TANGGA PINTAS SEKOLAH KU
“Ayo.. Cepat Nika, mobilnya sudah dihidupin sama Papa tuh, jangan lama-lama pakai sepatunya,” ujarku pada Nika, adikku, dengan terburu-buru.
“Ya.. Bentar lagi!”
Nika berlari ke arahku. Lalu memasuki mobil sedan papa, dan melaju ke sekolah dengan kecepatan sedang. Aih, kejadian ini gara-gara Nika yang kemarin malam terlalu larut untuk tidur karena ingin sekali melahap habis komik Fantasteen miliknya yang berjudul ‘Peron 13’. Tak sampai dua puluh menit, aku dan Nika dengan bergandengan tangan menjejakkan kaki di depan gedung bersejarah yang megah. Pak satpam hampir saja menutup gerbang, untunglah aku bisa duluan memasukinya. Nika berpisah denganku, karena ia berada di kelas VII C, tepatnya di lantai satu sedangkan aku harus bersusah payah menaiki tangga satu per satu untuk cepat sampai di kelasku, IX B di lantai dua.
“Hah, sudah telat delapan menit? Ya ampun, telat dua menit masuk kelas saja pasti sudah dihukum,” gerutuku panik. Tiba-tiba.. “Aha, ide yang bagus. Haufa pernah bercerita kalau ada tangga pintas menuju kelas sembilan di samping lab. Hahaha.. Rani.. Rani, pintar juga kamu,” kataku ge-er sambil menjentikkan jari. Lalu berbalik arah menuju tangga pintas. Namun aku tidak mendengarkan cerita Haufa tentang tangga pintas secara lebih lanjut karena Bu Nita keburu datang ke kelas.
“Hehehe..” tawaku girang sambil menaiki anak tangga satu per satu. Di tengah perjalanan aku melihat gadis perempuan sebayaku mengenakan seragam yang berbeda, rambutnya diikat satu dengan pita kuning dan wajahnya putih. Ia juga tidak memakai kerudung, padahal sekolahku menganjurkan semua siswinya untuk memakai jilbab.
“Anak baru ya?” tanyaku seraya tersenyum ke arahnya. Ia tersenyum dan membalas senyumku.
“Maaf ya! Aku buru-buru nih. Sampai jumpa!!!” pamitku. Sekali lagi, gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.
“Alhamdulillah.. Akhirnya sampai juga. Waduh, Pak Arya sudah masuk kelas lagi. Emm.. Beranikan diri sajalah,”
“Assalamualaikum,” salamku di ambang pintu kelas.
Seluruh pasang mata memperhatikanku yang terlambat ini. Ada yang berbisik-bisik, ada yang diam, dan ada yang tersenyum lega padaku. Siapa lagi orang itu kalau bukan Haufa, sahabatku.
“Waalaikumsalam.. Kamu terlambat Rani? Bagaimana bisa? Padahal saya dengar kamu adalah anak paling disiplin di kelas,” rentetan pertanyaan akhirnya ke luar dari mulut beliau. Aku menundukkan kepala dengan perasaan bersalah.
“Maaf pak. Tadi adik saya terlambat bangun, jadinya mau tak mau saya harus menungguinya karena saya berangkat bersama dengan Adik dan Ayah,”
“Baiklah, kali ini Bapak maafkan, tapi jangan ulangi lagi kesalahanmu ya!” jawab Pak Arya toleransi. Aku berterima kasih dan duduk di bangkuku dengan perasaan nyaman dan lega.
Mendadak, aku menemukan sebuah ikat rambut berwarna kuning. Hmm.. Punya siapa ya ini? Sepertinya aku pernah melihatnya. Sebelum aku berpikir lebih lanjut, Pak Arya sudah memberikan penjelasan pelajaran Kimianya. Dua jam selanjutnya, bel sekolah berbunyi nyaring. Istirahat pertama sudah tiba. Aku cepat-cepat menarik tangan Haufa untuk segera pergi ke kantin. Perutku sudah kukuruyuk. Tetapi Haufa menolaknya.
“Maaf Rani, aku nggak bisa ke kantin. Dipanggil Bu Dian tuh,”
“Oke, aku duluan ya, bye,” kataku melihat Bu Dian yang rupanya sedang menunggu Haufa. Dasar sekretaris OSIS, di mana-mana sibuk terus. Hihihi.. Aku terkikik dalam batin. Tiba-tiba aku teringat tangga pintas. Oh, ya, kantin kan di lantai satu, lewat sana saja biar cepat sampai. Aku juga mau mendapat meja di kantin yang biasanya super penuh dengan siswa-siswi.
“Loh, kamu masih di sini?” tanyaku pada gadis yang tadi pagi ku temui. Ia kembali mengangguk sambil tersenyum. Wajahnya pucat sekali entah mengapa. Namun ia masih terlihat cantik.
