MIMPI BURUK DAN ZOMBI
Cerita ini sesuai dengan mimpiku pada suatu malam. Jalan ceritanya hampir sama seperti halnya ‘HIGH SCHOOL OF THE DEAD’ jika kalian tahu atau setidaknya seperti ‘RESIDENT EVIL’ yang episode manapun boleh karena inti ceritanya sama saja. Semuanya bermula pada jam 23.06 untuk mulai memejamkan mata lalu semuanya terjadi di alam mimpi.
Aku bersama pacarku mengadakan liburan ke suatu tempat dan entah kenapa kami memilih kutub selatan sebagai tempat liburan yang menyenangkan. Entah kenapa juga pacarku berasal dari sebuah karakter dalam komik. Namanya oska bertubuh kecil imut nan manis tapi ia sungguh kuat. Mungkin saja ia dapat sabuk hitam dalam karate, yah mungkin saja. Ia selalu melindungiku dari segala marabahaya dan entah kenapa aku sebagai pria malah lebih lemah dari pacarku sendiri tapi suatu waktu pacarku mengatakan begini padaku “walau kau lemah tapi kau punya hati yang kuat” aku tak menanggapinya, hanya tersipu.
“oska! setelah ini kita pulang yuk” “kenapa?” “bukannya sebentar lagi udah pada masuk sekolah ya?” “oh ya ya aku lupa sayang! he he”. seketika itu juga kami segera pulang. “eh, habis ini main ke rumah kamu yuk!” ajak oska “hah? kenapa?” tanyaku heran “yaa aku bosan aja kalau gak ada kamu” “hmmmm… tapi di rumah ada ibuku” “he he he ya udah aku ngumpet dulu ya” kata oska sembari bersembunyi dan tentunya ia ahli bersembunyi karena memang tubuhnya cukup kecil.
Aku pun tak bisa mengacuhkannya dan langsung masuk ke dalam rumah “fen! tolong jaga toko ya” kata ibu dari dalam “iya bu”. langsung saja aku menuju ke dalam toko dan tanpa aku sadari oska sudah ada di sampingku “WOOAA… kau mengagetiku saja” gerutuku “he he he maaf sayang, mau gimana lagi entar ibumu tau” “oh ya, besok sudah waktunya masuk sekolah kan? apa kamu udah nyiapin semua keperluanmu oska?” tanyaku “belum he he he” kata oska sembari tersenyum, memang senyum yang indah dan dibalik senyumannya itu ia adalah cewek yang kuat “ya udah, ntar aku yang nyiapin buat kamu ya” kataku “horeee!!!” jawab oska senang sambil memelukku.
Keesokan harinya kami pergi ke sekolah sembari bergandengan tangan. Kami pun bertemu dengan teman-teman kami. Tawa canda menghiasi pertemuan pertama kami semua setelah libur panjang tapi sayangnya itu adalah terakhir kalinya kami semua bertemu. Semula langit yang cerah kini mendadak petang dan kami semua mendengar seorang siswa menjerit kesakitan dan jeritannya sangat memilukan. Sontak kami langsung mencari asal suara.
Betapa terkejutnya kami setelah melihat apa yang terjadi. Seorang siswi berlumuran darah dan penuh bekas gigitan. Seseorang lantas segera membopong jenazah siswi yang berlumuran darah itu tapi apa yang terjadi? siswi yang telah dipastikan telah mati itu berbalik menggigit leher orang yang membopongnya hingga lehernya terkoyak dan penuh darah. Semua menjerit dan berlari berhamburan setelah melihat apa yang terjadi barusan.
Aku melihat orang yang membopong itu tewas seketika namun sesaat kemudian ia bangun sebagai mayat hidup. Tubuh mereka berdua pucat mata mereka hanya melotot jalan mereka terseok dan suara mereka hanya bisa menggerutu atas kematian mereka. Beberapa saat kemudian aku dan oska mendengar jeritan-jeritan susulan dari berbagai sudut penjuru. Satu persatu teman kami sudah menjadi mayat hidup yang mengincar mangsa yang masih punya nyawa.
kami langsung sadar atas situasi yang kami hadapi saat ini. Aku heran sejak kapan di sekolahku ada preman pasar itulah yang muncul pertama kali di pikiranku begitu melihat mereka tapi mereka begitu cepat mati saat berusaha melawan ‘mereka’ alias para zombi itu. Aku segera memungut pisau mereka yang terjatuh “oska! berdirilah di belakangku… jangan pernah meninggalkanku!” kataku sembari mengacungkan pisau ke arah ‘mereka’. “apaan sih! kenapa tiba-tiba kau jadi sok kuat?” tanya oska marah. “aku… aku… aku tidak mau kehilangan kamu” “itu artinya aku yang bakal kehilangan kamu tau!” sembari marah oska maju menghadang ‘mereka’ sendirian. Aku tahu air matanya menetes dari pipinya dan itu memang dari hatinya. Aku tak bisa diam… walau aku lemah aku akan membantunya “kalau begitu… gimana kalau kita mati bersama saja?” tanyaku pada oska “kalau begitu aku senang sayang” jawab oska sembari mencium pipiku “tapi jangan sampai membebaniku ya?” kata oska “hanya kali ini aku benar-benar ingin melindungimu oska!” kataku “he he he… terima kasih sayang”.
