RAHASIA OPA TOM
Mendung berarak pelan, wajahnya yang gelap pertanda segera turun air hujan. Clarine mempercepat langkahnya. Sepatu casualnya bergesekan keras dengan aspal jalan yang kasar. Suaranya menggema di lorong sempit menuju rumahnya.
“Clarine..!” Panggil seorang laki-laki paruh baya bersuara serak di ujung lorong. dari perangainya Clarine bisa mengenali laki-laki bersuara parau itu. Laki-laki berkepala lima yang selalu menghisap puntung rok*k di ujung lorong itu bernama Tom Afandi. Clarine memanggilnya dengan sebutan “Opa Tom”. Ia selalu membuat jalan di sepanjang lorong menjadi sesak karena kepulan asap rok*knya yang pekat. Clarine berlari kecil mendekati Opa Tom yang sedang duduk santai dengan sebatang rok*k di tangan kanannya.
“Aku melihatnya lagi, Clarine.” Bisik Opa Tom. Ia berdiri dan mendekatkan bibirnya ke telinga Clarine.
“Tepat di sana. Di depan pagar rumahmu.” Opa Tom mengarahkan jari telunjuknya ke arah rumah Clarine di jalan setelah lorong tersebut.
“Sungguh Opa?” Mendadak muka Clarine pucat pasi. Tubuhnya gemetaran. Sosok monster yang menerornya kembali lagi.
Clarine meminta izin untuk pulang. Meninggalkan Opa Tom yang kembali duduk dan menikmati sebatang kesayangannya.
Clarine berjalan ragu. Ia teringat perkataan Opa Tom tadi. Ah, andaikan ia tidak tinggal sendirian di rumah, sudah pasti ia tidak akan takut seperti ini. Decit pagar tua terdengar tidak mengenakkan di telinga gadis muda itu. Besi tua yang menjadi bahan pembuat pagar itu sudah berkarat dan rapuh. Sama seperti hatinya yang rapuh setelah kejadian tiga tahun silam. Ya, hatinya sangat rapuh, tak ingin lagi jatuh cinta. Karena menurutnya, selangkah ia mencintai, sama artinya dengan selangkah ia akan kehilangan orang itu.
Clarine memasuki rumahnya dengan santai. Seakan-akan ia melupakan perkataan Opa Tom tadi, ia mencoba membuka pintu kamarnya.
“Ah, sial.” Teriaknya. Meski ia telah mencoba untuk memberanikan diri, rasa takut itu terus membuntutinya. Clarine memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu. Ia menutup mata sejenak, lalu menarik nafas panjang untuk mengumpulkan seluruh tenaga di dalam tubuhnya.
Jam 23 tepat. Sudah terlalu larut untuk berdiam diri di ruang tamu. Sekali lagi ia mencoba memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya.
Krekkk… Pintu kamar terbuka. Clarine menyipitkan matanya, berharap tidak ada sosok menakutkan di dalam sana. Sosok yang diceritakan Opa Tom, sosok yang sudah menerornya selama tiga hari ini.
“Ema.. Kau kah itu?” Tanya Clarine pada bayangan sesosok perempuan berambut panjang di ujung ranjangnya.
Clarine menghidupkan lampu kamarnya yang mati. Lalu perempuan tadi membalikkan badannya ke arah Clarine, wajahnya putih pucat, namun cantik. Perempuan itu tersenyum pada Clarine.
“Astaga, Ema. Apa Kau juga ingin menakutiku?” Tanya Clarine pada perempuan itu sambil menjatuhkan tubuh semampainya ke ranjang yang empuk.
“Kau kenapa Clarine? Kau tak terlihat seperti biasanya. Apa Kau sakit?” Tanya hantu gadis bernama Ema itu. Tunggu. Dia juga hantu. Clarine bersahabat dengan seorang hantu.
