MISTERI NYAI KONDE
Siang itu Lia pergi ke rumah sahabatnya yaitu Adel, sampai di depan pintu Lia mengucapkan salam dan mengetuk pintu… “Assalamualaiku Adel… Assalamualaikum Adel…” Adel pun menjawab salam dan membuka pintu dan mempersilahkan Lia untuk masuk. “Adel kamu udah siap belum untuk pelantikan besok…?” tanya Lia, “Pastinya udah dong…” jawab Adel “Kamu besok berangkat jam berapa Lia…?” “Mmm… Jam dua lebih lima belas menit aja deh…” “Tapi kan kata pak Agung akan ada upacara pembukaan dulu jam dua pas…” “Oh… iya, aku berangkat ke sekolahan jam satu lebih empat puluh lima menit aja deh… Kalo kamu berangkat jam berapa Del…?” “Aku juga sama kayak kamu jam satu lebih empat puluh lima menit aja.”
Tak terasa waktu pun semakin sore “Ya udah aku pulang dulu ya… Takutnya bunda nyariin aku soalnya udah sore… aku pulang dulu ya… Assalamualikum…” “Ya udah iya… Waalaikumsalam.”
Keesokan harinya…
“Bunda ayo cepat… Nanti aku terlambat…” Kata Lia kepada Bundanya, “Iya Lia tunggu sebentar bunda lagi siap-siap dulu… kamu coba cek barang-barang kamu dulu aja siapa tau ada yang tertinggal.” “Iya bunda…”
Sesampainya di sekolahan Lia langsung mencium tangan orangtuanya dan langsung mencari Adel. Ternyata Adel sudah ada di dalam ruang sekretariat marching band bersama yang lainnya. Lalu pak Agung mengumumkan kepada seluruh peserta pelantikan gabungan untuk berbaris di lapangan karena upacara pembukaan akan segera dilaksanakan. Lia, Adel, dan teman-teman yang lainnya segera berkumpul di lapangan. Setelah upacara pembukaan, semuanya langsung masuk ke dalam mobil truk dan langsung berangkat menuju ke tempat pelantikan.
Sesampainya di tempat pelantikan, semuanya langsung mendirikan tenda, setelah mendirikan tenda… Pembina menyuruh kepada para peserta pelantikan untuk melaksanakan shalat Ashar. Setelah shalat Ashar Lia langsung masuk ke dalam tenda, Lia satu tenda dengan Adel, Nita, dan juga Windi. Kakak kelas memperbolehkan mereka istirahat sampai sebelum waktu shalat Maghrib. Adel iseng-iseng melihat bumi perkemahan mereka di internet yaitu bumi perkemahan “Alam Cherbond” lalu adel menemukan sebuah paragraf dengan judul “Misteri Bumi Perkemahan Alam Cherbond dengan Nyai Konde” lalu Adel memanggil Lia untuk membaca paragraf tersebut bersama-sama “Ehh… Lia sini deh coba baca paragraf ini…” Kata Adel, Lia membaca judul paragraf tersebut “Misteri Bumi Perkemahan Alam Cherbond dengan… Loh bukannya ini adalah bumi perkemahan kita sekarang…”
Malam itu diisi dengan penuh kegiatan yang sangat menyenangkan, tetapi tiba-tiba salah satu kakak kelas yang bernama kak Anis meminta izin kepada ketua untuk pergi ke tendanya dan berpesan kepada ketua untuk memindahkan lokasi kegiatan yang semula di depan hutan untuk pindah ke depan sawah. Lalu kak Indah selaku ketua bertanya kepada kak Anis mengapa harus pindah lokasi, tetapi kak Anis hanya menjawab lokasinya gak aman. Setelah kegiatan itu selesai… Para siswa diperbolehkan untuk tidur.
Malam-malam Adel ingin buang air kecil, Adel kemudian mengajak Lia untuk menemani nya. Saat ke luar dari tenda Adel dan Lia meminta izin kepada kak Anis, karena jarak WC perempuan yang cukup jauh maka kak Anis harus menemani mereka berdua. Setelah selesai dari WC, Adel menanyakan kepada kak Anis tentang Nyai Konde itu. Kak Anis memberi tau saat uji materi yang di depan hutan dia melihat seorang perempuan dengan rambut disanggul dan berhias bunga melati yang amat banyak dan memakai kebaya putih berada di sela-sela pepohonan hutan. Lalu tidak sengaja mereka bertiga menemukan sebuah tusuk konde yang sangat antik dan mereka mencium bau bunga melati yang sangat khas, kak Anis terlihat sangat takut dan Lia bertanya kepada kak Anis ada apa..? Kak Anis hanya bilang “Ayo. Kita harus cepat pergi yang jauh dari sini dan bangunkan semua orang untuk meminta pertolongan”
Mereka bertiga lari sekuat tenaga tetapi Nyai Konde terus mengejar mereka, ketika hampir sampai di tenda… Kak Anis tersandung batu dan menyuruh mereka untuk berteriak meminta tolong, dalam waktu kurang dari sepuluh menit seluruh orang menghampiri mereka bertiga dan bertanya ada apa… Kak Anis menjawab bahwa kami bertiga telah bertemu dengan Nyai konde dan dikejar olehnya. “Kak, aku juga tadi setelah Isya aku melihat seorang perempuan memakai kebaya putih di sela-sela pepohonan hutan…” Kata seorang anak laki-laki yang dikenal dapat melihat hal ghaib atau mempunyai indra keenam. “Berarti benar apa yang dikatakan kak Anis itu.” Celetuk Adel.
