SYAL MERAH
Bel sekolah berdering tanda kegiatan belajar mengajar telah selesai. Aku membereskan buku-bukuku yang berserakan di atas meja. Tapi, aku tidak pulang dahulu. Karena aku telah berjanji pada Inda untuk pergi ke mall bersama.
“Na, aku tunggu di parkiran ya..” kata Inda riang.
“Oke. Aku mau ke loker dulu.” Kataku santai.
“Siap.”
Aku berjalan di koridor sekolah. Tiba-tiba udara menjadi sangat dingin. Aku acuh dan berpikir positif tentang itu. ‘mungkin karena sedang musim penghujan jadi dingin.’ Batinku. Aku berjalan sambil mengutak-atik smartphone-ku. Tanpa sadar di ekor mataku aku melihat perempuan berseragam sekolah. Ku palingkan wajahku ke arahnya. Ingin tahu siapa gerangan itu? Kosong. Tak ada seorang pun di sana. ‘mungkin cuma halusinasi.’ pikirku lagi. Tanpa sadar aku sampai di depan lokerku. Langsung ku buka dan ku masukan barang-barangku. Tapi tiba-tiba suasana kembali dingin dan membuatku bergidik. Merinding. Itu yang ku rasakan. Aku tak peduli aku sudah ketakutan dan akan segera pulang ke rumah. Berpamitan dengan Inda dan meminta maaf karena tidak bisa menemaninya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Eh, anak Mama udah pulang.”
“Iya Ma. Jena langsung ke kamar aja ya Ma. Cape banget nih.”
“Iya. Jangan lupa makan Nak.”
“Iya Mama.”
Aku merebahkan tubuhku di kasurku. Kring, kring, kring. Bunyi smartphone-ku menyita perhatianku. Ku alihkan tatapanku ke dalam tas. Ternyata Inda meneleponku tapi hanya missed call. ‘pasti Inda cuma mau ngomel.’ Malas mendengar omelan Inda. Ekor mataku kembali menangkap sesuatu berwarna merah yang ada di dalam tas. ‘syal?’ perlahan ku ambil syal merah itu. Lama kelamaan suatu bayangan tergambar.
“Ini untukmu.” Kata seorang gadis. “syal?” kata lelaki itu.
“Iya. Itu untukmu agar kamu selalu hangat.”
“Kenapa kamu tidak pernah berhenti menggangguku?”
“Jovan kenapa kamu? Aku mencintaimu. Masih ingatkah kau?”
“Kamu mencintaiku? Kamu sudah merusak hidupku. Enyahlah kau dari muka bumi ini.”
“Tapi Jovan?”
‘BUG’
Dorongan keras membuat gadis itu tersungkur. Lelaki itu pergi tanpa muka bersalah. Gadis itu menangis sendu. Kemudian mengeluarkan botol kecil berisi cairan. “baiklah Jovan kalau kamu memang menginginkan Sesa pergi. Sesa akan pergi dari dunia ini.” kata gadis itu sambil meminum cairan itu. Beberapa menit kemudian gadis itu tak sadarkan diri. Mati dengan menggenggam syal merah yang tak pernah sampai. Aku kembali ke duniaku. Tertegun dengan apa yang telah diperlihatkan. Aku seorang indigo jadi wajar kalau aku mengetahui hal itu. Tiba-tiba aku mendengar bisikan.
“Tolong aku Jena. Tolong berikan syal itu ke Jovan.”
“Tapi Sesa aku tidak tahu orangnya.”
“Dia yang berkalung merah.”
Bisikan pun lenyap. Ku alihkan penglihatanku pada jendela kamarku. Aku terkejut melihat seorang gadis pucat di balik jendela. Kemudian dia menghilang. Keesokkan harinya aku berpapasan dengan lelaki berkalung merah. “Jovan.” Lelaki itu berhenti dan menoleh. “Ini syalmu. Sesa menyuruhku memberikannya kepadamu.” Kataku sambil tersenyum. Dia terkejut tapi menerimanya. Aku kembali berjalan dan melihat Sesa berdiri sambil tersenyum. Aku tersenyum. Dan kemudian dia hilang bersamaan dengan bisikan terima kasih yang ku dengar.
“Semoga kamu tenang Sesa.”


0 komentar:
Post a Comment