JAKA TINGKIR
Jaka Tingkir bangun dari tidurnya, ya segera keluar dari rumah untuk menemui Pak Karto yang mengizinkan Jaka Tingkir menginap di rumahnya.
"Pak Karto, aku izin pulang ke rumah. Terima kasih atas kebaikan Pak Karto yang membolehkan aku tinggal sementara waktu di rumah Bapak."
"Iya...Den..Jaka Tingkir, tapi Pak Karto ingatan hati-hati di jalan menuju rumah ya Den!"
"Iya.... Pak!"
Jaka Tingkir pun meninggalkan Pak Karto yang sibuk dengan urusannya mengatur kayu bakar yang ia ambil dari hutan. Jaka Tingkir pun menemui Duloh yang sedang mancing di pinggir sungai.
"Duloh!" panggilan Jaka Tingkir.
"Iya, Kang," saut Duloh.
"Duloh.... Akan pamit pulang ke rumah. Duloh baik-baik ya sama Pak Karto!"
"Iya, Kang. Untuk tanda perpisahan dan juga selalu mengingatkan pada Duloh. Ya Duloh beri buah ini!"
Jaka Tingkir pun mengambil buah tersebut yang di berikan Duloh.
"Jambu Kelutuk."
"Iya, Kang. Duloh dapet in tuh jambu dari aliran sungai."
"Ada-ada kamu, Duloh. Ya Akang terima niat baik kamu Duloh."
"Iya, Kang."
Jaka Tingkir pun meninggalkan Duloh yang asik mancing lagi di pinggir sungai. Saat perjalanan mau keluar kampung, ya Jaka Tingkir pun di hampiri oleh seorang gadis cantik.
"Akang.... Jaka Tingkir, kok pergi ya tidak bilang-bilang sama Sri, Kang!"
"Selama ini kebaikan Sri ke Akang tidak di anggap gitu."
"Maaf sekali lagi, aku tidak punya perasaan apapun kepada mu Sri?!"
"Sri mengerti."
Jaka Tingkir pun meninggalkan Sri, ya murung gitu karena perasaan ya sama Jaka Tingkir tidak terbalas. Sri pun pulang ke rumahnya. Jaka Tingkir melanjutkan perjalanannya. Ketika masuk hutan, ya tiba-tiba ada orang yang meminta pertolongan ke Jaka Tingkir....karena dirinya di aniyaya sama para penjahat. Jaka Tingkir pun bertindak gitu untuk menyelamatkan orang tersebut dan melawan 5 penjahat yang memegang pedang. Dengan jurus-jurus silat yang mempuni, ya Jaka Tingkir mengalahkan satu persatu penjahat yang bersenjatakan pedang. Pada akhirnya para penjahat yang kalah dengan Jaka Tingkir, ya segera meninggalkan tempat tersebut dengan luka dalam di dada mereka semuanya.
Jaka Tingkir punya firasat dengan Duloh, rasa khawatir pun tinggi banget jadi Jaka Tingkir pun kembali ke rumah Pak Karto. Sampai di rumah Pak Karto, ya para warga berkumpul gitu untuk menangkan Pak Karto dan sekaligus ingin menolong Duloh yang di tangkap Siluman Buaya. Jaka Tingkir pun dengan berani masuk ke sungai dan berenang ke dasar untuk menyelamatkan Duloh. Sampai di sebuah goa bawah air, yang ternyata di lindungi sihir Siluman Buaya. Jaka Tingkir mendobrak masuk dengan kemampuannya dan masuk ke dalam goa bawah air untuk bertemu dengan Siluman Buaya.
Saat itu Siluman Buaya ingin memakan Duloh. Dengan cepat Jaka Tingkir bertindak untuk menantang bertarung Siluman Buaya. Duloh pun di biarkan saja sama Siluman Buaya. Mulai bertarung Siluman Buaya menghadapi Jaka Tingkir. Pertarungan sangat sengit sekali Sampai-sampai Jaka Tingkir mengeluarkan tenaga dalamnya untuk mengalahkan Siluman Buaya. Ya Siluman Buaya pun mengeluarkan kemampuannya tenaga dalamnya juga. Terjadi juga benturan tenaga dalam yang hebay dari keduanya. Jaka Tingkir punya semangat pantang menyerah, jadi mengerjakan kekuatan tenaga dalamnya dan berhasil mengenai Siluman Buaya. Dengan cepat bergerak Jaka Tingkir sudah di depan Siluman Buaya dan menjebol tubuh Siluman Buaya dengan tinjuan penghancurnya.