“Oh, ya, namamu siapa? dan kenapa masih di sini saja?” tanyaku tanpa curiga.
“Aku Rika. Anak Bu kantin yang sudah lama..”
“Sudah lama di sini ya? Baik-baik. Namun aku tidak pernah melihatmu di sini,”
“Aku sekolah di..” belum sempat ia menjawab. Terdengar bunyi aneh.
KRUK..
Aku memandangi perut sambil tertawa lepas. Rika diam saja sambil menatapku tanpa ekspresi.
“Hahaha, perutku sudah berbunyi tuh. Aku ke kantin dulu ya..” pamitku dengan riang. Lalu setengah berlari menuju kantin. Tetapi, aku tidak tahu kenapa sebabnya ketika di tangga pintas, bulu romaku langsung meremang dan ada aura aneh setelah bertemu gadis bertubuh tinggi itu. Poninya yang panjang menutupi hampir matanya hingga aku tidak bisa melihat secara jelas.
“Gadis itu memang misterius. Mana betah dari pagi dia di situ saja. Ah lupakan..” gumamku tanpa sadar. Sesampainya di kantin, aku langsung memesan semangkuk bakso, tiga gorengan, dan satu gelas minuman bersoda. Aku tahu mama melarangku untuk minum minuman seperti itu, namun rasanya hari ini aku ingin.. Sekali.
Sepulang sekolah, aku langsung berjalan beriringan sambil menggamit tangan Haufa. Aku menanyakan alasan ia dipanggil Bu Dian. “Tadi kenapa loh kamu dipanggil, my soulmate?” tanyaku sambil mencerucupi batagor dari plastiknya. Haufa sedikit bergidik melihatku seolah ingin mengatakan JOROK! Biarkan saja. Aku menangkap hal itu dari matanya. “Disuruh memberikan data absen seluruh kelas sembilan,”
“Alasannya?” tanyaku lagi rada cerewet.
“Mana aku tahu, tanya saja sama Bu Dian,”
“Ah.. Jawabanmu nggak asyik banget sih..” gurauku yang disambut oleh tawa Haufa.
Mendadak, aku teringat pada kejadianku di tangga pintas. Dimana aku bertemu pada gadis misterius bernama Rika. Tapi seolah ada yang mengganggu pikiranku sehingga aku langsung lupa pada ingatanku. Aku malah menceritakan hal-hal lain pada Haufa. Seperti tentang keseruanku sewaktu outbond, memasuki museum lukisan terkenal, dan hal-hal lainnya yang menjurus pada travelling. Pokoknya.. SPLASH.. Pikiranku tentang Rika hilang sepenuhnya ketika aku akan menceritakannya pada Haufa.
“Ya ampun.. Nika pasti udah nungguin di gerbang sekolah. Aku duluan ya friend..” teriakku seraya berlari mempercepat langkah. Ternyata benar, mobil papa sudah tiba di situ. Nika juga terlihat mondar-mandir menungguku.
“Barusan di sini?”
“Enggak, udah sepuluh menit yang lalu!” jawabnya terlihat kesal. Tanpa perasaan bersalah aku langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
—
Cuit.. Cuit.. Cuit..
Singkat cerita, pagi mulai mendesis dengan siulan burung-burung nan indah dan merdu. Aku sudah bersiap berangkat sekolah, sesuai dengan rutinitasku seperti biasanya. Wajarlah.. Namanya juga pelajar. Di sekolah, aku tersenyum indah sambil menjejakkan kaki menuju samping lab, yah di mana lagi kalau bukan tangga pintas yang ku tuju.
“Tapi kok di sini sepi banget sih, kayak nggak pernah dilewatin orang. Duh, mana si Rika ini! Paling-paling juga belum ke sini,” ujarku berkata-kata sendiri. Aku menaiki anak tangga dengan perasaan was-was dan gemetar. “Kenapa nih.. Suara apa itu. Hei! Apakah ada orang?” teriakku takut ketika mendengar bunyi-bunyi aneh di depan.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah tangan berwarna hitam yang menjamah kakiku. “AHH.. TOLONG..” aku tak berani menengok ke belakang lagi. Kemudian tanpa ku duga, tangan itu menjatuhkanku. Alhasil aku terguling-guling di tangga. Darah segar dari kepala dan hidung dengan cepatnya mengucur. Dalam suasana mata remang-remang, aku menangkap seringai sosok yang ku kenal, Rika. Namun yang lebih menakutkan, kepala dan hidungnya juga berdarah persis sepertiku. Dengan lirih aku memanggil namanya. “Rika..” tak lama kemudian aku pun kehilangan kesadaran secara menyeluruh.
