ke telinga. “apa?” respon chika. “kita kapan ya travel?” tambah raisya. “oh ya! Kata bu jacklyn 2 hari lagi kita travel ke gunung pangrango!” seru chika dengan menghentakkan tangannya ke meja. “yeaayyy!!” ungkap raisya.
Malamnya menjelang travel.
“Pah!” manja raisya kini ia tunjukkan. “apa?” papa menjawab sambil membuka lembaran koran yang dibacanya untuk hari ini. “besok pagi, travel” jelas raisya. “kemana?” tanya papa santai. “ke gunung pangrango, impian ku!” ucap raisya gembira ria. “apa?!” papa raisya kaget mendengarnya. “tidak! Tidak boleh!” kata papa, raut mukanya terlihat marah. “huh” dengus raisya, mengerucutkan bibirnya.
“Oke, kalu papa gak ngizinin aku, aku bakalan pergi gak bilang-bilang! Keputusan ku bulat” ucap raisya dengan keputusannya yang bulat.
Dini hari.
Raisya meninggalkan sepucuk surat.
Pa, maafin aku, ini keputusan bulat ku! Karena ini impian ku.. Untuk menjadi traveler hebat!
Raisya meninggalkan rumah tanpa seizin papa, satu-satu orangtuanya yang kini ia miliki.
“Yee.. Ca ikut.. Temen-temen” kata chika memberi tahu kepada semua temannya. “ish, apa-apaan sih kamu!” ujar raisya.
“Anak, anak.. Akhirnya sampailah kita di gunung pangrango. Saatnya kalian membuat kelompok camp, masing-masing kelompok 5 orang. Kami beri toleransi waktu 15 menit! Dari sekarang” jelas bu jacklyn dan pak poco.
15 menit berlalu.
“Mana kelompok kamu?” tanya pak poco. “Ini pak! Chika, raisya, ale dan aldi” jelas milan. “Oke!” ucap pak poco
Malam larut pun datang.
Suara gemuruh serigala terdengar.
Kabut turun.
“Gue, keluar ya!” ucap milan sambil memegang tangan raisya. “eh, jalan malam-malam tar ketemu hantu gimana? Binatang buas?” tanya aldi sambil mengelap kacamatanya. “gak mungkin!” jawab milan sangat sepele. “yuk ah” kata raisya, senang ditemani oleh milan.
Raisya dan milan menentukan dahulu jalan mana yang akan mereka pilih.
Mereka pun telah menemukan dan berjalan.
“Duh, kabut!” ucap milan. “eh, aku bawa senter sayang” kata raisya. Milan pun mengambil senter itu dan mereka berjalan selama 2 jam dengan jarak yang ditempuh 177 km.
“Duh, cape nihh.” ujar raisya, sambil menengkukkan tubuhnya dan ngos-ngosan. “ya udah duduk dulu” kata milan.
‘sreett’
Senter pun kehabisan baterai.
“Waduh, gawat nihh..” kata milan kebingungan dan resah. “kita gimana pulang?” sambung milan. “sayaang.. Kamu kok gak jawab?” tambah milan mencari-cari raisya dengan menebaknya dengan tangan.
Percuma milan mencari raisya, raisya tak ada di sisinya. Raisya? Diculikk hantuuu.. Omg!
“Ca, jangan jail donggg..” kata milan masih mencari.
Namun, milan jalan ke arah yang salah.
‘jlepp’
“Aaaaaaaaaaa” teriak milan, milan pun tak berdaya. Itu jurang sangat tinggi, ia pun tewas.
—
“Kukuruyuukk”
Ayam dimana?
Semua kumpul.
Chika memberitahu kepada guru-guru yang membimbing travel camping itu. Bahwa, milan dan raisya tidak ada semalaman.
Semua camper mencari keduanya.
12 jam berlalu mereka tak menemukan keduanya.
“Ah, gue duduk dulu ah! Capek!” ucap ale. “Aaaahhh” ale teriak kencang entah kenapa, teriakannya membuat semuanya resah. “bu, pa! Semuaa.. Ini raisya.” tambah ale dengan agak merinding. Pak poco pun memeriksa keadaan raisya, ternyata ia telah tiada. Raisya meninggalkan dunia ini, sama dengan milan. Milan pun ditemukan oleh warga sekitar yang jarang. Milan diketemukan di jurang dalam.
Semua camping dan travel 5 hari dibatalkan..
TAMAT


0 komentar:
Post a Comment