Jaka Tingkir menarik tangannya dari Siluman Buaya. Ya Siluman Buaya pun jatuh ke tanah dan mati. Jaka Tingkir dan Duloh keluar dari gua bawah air, karena Siluman Buaya mati...jadi sihir pelindung goa bawah air hancur. Jaka Tingkir pun berhasil keluar dari sungai bersama Duloh. Pak Karto, ya senang anaknya Duloh selamat dan juga para warga kampung dan tidak lupa berterima kasih kepada Jaka Tingkir yang menyelamatkan Duloh dari Siluman Buaya. Jaka Tingkir pun ya meninggalkan tempat tersebut, tapi tiba-tiba penjahat yang di kalahkannya datang dengan membawa teman-temannya. Jaka Tingkir bertarung dengan para penjahat. Para penjahat pun menganiyaya para warga kampung dan juga yang mati di bunuh para penjahat. Jaka Tingkir pun mengalahkan satu persatu penjahat. Tapi ternyata Jaka Tingkir di kalahkan dengan kelicikan satu penjahat yang berpura-pura jadi warga kampung, ya Jaka Tingkir di lempar serbuk petidur....jadinya sempoyongan dan tidur, ya jatuh ke tanah. Jaka Tingkir pun di tangkap oleh para penjahat dan di bawa ke tempat markasnya. Sampai di markas penjahat. Jaka Tingkir di gantung di pohon. Saat sadar....Jaka Tingkir, ternyata dirinya terikat dan di gantung di pohon. Toing, yang ingin nolong Jaka Tingkir, yang di tangkap para penjahat....ya mendatangi markas para penjahat. Ya diam-diam menolong Jaka Tingkir. Toing berhasil membebaskan Jaka Tingkir dari ikatan yang di gantung di pohon. Tapi naas, Toing mati di bunuh penjahat. Jaka Tingkir marah karena temannya mati dan segera mengajar penjahat yang membunuh temannya. Penjahat tersebut di buat oleh Jaka Tingkir tidak bisa bergerak lagi, tapi tidak mati....cuma pingsan saja. Para penjahat pun datang menyerang Jaka Tingkir. Dengan berani Jaka Tingkir mengalahkan satu persatu para penjahat, ya sampai babak belur dan pingsan.
Pemimpin penjahat yang berada di atas kuda, yang di kenal dengan Codet...ya sambil megang celurit sebagai senjata andalannya.
"Jaka Tingkir. Kau telah mengalahkan semua anak buah ku. Sekarang had api aku!"
"Aku....tidak gentar menghadapi mu," kata Jaka Tingkir dengan berani benar.
Codet pun melompat dari kuda dan segera menyerang Jaka Tingkir dengan celurit. Dengan sigap Jaka Tingkir, ya mengindari serangan Codet yang berbahaya dengan senjata celuritnya. Pertarungan sangat sengit antara Codet dan Jaka Tingkir. Sampai Codet mengeluarkan tenaga dalam yang hebat banget. Jaka Tingkir pun mengeluarkan tenaga dalam juga. Terjadi benturan tenaga dalam yang sangat hebat di keduanya. Jaka Tingkir, ya meningkatkan kemampuan tenaga dalemnya dan juga bergerak maju menuju Codet. Sampai akhirnya Codet terkena tinjuan Jaka Tingkir di dadanya, yang di aliri tenaga dalem. Codet muntah darah. Ya masih menyerang Jaka Tingkir dengan celuritnya, tapi Jaka Tingkir menghindar. Codet yang kalah telak, ya lebih baik meninggalkan pertarungan dengan segera naik kudanya.
Jaka Tingkir membiarkan Codet pergi, ya lebih baik mengucurkan Toing. Setelah itu Jaka Tingkir pun meninggalkan tempat tersebut menuju rumahnya.


0 komentar:
Post a Comment