PENUDUHAN PEMBAWA BERKAH

Posted By Cerpen universal on Saturday, November 7, 2020 | November 07, 2020

PENUDUHAN PEMBAWA BERKAH

Sarah selalu kesepian, setiap hari dia harus membereskan seisi rumahnya, mencuci pakaiannya sendiri. Cape? urusan belakang. Dia anak mandiri di keluarganya, bahkan sangat mandiri. Kakaknya, Ibunya, Ayahnya membenci Sarah. Sarah hanya bisa mampu meminta sesuap nasi di pagi dan malam hari. Dia tidak diperbolehkan tinggal di rumah keluarganya, karena kejadian tahun lalu. Adiknya meninggal karenanya.

Padahal, Sarah tidak tahu kejadian itu. Dia hanya dituduh warga setempat. Dan akhirnya dia diusir dan tinggal di gudang belakang rumah. Cukup besar, sehingga Sarah menyebut dengan sebutan rumah. Kotor, kumuh, bau. Itulah kondisi rumah Sarah. Dia hanya bisa mengepel dan menyapu terus gudang tersebut hingga bau dan kekumuhan teratasi sedikit.

Malam hari pun tiba, Sarah bergegas menyiapkan makan malam dan bekal di pagi hari nanti. Dia masuk rumah keluarganya lewat pintu belakang.

“Tok, tok, tok,” Suara pintu ketukan Sarah.

Lima menit dia mengetuk pintu, tanpa ada responan sedikit pun dari Kakak atau Ibunya. Terpaksa dia harus melewati rerumpunan rumput untuk jalan Sarah menuju depan rumah keluarganya. Alhasil, kenekatan tersebut membuat kakinya gatal dan bercak merah.

Setelah ia menerobos pagar, yang ia lihat adalah tulisan besar, “RUMAH DIJUAL!” betapa kagetnya Sarah. Banyak pertanyaan yang terlontar di pikirannya saat itu. Dia bingung di mana sekarang mereka, di mana lagi dia mencari makanan. Hingga akhirnya dia masuk melewati jendela rumah itu. Dia menyusuri lorong untuk menuju ke dapur. Ya rumah itu lumayan besar.

Tak sengaja, dia memasuki ruangan yang selama ini tidak boleh dimasuki oleh Sarah. Dia berpikir mungkin ruangan ini tidak menyimpan rahasia lagi. Dan mungkin sesuatu di ruangan ini sudah dibawa oleh keluarganya pergi. Ternyata hanya sebuah kamar dan satu lemari. Sepertinya lemari tersebut tidak dikunci! Sarah pun membuka lemari tersebut.

“WAW!!!” dia kaget setengah mati.

“Sungguh licik keluargaku,” Ucapnya geram.

Dia menemukan foto Adiknya, baju Adiknya, dan sepucuk surat yang banyak darahnya. “Ihh apa ini?”

Setelah ia buka, ternyata yang menulis surat itu adalah Adiknya. Di dalam surat itu berisi bahwa Adiknya butuh makanan, karena sudah tak berdaya. “Apa jangan-jangan Adik meninggal karena dipendam hidup-hidup? lalu dipendam di mana? terus Adik bagaimana? bagaimana sekarang? siapa yang tega tidak memberi makan sehingga dia hanya bisa menulis surat? Adik sangat baik, mana mungkin dia dipendam begitu saja.” lalu setelah dia meneteskan air mata, dia tertidur lelap di sana.

“Kak, aku sakit kak, Ibu tidak mempunyai biaya untuk mengobatiku! aku dipasrahkan begitu saja di kamar ini, aku kelaparan, aku tak ada daya kak!” Ujar seorang perempuan mendekati Sarah, Sarah setengah sadar.

“Adik? kamu adikku?” tanyanya keras.

“Iya kak, tolong aku sekarang kak, aku ingin yang layak, aku ingin layak kak. Tunggu aku di ruangan pojok!”

Sarah terbangun dari tidur itu. Sarah bermimpi seperti kenyataan. Bagaimana jika iya? lalu dia menghampiri ruangan pojok dekat dapur. Dia memang tidak pernah di sini. Dia menemukan peti, dan “Hah?” Dia lari terbirit birit ke luar dari rumahnya. Dia meminta warga setempat untuk menguburkan peti itu.

Tiga jam kemudian peti sudah dikubur di tempat yang layak, mungkin maksud Adik begitu lalu warga percaya bahwa Sarah tidak membunuh Adik Sarah. Lalu, warga setempat meminta maaf atas tuduhan tersebut dan Sarah dibawa warga untuk dibesarkan di panti asuhan Dharmawanita di kampung sebelah. Warga berpesan jika suatu saat Sarah sudah besar, bisa tinggal di rumah mereka, sungguh senangnya Sarah. penuduhan pembawa berkah.

“Meskipun kita tertuduh tidak baik, kita akan menang nantinya, ingatlah!”
Blog, Updated at: November 07, 2020

0 komentar:

Post a Comment