PASAR MALAM KERAMAT
Perjalanan lima jam ke rumah kakek dari solo ke kaki gunung salak memang benar-benar melelahkan. Sampai di rumah kakek aku langsung menuju kamar dan merebahkan tubuhku di tempat tidur karena aku tahu pasti kakek dan nenek sore-sore begini pasti pergi ke kebun. Sedang mami dan papi juga pasti menyusul mereka. Dan aku lebih memilih langsung ke kamar dan tidur karena rasa lelah yang mendera tubuhku. Tak perlu waktu lama aku langsung tertidur pulas.
“Tedi… Tedi… Tedi,” ku dengar suara sayup-sayu memanggilku tapi karena rasa kantukku aku pun tidak mempedulikannya. Tapi entah kenapa suara itu terus menggangguku.
“Tedi… Tedi… Tedi,” Suara itu tak henti-hentinya menggangguku. Aku pun terbangun karena suara itu dan saat ku buka mataku tak ku lihat siapa pun. Lalu aku pun melihat ke luar jendela tapi nihil tak ada siapa pun. Dan saat ku lihat sekelilingku, ah ternyata hari sudah gelap. Aku langsung menuju tasku dan mengambil alat mandiku aku segera menuju kamar mandi untuk mandi.
“Ah, segarnya, air di pegunungan memang menyegarkan.” gumamku pada diriku sendiri.
Setelah mandi dan memakai pakaian aku segera ke ruang tamu untuk mencari mami dan papi juga kalau bisa ketemu kakek sama nenek. Tapi saat di ruang tamu sepi tidak ada orang kakek sama nenek juga tidak ada. “ke mana semuanya?” batinku lalu ku lihat sepucuk surat di atas meja bertuiskan, “Tedi Mami sama Papi pergi ke rumah tetangga sedang Kakek dan Nenek sedang ada urusan jadi kamu sendiri dulu di rumah ya. Oh ya kalau kamu laper Mami udah siapin nasi goreng di dapur kamu makan itu dulu ya.”
Aku pun ke dapur dan berniat untuk makan tapi tiba-tiba aku dengar suara riuh seperti di pasar di samping rumah. Padahal setahuku di samping rumah adalah tanah kosong. Karena penasaran aku langsung ke samping rumah dan ku lihat ada pasar malam di samping rumah. Tapi kapan perasaan tadi tidak ada, tapi karena aku memang suka pasar malam aku pun langsung mengambil dompetku dan berjalan menuju keramaian itu.
Tiba-tiba ada yang memegang lenganku dan berkata. “jangan ke sana. Jangan ke sana Tedi ingatlah..” suara teriakan itu memekakkan telingaku. Aku segera menoleh dan ku lihat seorang kakek-kakek, bungkuk, berjalan dengan tongkat dan ku rasa tak mungkin jika kakek tua itu yang melakukannya. Tanpa pikir panjang lagi aku segera masuk ke pasar malam itu. Hah lelah aku berkeliling melihat ini melihat itu tapi anehnya walau tempatnya ramai tidak ada seorang pun yang berekspresi. Mereka semua berwajah datar dan tanpa ekspresi apa pun bahkan anak-anaknya sekali pun.
Selesai beli ini itu buat cemilan nanti aku pun berhenti di stand mie ayam. Aku memesan semangkuk mie ayam dan segelas es teh manis. Tak lama kemudian pesananku datang pertama. Saat makan aku tak merasa ada yang aneh tapi lama kelamaan mie ayam yang aku pesan rasanya berubah menjadi pahit dan baunya pun amis. Aku pun memuntahkan mie ayam yang ada di mulut dan ku lihat mie ayamnya berubah menjadi cacing mati dan daging busuk. Karena mual aku pun hendak meminum es teh yang tadi ku pesan tapi saat ku lihat es teh tadi berubah menjadi darah dan belatung.
Aku langsung mual melihatnya aku langsung berdiri hendak mencari bantuan tapi saat ku lihat sekelilingku semua orang di sini berubah menjadi setan yang menakutkan. Mereka semua berkulit hangus berbau amis juga. Makanan yang tadi ku beli berubah menjadi bangkai tikus. Melihat semua ini wajahku pun memucat kaki dan tanganku pun lemas tak bertenaga. Namun saat akan berteriak suaraku menghilang entah ke mana. Aku bagaikan patung yang tak bisa berbuat apa-apa.
Entah sudah berapa lama aku pingsan saat ku buka mataku aku ada di kamar, mami, papi, kakek dan nenek ada di sana juga. Mamiku lalu memberikanku air minum dan berkata. “Ada apa Tedi kenapa kamu pingsan di samping rumah?” tapi kakek langsung memberi penjelasan kepadaku.
“Tedi bukankah Kakek sudah beri tahu jangan datang ke sana berbahaya tapi kok malah nekat” dengan bibir masih gemetar aku berkata.
“Maaf Kek, Tedi kapok Tedi minta maaf..”
“Ya sudah kalau begitu kamu sekarang tidur dan jangan mikir yang macem-macem..”
“Baik Kek..” jawabku.
Jam menunjukkan 00.00 tepat namun aku belum bisa tidur. Aku teringat kata-kata kakek, jika benar kakek memperingatkanku itu artinya kakek tua yang tadi berteriak adalah kakekku sendiri. Tak lama kemudian terdengar suara wanita berkata. “Jangan pernah datang lagi atau kau akan jadi santapan kami!!” lalu terdengar suara tertawa banyak sekali orang. Dan sejak saat itu pula aku bersumpah untuk tak pernah datang lagi di pasar malam di sekitar gunung salak ini lagi.


0 komentar:
Post a Comment