“Makhluk itu datang lagi, Ema. Aku takut.” Clarine menarik selimutnya. Badannya benar-benar merinding malam ini. Rahasia itu, sebenarnya hanya ia dan Opa Tom yang tahu. Tentang makhluk tak kasat mata yang sudah seminggu ini mengunjungi rumahnya. Anehnya, sixth sense Clarine tidak mau bekerja. Ia tidak bisa melihat makhluk itu seperti ia melihat Ema.
“Siapa Clarine? Kamu tidak pernah bercerita tentang siapapun.”
“Hantu itu.. Aku tidak bisa melihatnya, Ema. Aneh sekali.” Clarine menenggelamkan tubuhnya di kasur empuknya.
“Apa akhir-akhir ini Kau melihat makhluk yang asing?” tanya Clarine.
“Jangan-jangan.. Laki-laki itu yang Kau maksud.” tebak Ema.
“Laki-laki?! Yang mana?”
Mereka berdua menebak-nebak di dalam batin mereka. Ema hanya dapat memutar memori di otaknya. Pasalnya, Clarine tidak pernah sekalipun menceritakan tentang masalahnya ini. Sedangkan Clarine, ia bersikap tenang di luar. Krek.. Pintu kamar Clarine berdecit. Sunyi di rumah kecil Clarine terpecahkan oleh decit pelan pintu tua itu. Pintu tua itu terbuka sedikit. Di baliknya ada bayangan yang lebih mirip seperti mozaik di mata Clarine. Tidak jelas sama sekali.
Pyarr.. “Vas bungaku.” Clarine meloncat dari atas kasurnya. Ia membuka pintu kamar dan membantingnya. Ema mengikutinya di belakang, tanpa perlu membuka pintu tadi, tak sampai sepersekian detik, Ema menembus pintu kayu itu.
Clarine memungut pecahan vas bunga kesyangannya. Hatinya kali ini benar-benar geram. Makhluk itu benar-benar mengusik ketenangan hidupnya.
“Mengapa Opa Tom bisa melihatnya, sedang Aku tidak?” Tanyanya di dalam hati.
Ema menghampiri Clarine yang masih menggerutu dengan kejadian malam ini. Sekali lagi Clarine dibuat terkejut dengan setangkai mawar hitam di sudut meja kerjanya. “Sepertinya Dia mencintaimu, Clarine.” Bisik Ema. Seketika bulu kuduk Clarine dibuat merinding. Jelas-jelas yang menerornya adalah hantu. Apa benar makhluk itu menyukainya? Mengapa tidak Ema? Yang jelas-jelas ia lebih cantik, dan tentunya mereka itu sama-seorang hantu.
“Aku harus menyelesaikan ini..” Gumam Clarine. Arrghhh…
Clarine mengambil jaket kulitnya. Ia bergegas ke lorong dekat rumahnya, tempat Opa Tom piket setiap harinya.
Ssttt.. Clarine bersembunyi di balik pagar rumahnya setelah melihat Opa Tom berbicara sendirian. Entah, sebenarnya tidak aneh bila melihat Opa Tom berbicara dengan hantu. Yang aneh adalah, hantu itu tidak bisa dilihat oleh Clarine, yang jelas juga punya kemampuan yang sama seperti Opa Tom.
“Itu laki-laki yang memecahkan vas bungamu tadi, Clarine.” Tiba-tiba Ema berada di samping Clarine. Sontak Clarine yang merasa tidak diikuti Ema pun menjadi terkejut.
“Astaga, Ema! Kau hampir saja membuatku mati.” Gerutu Clarine sambil menepuk pundak sahabatnya itu. Ema menutup mulut Clarine rapat-rapat lantaran Clarine tak bisa mengendalikan volume suaranya. Untung saja Opa Tom tidak menyadari kehadiran mereka. Clarine diam. Benarkah apa yang dikatakan Ema? Clarine terus memperhatikan wajah Opa Tom. Sepertinya ia sangat bahagia.
“Benarkah? Kau suka?”
“Ayolah.. Kau harus sadar diri.”
“Tidak.. Tidak.. Kau tidak boleh seperti itu.”