Satu demi satu kami berhasil merobohkan ‘mereka’ tapi seperti mati 1 tumbuh seribu ‘mereka’ benar-benar tak ada habisnya. Saat mereka berusaha mendekatiku atau pacarku aku segera menebas leher mereka dengan pisau. Aku tidak tahu ‘mereka’ masih bergerak atau tidak, aku tidak peduli yang penting aku bisa menyelamatkan oska pacarku orang yang paling aku cintai itu.
“sayang! apa aku bisa minta sedikit bantuanmu?” tanya oska yang sembari masih bertarung melawan ‘mereka’. “apa?” “tolong kau buka gerbang sebelah sana agar para murid yang selamat bisa menuju mobil evakuasi dan tunggu aku di sana sementara aku akan menahan mereka” “gila! bagaimana denganmu oska?” tanyaku yang sedikit tak terima. “kalau yang menahan ‘mereka’ adalah orang lemah sepertimu maka seluruh siswa akan mati sia-sia, apa kau mau?” kawab oska dengan tatapan serius “hmmm… baiklah tapi kau harus berjanji untuk kembali dengan selamat oska!” “he-em” 1 anggukan kecil dari kepalanya dan langsung menerjang ‘mereka’ kembali dengan sekuat tenaga.
Aku tak mau mengecewakan permintaan oska dan aku pun segera membuka gerbang dan memandu teman-temanku yang masih hidup menuju mobil evakuasi. Saat dipastikan semua yang selamat telah masuk aku sendiri masih di luar menunggu oska sementara yang lain meneriaku untuk segera masuk “DIIAAAM!!! SEHARUSNYA KALIAN BERTERIMA KASIH… KALAU DIA TIDAK ADA KALIAN SEMUA TIDAK AKAN SELAMAT TAUUU!!”. Semua yang mendengar itu hanya bisa membisu. Sementara aku cemas menunggu tiba-tiba aku melihat sosok oska dari sudut tembok dan betapa senang hatiku melihatnya. Saat aku menghampirinya aku sangat terkejut tubuh oska yang kecil itu penuh luka dan bekas gigitan yang banyak “OSSKAAA!!!”. Segera aku menghampiri tubuh yang lemah itu dan merangkulnya “kenapa oska? kenapa? bukannya kau sudah berjanji untuk kembali dengan dengan selamat?” tanyaku sambil menahan isak tangis. “maaf ya sayang… aku gak bisa menepati janjiku… oh ya, kamu harus cepat pergi sebelum aku berubah jadi zombi dan menyerangmu… uhuk” kata oska sembari menahan batuk darahnya. “kalau begitu kita mati bersama saja” kataku “jangan bodoh… uhuk… kau harus tetap hidup… uhuk… kalau kau memang bersalah atas apa yang terjadi… padaku… uhuk… balaskan saja dendamku… uhuk… uhuk… tapi kau harus tetap hidup…”.
Aku hanya bisa menahan tangisku karena ini adalah saat terakhirku bersamanya “oh ya sayang… uhuk.. uhuk.. .sebelum aku… pergi… aku mau bilang… terima kasih udah mau… melindungiku… kau kuat kok… dan… terima kasih udah mau mencintaiku… dan menemaniku….. karena kau adalah cinta pertamaku…” kalimat itu pun selesai dan oska… kini hanya tinggal nama. Aku menjerit keras atas kepergiannya tapi, sebelum sempat menyeka air mata oska tiba-tiba mencengkramku dan hendak menggigitku “maafkan aku oska” bisikku dalam hati seketika itu juga aku menusuk kepalanya hingga tembus menuju otak dengan pisau lalu aku mencabutnya kembali.
Dengan langkah gontai aku segera meninggalkan tubuh perempuan yang aku cintai itu. Aku sadar bila tak segera pergi dari situ maka mereka akan segera keluar dari sekolah, maka dengan berat hati aku segera masuk ke dalam mobil evakuasi. Roda mobil pun berjalan begitu juga roda ingatanku juga berputar saat-saat kenangan indah bersama oska. Aku melihat tubuh kecil itu yang makin jauh karena semakin jauh jarak kami sampai benar-benar hilang raganya dari pandanganku… sampai ayahku membangunkanku dari tidur untuk segera sholat shubuh.
sekian!


0 komentar:
Post a Comment