Suara riuh itu menggangguku. Gelap gulita yang ku rasakan sirna sudah ketika aku dengan perlahan-lahan membuka mataku. “Aku di mana? Apakah aku sudah meninggal?” desahku sambil mengamati sekeliling ruangan. Enam pasang mata menatapku dengan perasaan lega. Di situ juga terdapat Nika yang terlihat sangat khawatir.
“Kakak di UKS. Hush, jangan berbicara begitu. Kakak belum meninggal lah..” balas Nika sambil memegang tanganku. Aku tersenyum. Lalu aku membelai kepalaku yang dibalut perban.
“Aduh.. Pusing sekali,” jeritku.
Nika mengambil sebungkus makanan yang sepertinya nasi dan segelas teh hangat. Lalu membuka makanan itu yang ternyata nasi dan ayam goreng. Dengan cekatan ia mulai menyuapiku. “Kak, tadi Bu Indah menemukan kakak di depan lab dengan keadaan seperti ini. Kebetulan beliau mau mengambil gelas ukur. Untunglah..”
“Ya benar, tadi itu..” aku tidak bisa melanjutkan bicara karena Haufa menahanku untuk tetap makan dan tidak boleh berbicara. Aku mengangguk lemah. Aku tidak berangkat sekolah selama dua hari.
Lusanya aku benar-benar kapok melewati tangga pintas itu lagi. Aku jadi sedikit sedih dan ketakutan.
“Siapa sih, tangan yang menjamah kakiku. Bagaimana kalau itu penunggu tangga pintas?” pikirku mulai sadar.
“Ah tanya Bu kantin saja, Rika juga..” aku berhenti berbicara sambil merinding ketakutan.
Pagi ini, untunglah kantin masih sunyi. Baru ada lima anak yang datang ke sini.
“Bu kantin.. Beli onde-ondenya empat dong.” Pintaku menatap jajanan bulat yang menggiurkan itu.
“Oke neng, tiga ribu saja,”
Aku menyodorkan uang lima ribuan pada beliau. Dengan cepat, bu kantin memberiku uang kembalian.
“Bu, Rika itu anak Ibu kan?” tanyaku sambil memasukkan uang kembalian ke kantung di rok. Bu kantin berubah ekspresi. Ia terkejut dan terlihat sedih.
“Memang, dia itu anakkku. Namun dia sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu,” jawabnya. Hatiku langsung berdegup tak karuan. Jadi, yang ku temui itu siapa.. Apakah arwah Rika? Aku langsung bergidik mengingat pertemuanku dengannya akhir-akhir ini.
“Bu kantin bisa ceritakan mengapa ia meninggal?” tanyaku lagi. Rasa penasaran mengalahkan segala-galanya. Beliau mengangguk dengan lemah. “Dulu, ia bersekolah di sini. Ia sudah kelas sembilan. Tapi tangga pintas berani mengambil dia dari Ibu,” bu kantin mulai bercerita. Matanya berkaca-kaca. “Apa maksudnya Bu?”
“Dia sering lewat situ karena dia anaknya suka telat. Suatu hari, ia berlari-lari karena ketika upacara bendera dia terlambat. Kemudian karena tak berhati-hati, ia terpeleset dan terjatuh berguling-guling di tangga. Sebelum meninggal, ia mengatakan bahwa Rika ingin mempunyai teman. Di sekolah, ia dijauhi teman-temannya karena terlalu pendiam dan misterius oleh poni yang menutupi matanya,”
“Apakah sewaktu meninggal ia memakai ikat rambut berwarna kuning Bu?”
“Benar sekali, bagaimana kau bisa tahu?” bu kantin menatapku penuh selidik. Aku menceritakan semuanya pada beliau. Bu kantin manggut-manggut sambil tersenyum sedih.
“Arwahnya hanya membutuhkan teman. Dan ia memintamu untuk menjadi temannya dengan menjatuhkanmu. Maafkan dia Nak..”
Kali ini aku menangis tersedu-sedu bersama bu kantin. Kenangan pahit itu terjadi pada diriku sendiri. Tiba-tiba, bu kantin mengerutkan keningnya seakan ingat oleh sesuatu hal. “Bagaimana kamu bisa lewat tangga pintas. Kan di sana sudah digusur oleh sekolah dan rusak di sana-sini?” tanya beliau. Aku juga mengerutkan dahi. Lalu beliau mengantarku di samping lab. Aku langsung terduduk lemas mengetahui apa yang tampak. Tangganya rusak di sana-sini dan sebuah plang menancap di bagian depannya bertuliskan ‘JANGAN LEWAT SINI KARENA TERJADI KERUSAKAN PARAH’.

0 komentar:
Post a Comment