Opa Tom terus berbicara. Sayang, Clarine tidak bisa mendengar suara hantu itu. Hanya saja, dari percakapan itu, Clarine sangat tahu kalau Opa Tom pasti sudah sangat akrab dengan hantu tersebut.
“Bagaimanapun Kau adalah anakku. Aku tidak ingin Kau menakuti Dia. Aku tidak ingin Kau menjadi jahat, Nak.” Kalimat Opa Tom membuat Clarine berhenti bernafas sepersekian detik.
“Anak? Menakuti Dia? Apa ‘Dia’ yang dimaksud Opa Tom adalah Aku?” Gumam Clarine.
“Argghh… Teka-teki apa ini.” Clarine meninggalkan pagar rumahnya dengan menggerutu.
Clarine menutup pintunya rapat-rapat. Ia membiarkan mawar hitam di ujung mejanya tetap tergeletak. Ia akan bertanya sesuatu pada Opa Tom besok pagi.
—
“Selamat pagi Opa..” Sapa Clarine pada Opa Tom yang duduk di kursi goyang di depan rumah miliknya.
“Pagi, Clarine. Ada perlu apa Kau ke sini? Tumben sekali. Apa Kau tidak bekerja?” tanya Opa sambil menghentikan laju kursi goyangnya.
Clarine duduk di sebelah Opa Tom. Ia memberikan setangkai mawar hitam yang diperolehnya kemarin malam.
“Opa kemarin Clarine mendapat ini.” kata Clarine mengawali pembicaraan.
“Clarine sangat takut, Opa. Hidup Clarine sangat terganggu dengan adanya terror hantu itu.” sambungnya.
“Opa tahu siapa sosok hantu itu?” Tanya Clarine. Matanya menelisik, mencari-cari jawaban di mata sayu milik Opa.
“Sebelumnya Opa ingin minta maaf Clarine.” Opa menarik nafas panjang.
“Namanya Dev. Sewaktu hidup, Dia menyukaimu.” Opa menarik nafas lagi, kali ini lebih panjang dari sebelumnya.
“Sampai sekarang ia masih mencintaimu. Dia anakku.” Opa menutup kalimatnya. Ada genangan air bening di sudut matanya. Ia buru-buru mengusapnya saat genangan air itu mulai menggelayut untuk turun.
Clarine menahan dirinya untuk bertanya lebih jauh lagi. Hatinya seperti teriris, melihat laki-laki paruh baya ini menahan sesak di dada dan hatinya.
Clarine hanya mengangguk. Ia sudah ingat sekarang. Dulu, Opa mempunyai anak laki-laki yang seumuran dengan Clarine. Clarine mencintainya secara diam-diam. Tidak disangka ternyata Dev juga mencintai Clarine semasa hidupnya. Sejak kejadian 3 tahun lalu, Clarine masih belum bisa melupakannya. Dev dibunuh. Di lorong gelap itu.
“Opa, bisa pertemukan kami berdua?” Tanya Clarine.
Opa Tom mengangguk pelan.
Clarine bisa melihat wajah Dev dengan jelas sekarang. Bukan hanya kepingan mozaik yang tak beraturan. “Dev, Kau masih sama.” Gumam Clarine di dalam hati.
“Dev, maaf. Kita sudah berbeda. Aku menghargaimu, Aku ingin Kau tenang. Kau juga harus menghargaiku, Dev. Biarkan Aku menjalani kehidupanku.” Tegas Clarine.
Dev tersenyum tipis. Selama ini, ia hanya ingin mengungkapkan perasaan yang selama hidup belum pernah ia ungkapkan kepada Clarine. Ia sudah tenang, Ia akan pergi. Clarine hanya tersenyum. Bibir tipisnya bergetar melepas bayangan itu.
Deras hujan menghiasi pagi sendu itu. Clarine kembali ke rumahnya tanpa membawa ketakutan akan teror misterius itu lagi. “Selamat tinggal, Dev.” Gumamnya dalam hati.


0 komentar:
Post a Comment