MIMPI MENJADI NYATA
Malam itu, terlihat seorang wanita sedang menonton televisi. Namanya Ryani. Setoples cemilan selalu setia menemaninya. Ia di rumah seorang diri, kedua orangtuanya telah pergi ke luar kota sejak tadi pagi. Matanya masih saja berkonsentrasi memandangi layar televisi itu. Tiba-tiba, terdengar suara seseorang menggedor-gedor pintu rumahnya. Ryani berjalan sambil bergumam, “Siapa yang menggedor pintu malam-malam?”. Dibukanya pintu itu, tak ada orang. Kakinya melangkah ke luar rumah, guna memastikan sekali lagi penglihatannya itu benar atau salah. Dan rupanya benar, tidak ada orang sama sekali.
Kembali ia masuk dan menutup pintu. Belum sempat ia beranjak dari tempatnya menutup pintu, didapati televisinya telah mati. Entah siapa yang mematikan. Padahal, ia masih ingat benar bahwa televisi masih menyala ketika ia ke luar rumah. Ia berjalan mendekati televisi itu. Ia baru mengingat sesuatu. Mimpinya semalam sama persis seperti apa yang dialaminya saat ini. Ryani menebak, sebentar lagi listrik akan padam. Dan dalam sekejap, hal itu benar terjadi. Tangan Ryani mulai merogoh sakunya, mengambil handphone untuk alat penerang. Ia berjalan menuju dapur, mencari sebuah lilin. Masih sibuk tangannya mengobrak-abrik beberapa tempat di dapur, namun lilin tak kunjung ditemukan. Lagi-lagi terdengar suara sesuatu, seperti benda yang diseret. Kali ini, Ryani benar-benar tak menginginkan mimpinya menjadi nyata. Suara itu masih terus terdengar. Meskipun seluruh bulu kuduk berdiri, Ryani memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, arah suara itu berasal. Ryani berlari ke luar dan menjerit ketakutan, tatkala melihat seorang kakek menyeret sebuah cangkul. Anehnya, kakek itu terus mengikuti kemanapun Ryani pergi.
Ryani masih berlari sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan apakah kakek itu masih mengikutinya. Tiba-tiba, Ryani terjatuh. Ia tersandung akar sebuah pohon di depan rumahnya. Sementara itu, sang kakek semakin mendekati Ryani, sambil seolah-olah akan mencangkul Ryani. Ryani menangis dan menjerit sejadi-jadinya. Matanya terpejam, tak kuat melihat kakek itu. Tiba-tiba…
“Surprise!!!” kata-kata itu terdengar begitu jelas di telinga Ryani. Ia memberanikan diri membuka matanya, terdapat sekerumpulan orang di hadapannya, termasuk kedua orangtuanya. Banyak dari mereka yang membawakan kado. Ibunya tersenyum sambil membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin angka 20 yang menyala. Rupanya, ini adalah ide sahabat-sahabatnya. Dan kakek itu adalah kakek dari salah seorang sahabatnya. Raut wajah Ryani yang semula tampak ketakutan, kini mulai tersenyum begitu manis.


0 komentar:
Post a Comment