Malam berikutnya…
Adel terbangun karena Lia tidak ada di samping nya, lalu Adel memberitahu semua orang dan mereka langsung mencari Lia. Tiba-tiba terdengar suara Lia yang sedang bernyanyi layaknya sinden dengan sangat merdu dengan membawakan lagu yang khas dengan sinden, mereka pun langsung mencari Lia dan akhirnya menemukannya tetapi tingkah laku Lia sangatlah berbeda.
“Lia, kenapa kamu berada disini…? Lia, ayo kita kembali ke tenda…” Kata Adel, sahabatnya. “Siapa kalian…? Kenapa kalian menggangguku…? Ini adalah daerahku…! Kenapa kalian tidak meminta izin ku dulu, jika kalian akan menggunakan daerah ku untuk sementara…!? Dan kenapa kalian mengambil salah satu tusuk Konde ku…? Dan inilah akibatnya jika kalian tidak meminta izin terlebih dahulu kepadaku…!!” Kata Lia, tetapi jiwa yang ada dalam raga Lia bukanlah Lia. “Apakah engkau adalah Nyai Konde…?” Tanya kak Anis, “Benar… Memang benar… Aku adalah Nyai Konde yang selama ini mendiami daerah ini.” Ternyata benar dugaan kak Anis bahwa jiwa yang melekat pada raga Lia bukanlah Lia tetapi Nyai Konde. “Te… te… tetapi siapa yang mengambil tusuk kondemu Nyai…? Bukan kah kita me… meninggalkannya…!?” tanya Adel dengan tergugup-gugup.
“Iya… Kau memang meninggalkan tusuk kondeku, tetapi ada di antara kalian yang mengambil tusuk kondeku… Jika di antara kalian tidak ada yang mengaku mengambil tusuk kondeku aku akan menghabisi nyawa teman kalian ini…” Kata jiwa Nyai Konde yang masih berada di tubuh Lia. “Sebelum nya… a… a… aku ingin meminta maaf kepada seluruh orang… Nyai Konde aku i… ingin meminta maaf bahwa yang mengambil tusuk kondemu adalah aku… Tolong jangan habisi nyawa temanku… Dia tidak bersalah a… a… akulah yang bersalah, tolonglah keluar dari raga Lia… Ini tu… tusuk kondemu…” Ternyata Nitalah yang mengambil tusuk konde milik Nyai Konde dan Akhirnya Nita mengaku bersalah dan meminta maaf ke semua orang termasuk Nyai Konde, “Sebelum aku keluar dari raga teman kalian ini aku ingin meminta tolong kepada kalian untuk menemukan jasadku yang telah di buang oleh sahabatku sendiri yaitu Nyai Sagara dia iri dengan suaraku yang merdu dia mengutus seluruh isi lautan untuk membunuhku, tetapi Nyai Melati menolongku sampai bertahun-tahun dan akhirnya aku pun terbunuh oleh Nyai Sagara sendiri dan tolong ucapkan kepada Nyai Melati aku sangat berterima kasih kepadanya. Tolong lah aku agar jiwa ku tenang di alam sana.” Ucap Nyai Konde. “Tetapi dimana kita tau lokasi tubuh Nyai Konde…?” Tanya Windi, “Tanyakanlah pada Nyai Melati yang biasa memunculkan diri di hutan Melati sana.” Kata Nyai Konde sambil menunjuk ke arah hutan di sebelah selatan. Akhirnya jiwa Nyai Konde pun keluar dari raga Lia.
Setelah dua hari berturut-turut jasad Nyai Konde di temukan di dalam sebuah goa yang sudah tua. Tanpa disengaja Adel menoleh ke arah pepohonan yang berada disekitar goa, terlihat sosok Nyai Konde yang sedang tersenyum bahagia dan melambaikan tangan tanda perpisahan kepada Adel. Akhirnya misteri tentang Nyai Konde pun berakhir.

0 komentar:
Post a Comment